Pendampingan usaha untuk membantu wirausaha transgender berkembang di masa pandemi

Mayoritas transgender mengandalkan mata pencarian mereka dengan berwirausaha. Namun, pandemi COVID-19 telah menghantam usaha kecil dan menengah. Program pendampingan usaha ILO membantu wirausaha transgender bertahan dari pandemi.

28 Mei 2021

Content also available in: English
Untuk membantu transgender bertahan hidup dari pandemi, ILO bekerja sama dengan dua organisasi pendampingan usaha, Action Coach beserta Business dan Export Development Organization (BEDO), menyeleksi 12 orang transgender untuk berpartisipasi dalam pendampingan usaha intensif selama tiga bulan sejak Agustus hingga November. Pendampingan usaha ini bertujuan untuk memberikan teknik dan strategi usaha baru dalam membantu mengkaji usaha mereka, menyusun priorias serta memperkuat dan meningkatkan usaha peserta.

Kami berharap para wirausaha yang berpartisipasi dapat mendapatkan masukan bisnis yang inovataif dan berbagi teknik dan strategi bisnis baru yang mereka pelajari selama program pelatihan kepada komunitas mereka dan membantu sesama wirausaha untuk meningkatkan usaha."

Early Dewi Nuriana, Staf ILO mengenai HIV dan AIDS
Early Dewi Nuriana, Staf ILO mengenai HIV dan AIDS, menjelaskan pendampingan usaha ini merupakan praktik umum bagi para wirausaha untuk meningkatkan strategi dan pengelolaan usaha mereka. Namun, ini bukan merupakan praktik yang dapat dengan mudah dinikmati oleh para wirausaha transgender. Selain faktor biaya yang besar, mereka juga cenderung melakukan usaha dalam komunitas mereka sendiri dan tidak memilik akses untuk berinteraksi dengan para wirusaha lainnya.

“Melalui program percontohan untuk pendampingan usaha ini, kami berharap para wirausaha yang berpartisipasi dapat mendapatkan masukan bisnis yang inovataif dan berbagi teknik dan strategi bisnis baru yang mereka pelajari selama program pelatihan kepada komunitas mereka dan membantu sesama wirausaha untuk meningkatkan usaha,” Early menambahkan.

Wirausaha yang berpartisipasi berasal dari tiga komunitas transgender di tiga kota, yaitu Yayasan Srikandi Pasundan di Bandung, Jawa Barat; Yayasan Kebaya di Yogyakarta; dan Yayasan Srikandi Sejati di Jakarta. Pendampingan usaha in dilakukan dengan memadukan lokakarya daring dan luring, sesi pendampingan individu dan kunjungan bisnis.

Selama pendampingan, para wirausaha yang menjadi peserta mempelajari tentang pentingnya beralih ke pemasaran digital dan daring dengan menggunakan aplikasi bisnis yang ada. Mereka juga belajar bagaimana meningkatkan nilai produk mereka, mengidentifikasi peluang bisnis baru, memperluas lingkup bisnis, meningkatkan pemasaran digital dan strategi promosi serta memiliki pemahaman yang lebih baik tentang target pelanggan.

Peningkatan dan perluasan usaha

Arumce Mariska, salah satu peserta di Yogyakarta, sebelumnya memfokuskan bisnisnya pada shibori tie dye (pewarnaan kain dengan cara diikat), memproduksi busana dan syal siap pakai. Karena pandemi, penjualannya menurun drastis. “Saya mulai kehilangan penghasilan dan mulai menggunakan tabungan untuk pengeluaran sehari-hari,” katanya.

Penjualan saya meningkat karena pelanggan cenderung memilih kain organik yang alami dan mereka juga puas dengan pengelolaan keluhan langsung di mana mereka dapat langsung berkomunikasi dengan saya terkait penggantian produk."

Arumce Mariska
Dalam pendampingan usaha ini, dia belajar untuk mengubah produknya menjadi produk premium menggunakan pewarna organik alami, bukan pewarna sintetis, untuk meningkatkan nilai produk. BEDO pun menghubungkannya dengan Terasmitra, sebuah organisasi yang mempromosikan produk alami, untuk mempelajari pewarna alami. Dia juga mengimprovisasi produknya dengan membuat tiga lapis masker kain, mengelola pembukuan, meningkatkan layanan pelanggan dan bergabung dengan pasar digital di bawah jaringan BEDO.

