Peluncuran Program SCORE Tahap II: Indonesia berkomitmen dukung UKM/IKM agar lebih produktif dan kompetitif
Usaha kecil menengah/industri kecil menengah (UKM/IKM) merupakan salah satu pilar ekonomi Indonesia di mana pada tahun 2012 UKM/IKM menyumbang 57,4 persen Produk Domestik Bruto dan berperan besar dalam mengatasi pengangguran dengan mempekerjakan 107,6 juta tenaga kerja (data Kementerian Koperasi dan UKM). Mengingat besarnya peran UKM/IKM dalam perekonomian Indonesia, maka peningkatan produktivitas dan daya saing UKM/IKM menjadi sangat penting.
26 Mei 2014
Content also available in:
English
JAKARTA (Siaran Pers Bersama): Usaha kecil menengah/industri kecil menengah (UKM/IKM) merupakan salah satu pilar ekonomi Indonesia di mana pada tahun 2012 UKM/IKM menyumbang 57,4 persen Produk Domestik Bruto dan berperan besar dalam mengatasi pengangguran dengan mempekerjakan 107,6 juta tenaga kerja (data Kementerian Koperasi dan UKM). Mengingat besarnya peran UKM/IKM dalam perekonomian Indonesia, maka peningkatan produktivitas dan daya saing UKM/IKM menjadi sangat penting.
Selain itu, UKM/IKM pun kerapkali lebih fleksibel, inovatif dan cepat tanggap dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar. Namun, bentuk usahanya yang kecil menjadikan UKM/IKM sangat rentan terhadap guncangan dari luar. Karenanya, di Indonesia, seperti juga terjadi banyak negara, UKM/IKM menghadapi banyak kesulitan dalam mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Berdasarkan keberhasilan penerapan program Kesinambungan Daya Saing dan Tanggung Jawab Perusahaan (SCORE) tahap pertama, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans), bersama dengan serikat pekerja dan organisasi pengusaha, akan meluncurkan program SCORE tahap kedua pada Senin, 26 Mei 2014, di Ruang Tridharma, Kemenakertrans, Jakarta. Didukung oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), peluncuran ini juga menandai pengadopsian program SCORE secara nasional.
Peluncuran ini akan diresmikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Peluncuran juga ditandai dengan penandatanganan deklarasi bersama oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, Ketua-ketua Konfederasi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Nasional, dan disaksikan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Heinz Walker-Nederkoorn dan Direktur ILO untuk Indonesia, Peter van Rooij.
“UKM/IKM memainkan peran penting di Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja serta membantu perekonomian daerah dan nasional. Karenanya, melalui program SCORE tahap kedua ini, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan pekerja dan pengusaha serta ILO guna memastikan terbentuknya UKM/IKM yang lebih baik, produktif, dan kompetitif yang akan mengarah pada produktivitas dan kualitas yang lebih baik dan demi menuju Indonesia yang lebih baik,” kata Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Program SCORE merupakan program global yang awalnya dirancang oleh ILO dan didanai Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) dan Badan untuk Kerjasama Pembangunan Nowergia (NORAD) serta didukung dan diimplementasikan di Indonesia melalui kerjasama tripartit antara Kemnakertrans, Apindo dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh nasional dan ILO. Program SCORE dirancang untuk membantu UKM/IKM di dunia, termasuk di Indonesia, melalui peningkatan mutu dan produktivitas, peningkatan kondisi kerja yang sehat dan aman, pengurangan jejak kaki lingkungan (environmental footprints) serta penguatan hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja. Program ini secara khusus memperkenalkan UKM/IKM pada peningkatan produktivitas melalui peningkatan kerjasama dan komunikasi antara pengusaha dan pekerja.
”Pada tahap dua ini, kerjasama program SCORE akan diperluas kepada para pemangku kepentingan lainnya seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian Dalam Negeri,” demikian Menteri Muhaimin menambahkan.
Disasarkan pada UKM dengan 30-250 pekerja dari berbagai sektor, tahap pertama program SCORE diluncurkan pada tahun 2010 selama tiga tahun meliputi pembelajaran dan pengimplementasian lima modul SCORE yakni kerjasama di tempat kerja, manajemen kualitas, produksi bersih, sumber daya manusian dan kesehatan dan keselamatan kerja. Program tahap pertama ini telah menjangkau 91 UKM/IKM di enam provinsi (DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur dan Lampung).
Perusahaan-perusahaan ini merasakan terjadinya peningkatan produktivitas, antara lain kondisi kerja yang lebih baik, dan membaiknya komunikasi antara manajemen dan pekerja. Perusahaan-perusahaan pun memperlihatkan penurunan jumlah pengerjaan ulang dan pengembalian produk. Bahkan lima perusahaan SCORE telah dianugerahi penghargaan Paramakarya—sebuah penghargaan yang diberikan Pemerintah Indonesia bagi perusahaan dengan produktivitas tertinggi.