“Penjualan saya meningkat karena pelanggan cenderung memilih kain organik yang alami dan mereka juga puas dengan pengelolaan keluhan langsung di mana mereka dapat langsung berkomunikasi dengan saya terkait penggantian produk,” ungkapnya. Pasar digital juga membantu mengembangkan bisnisnya dengan menjangkau lebih banyak pelanggan.

Ketika saya belajar untuk mengembangkan bisnis ke pasar digital menggunakan pelantar digital yang ada, penjualan saya meningkat secara drastis dan pelanggan saya semakin berkembang. Saya juga telah mengembangkan produk yang disesuaikan dengan permintaan pelanggan."

Balqis Calista
Sementara Balqis Calista, pemilik usaha toko daring, kini mempekerjakan dua pekerja untuk membantunya mengelola pesanan, pengemasan dan pengiriman. Dia bahkan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya agar dapat terfokus mengelola dan meningkatkan bisnis daringnya.

“Saya memulai bisnis saya pada 2018 dan pelanggan saya hanya terbatas kontak dan jejaring pribadi saya. Ketika saya belajar untuk mengembangkan bisnis ke pasar digital menggunakan pelantar digital yang ada, penjualan saya meningkat secara drastis dan pelanggan saya semakin berkembang. Saya juga telah mengembangkan produk yang disesuaikan dengan permintaan pelanggan,” dia mengisahkan perjalanan usahanya.

“Toko Daring A&L” miliknya kini telah diikuti oleh ribuan pengikut dan masih terus berkembang. Dia juga telah menerapkan manajemen usaha yang lebih baik dengan memisahkan antara keuangan pribadi dan usaha, merinci catatan penjualan dan mengelola tinjauan keuangan bulanan.

Menciptakan lingkungan kerja yang berkelanjutan

Herman Susanto, mentor bisnis dari ACTION Coach, mengagumi tekad para peserta untuk meningkatkan usahanya agar dapat menginspirasi dan membantu sesama wirausaha dan komunitasnya dalam mengembangkan usaha dan memiliki kehidupan yang lebih baik. “Dengan kekuatan seperti ini, saya yakin dengan dukungan jangka panjang, mereka bahkan bisa berkembang menjadi wirausahawan sukses,” tegasnya.

Keterhubungan tersebut dapat menciptakan hubungan timbal balik dan lingkungan bisnis yang mendukung karena mereka dapat saling belajar, saling memanfaatkan pasar dan saling memperkuat bisnis."

Jeff Kristianto, mentor bisnis BEDO
Sementara Jeff Kristianto, mentor bisnis BEDO, menekankan pentingnya menghubungkan transgender dengan komunitas bisnis yang ada. “Keterhubungan tersebut dapat menciptakan hubungan timbal balik dan lingkungan bisnis yang mendukung karena mereka dapat saling belajar, saling memanfaatkan pasar dan saling memperkuat bisnis,” tandasnya.

Program pendampingan bisnis ini diakhiri dengan rekomendasi untuk berbagi praktik baik yang dapat direplikasi bagi komunitas transgender lainnya di provinsi lain dan untuk mendukung transgender yang berpartisipasi agar dapat menjadi teladan bisnis yang dapat menginspirasi orang lain untuk memilih wirausaha sebagai sumber pendapatan dan sebagai cara untuk mempromosikan kesetaraan peluang kerja yang setara. Rekomendasi lainnya adalah mengembangkan lebih lanjut jejaring dan lingkungan bisnis yang mendukung bagi wirausaha transgender serta melibatkan lebih banyak pesrta dari komunitas dunia usaha yang ada demi peningkatan usaha yang berkelanjutan.

Related content

Mempromosikan lingkungan bisnis yang inklusif bagi transgender Indonesia melalui pendampingan bisnis

Mempromosikan lingkungan bisnis yang inklusif bagi transgender Indonesia melalui pendampingan bisnis