”Tiga bulan setelah mengikuti program pelatihan SCORE, kami dapat memperluas pangsa pasar dan menguasai pasar lokal berkat peningkatan produktivitas kami,” kata Niko Sugiharto, Direktur CV ATS di Makassar yang menjadi salah satu perusahaan peserta SCORE. CV ATS dianugerahi penghargaan Paramakarya pada 2013.
Selanjutnya, evaluasi pelaksanaan program SCORE tahap pertama (2010 – 2013) memperlihatkan bahwa pelaksanaan 5S (sebuah metodologi kerja dan usaha produktif: Sisih, Susun, Sasap, Soloh dan Suluh) di perusahaan-perusahaan peserta meningkat dari 4 persen menjadi 88 persen, kebijakan kualitas meningkat dari 27 persen menjadi 41 persen, 56 persen perusahaan telah berhasil mengurangi barang rusak dan sekitar 40 persen perusahan berhasil mengurangi penggunaan energi, bahan mentah dan limbah.
Direktur ILO untuk Indonesia, Peter van Rooij, mengatakan bahwa UKM/IKM merupakan kunci untuk menciptakan dan mengembangkan pekerjaan yang layak bagi semua. “Belajar dari keberhasilan pelaksanaan program SCORE, ILO sangat mendukung keberlanjutan dan pengadopsian program SCORE di Indonesia. Melalui program SCORE dan modul-modulnya, ILO terus mendukung pengembangan UKM/IKM yang akan membantu UKM/IKM menjadi lebih berdaya saing di pasar global dan domestik.”
“Kunci pembangunan ekonomi berkelanjutan yang secara efektif dapat menurunkan kemiskinan terletak pada UKM yang berhasil dan berdaya saing tinggi. Karenanya, Swiss dan Sekretariat Negara Swiss Bidang Perekonomian sangat mendukung inisiatif-inisiatif yang bertujuan meningkatkan daya saing dan produktivitas UKM. Kami percaya UKM dapat menjadi lebih kompetitif dan produktif di pasar nasional dan global sehingga dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya mata rantai nilai global yang pada gilirannya dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kondisi hubungan industrial,” ujar Martin Stottele, Kepala Kerjasama Pembangunan Ekonomi (SECO).
Indonesia terpilih menjadi salah satu dari delapan negara selain India, China, Afrika Selatan, Ghana, Vietnam, Kolumbia dan Peru untuk menerapkan program SCORE. Lebih dari 60 persen pekerja Indonesia bekerja di UKM. Karenanya, kunci dari pembangunan ekonomi yang berkelanjutan yang mengarah pada pengurangan kemiskinan di negara ini terletak pada UKM yang berhasil dan berdaya saing.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Januar Rustandie
Program Manajer SCORE
Tel. +6221 391 3112 ext. 150
Email
Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115
Email
Selain itu, UKM/IKM pun kerapkali lebih fleksibel, inovatif dan cepat tanggap dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar. Namun, bentuk usahanya yang kecil menjadikan UKM/IKM sangat rentan terhadap guncangan dari luar. Karenanya, di Indonesia, seperti juga terjadi banyak negara, UKM/IKM menghadapi banyak kesulitan dalam mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Berdasarkan keberhasilan penerapan program Kesinambungan Daya Saing dan Tanggung Jawab Perusahaan (SCORE) tahap pertama, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans), bersama dengan serikat pekerja dan organisasi pengusaha, akan meluncurkan program SCORE tahap kedua pada Senin, 26 Mei 2014, di Ruang Tridharma, Kemenakertrans, Jakarta. Didukung oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), peluncuran ini juga menandai pengadopsian program SCORE secara nasional.
Peluncuran ini akan diresmikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Peluncuran juga ditandai dengan penandatanganan deklarasi bersama oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, Ketua-ketua Konfederasi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Nasional, dan disaksikan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Heinz Walker-Nederkoorn dan Direktur ILO untuk Indonesia, Peter van Rooij.
“UKM/IKM memainkan peran penting di Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja serta membantu perekonomian daerah dan nasional. Karenanya, melalui program SCORE tahap kedua ini, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan pekerja dan pengusaha serta ILO guna memastikan terbentuknya UKM/IKM yang lebih baik, produktif, dan kompetitif yang akan mengarah pada produktivitas dan kualitas yang lebih baik dan demi menuju Indonesia yang lebih baik,” kata Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Program SCORE merupakan program global yang awalnya dirancang oleh ILO dan didanai Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) dan Badan untuk Kerjasama Pembangunan Nowergia (NORAD) serta didukung dan diimplementasikan di Indonesia melalui kerjasama tripartit antara Kemnakertrans, Apindo dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh nasional dan ILO. Program SCORE dirancang untuk membantu UKM/IKM di dunia, termasuk di Indonesia, melalui peningkatan mutu dan produktivitas, peningkatan kondisi kerja yang sehat dan aman, pengurangan jejak kaki lingkungan (environmental footprints) serta penguatan hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja. Program ini secara khusus memperkenalkan UKM/IKM pada peningkatan produktivitas melalui peningkatan kerjasama dan komunikasi antara pengusaha dan pekerja.
”Pada tahap dua ini, kerjasama program SCORE akan diperluas kepada para pemangku kepentingan lainnya seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian Dalam Negeri,” demikian Menteri Muhaimin menambahkan.
Disasarkan pada UKM dengan 30-250 pekerja dari berbagai sektor, tahap pertama program SCORE diluncurkan pada tahun 2010 selama tiga tahun meliputi pembelajaran dan pengimplementasian lima modul SCORE yakni kerjasama di tempat kerja, manajemen kualitas, produksi bersih, sumber daya manusian dan kesehatan dan keselamatan kerja. Program tahap pertama ini telah menjangkau 91 UKM/IKM di enam provinsi (DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur dan Lampung).
Perusahaan-perusahaan ini merasakan terjadinya peningkatan produktivitas, antara lain kondisi kerja yang lebih baik, dan membaiknya komunikasi antara manajemen dan pekerja. Perusahaan-perusahaan pun memperlihatkan penurunan jumlah pengerjaan ulang dan pengembalian produk. Bahkan lima perusahaan SCORE telah dianugerahi penghargaan Paramakarya—sebuah penghargaan yang diberikan Pemerintah Indonesia bagi perusahaan dengan produktivitas tertinggi.
”Tiga bulan setelah mengikuti program pelatihan SCORE, kami dapat memperluas pangsa pasar dan menguasai pasar lokal berkat peningkatan produktivitas kami,” kata Niko Sugiharto, Direktur CV ATS di Makassar yang menjadi salah satu perusahaan peserta SCORE. CV ATS dianugerahi penghargaan Paramakarya pada 2013.
Selanjutnya, evaluasi pelaksanaan program SCORE tahap pertama (2010 – 2013) memperlihatkan bahwa pelaksanaan 5S (sebuah metodologi kerja dan usaha produktif: Sisih, Susun, Sasap, Soloh dan Suluh) di perusahaan-perusahaan peserta meningkat dari 4 persen menjadi 88 persen, kebijakan kualitas meningkat dari 27 persen menjadi 41 persen, 56 persen perusahaan telah berhasil mengurangi barang rusak dan sekitar 40 persen perusahan berhasil mengurangi penggunaan energi, bahan mentah dan limbah.
Direktur ILO untuk Indonesia, Peter van Rooij, mengatakan bahwa UKM/IKM merupakan kunci untuk menciptakan dan mengembangkan pekerjaan yang layak bagi semua. “Belajar dari keberhasilan pelaksanaan program SCORE, ILO sangat mendukung keberlanjutan dan pengadopsian program SCORE di Indonesia. Melalui program SCORE dan modul-modulnya, ILO terus mendukung pengembangan UKM/IKM yang akan membantu UKM/IKM menjadi lebih berdaya saing di pasar global dan domestik.”
“Kunci pembangunan ekonomi berkelanjutan yang secara efektif dapat menurunkan kemiskinan terletak pada UKM yang berhasil dan berdaya saing tinggi. Karenanya, Swiss dan Sekretariat Negara Swiss Bidang Perekonomian sangat mendukung inisiatif-inisiatif yang bertujuan meningkatkan daya saing dan produktivitas UKM. Kami percaya UKM dapat menjadi lebih kompetitif dan produktif di pasar nasional dan global sehingga dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya mata rantai nilai global yang pada gilirannya dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kondisi hubungan industrial,” ujar Martin Stottele, Kepala Kerjasama Pembangunan Ekonomi (SECO).
Indonesia terpilih menjadi salah satu dari delapan negara selain India, China, Afrika Selatan, Ghana, Vietnam, Kolumbia dan Peru untuk menerapkan program SCORE. Lebih dari 60 persen pekerja Indonesia bekerja di UKM. Karenanya, kunci dari pembangunan ekonomi yang berkelanjutan yang mengarah pada pengurangan kemiskinan di negara ini terletak pada UKM yang berhasil dan berdaya saing.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Januar Rustandie
Program Manajer SCORE
Tel. +6221 391 3112 ext. 150
Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115