Mitra nasional adopsi manual pelatihan ILO tentang keterampilan nonteknis dan manajemen keuangan untuk pekerja migran

Manual pelatihan program Safe and Fair ILO diadopsi oleh mitra nasional terkait untuk meningkatkan program pengembangan pendidikan dan keterampilan bagi pekerja migran Indonesia.

27 Juli 2023

Content also available in: English
Program Safe and Fair ILO di Indonesia sangat mendukung dan menghargai inisiatif yang diambil oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk memanfaatkan dan menerapkan manual pelatihan ILO tentang Migrasi Responsif Gender dan Perencanaan Keuangan untuk Meningkatkan Keterampilan Nonteknis dan Pemberdayaan Ekonomi Pekerja Migran Perempuan di ASEAN.

Salah satu pelatihan yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan menerapkan manual pelatihan ILO tentang Migrasi Responsif Gender dan Perencanaan Keuangan untuk Meningkatkan Keterampilan Nonteknis dan Pemberdayaan Ekonomi Pekerja Migran Perempuan di ASEAN. (c) ILO Mengingat pentingnya pengelolaan keuangan yang tanggap gender dan pengembangan keterampilan nonteknis untuk pemberdayaan ekonomi dalam tata kelola migrasi tenaga kerja, sebagai bagian dari prioritas pemerintah Indonesia, KPPPA mengadopsi dan menyelenggarakan dua program pelatihan di tiga wilayah yang dikenal sebagai daerah pengirim pekerja migran Indonesia—Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 26-27 Juni, baru-baru ini di Tulungagung, Jawa Timur pada 20-21 Juli dan Semarang, Jawa Tengah untuk agenda mendatang.

Kami berharap melalui program pelatihan ini, kami tidak hanya memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan calon pekerja migran tetapi juga memperkuat kapasitas fasilitator pelatihan di balai pelatihan pemerintah dalam memberikan pelatihan dan mentransfer pengetahuan."

Prijadi Santoso, Asisten Deputi untuk Perlindungan Hak Perempuan dan Tindak Pidana Perdagangan Orang, KPPPA
Program pelatihan ini, yang difasilitasi oleh para pelatih ILO, diikuti oleh 140 peserta. Sembilan puluh persen dari mereka adalah calon pekerja migran, sedangkan sisanya adalah instruktur balai pelatihan swasta dan pejabat pemerintah.

Prijadi Santoso, Asisten Deputi untuk Perlindungan Hak Perempuan dan Tindak Pidana Perdagangan Orang, KPPPA menyatakan bahwa pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius untuk melindungi pekerja migran Indonesia dengan lebih baik dan membangun jejaring kerja sama dengan pemangku kepentingan terkait untuk mendukung upaya perlindungan yang mencakup penerapan manual pelatihan ILO.

“Kami berharap melalui program pelatihan ini, kami tidak hanya memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan calon pekerja migran tetapi juga memperkuat kapasitas fasilitator pelatihan di balai pelatihan pemerintah dalam memberikan pelatihan dan mentransfer pengetahuan. Karenanya, kami sangat menghargai pengembangan manual pelatihan yang penting ini oleh program Safe and Fair ILO dan para mitranya,” katanya.

Dengan keterampilan nonteknis yang lebih baik, pekerja migran dapat menangani berbagai tingkat keterampilan dan spesialisasi dalam sektor pekerjaan rumah tangga dengan kompleksitas terbatas seperti menyetrika dan memasak serta dengan tugas yang lebih kompleks seperti pekerjaan merawat orang yang hidup dengan penyakit dan/atau disabilitas dan orang lanjut usia."

Siti Badriyah, Manajer Program Migrant Care
Manual pelatihan ini dikembangkan bersama oleh program Safe and Fair ILO bekerja sama dengan Migrant Care dan Atikha Filipina untuk Badan Migrasi dan Pembangunan. Manual pelatihan ini menyoroti pentingnya manajemen keuangan dan peningkatan keterampilan nonteknis, selain keterampilan teknis, untuk membuat pekerja migran lebih siap mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik dan untuk meningkatkan keterampilan keuangan mereka demi mata pencarian yang berkelanjutan, terutama pada tahap repatriasi.

Siti Badriyah, Manajer Program Migrant Care, menekankan manfaat yang diperoleh para calon pekerja migran Indonesia melalui peningkatan keterampilan komunikasi dan negosiasi serta literasi keuangan yang lebih baik. “Keterampilan nonteknis adalah komponen penting dalam membangun keterampilan. Dengan keterampilan nonteknis yang lebih baik, pekerja migran dapat menangani berbagai tingkat keterampilan dan spesialisasi dalam sektor pekerjaan rumah tangga dengan kompleksitas terbatas seperti menyetrika dan memasak serta dengan tugas yang lebih kompleks seperti pekerjaan merawat orang yang hidup dengan penyakit dan/atau disabilitas dan orang lanjut usia," dia menambahkan.

Kami menyaksikan tanggapan positif untuk melembagakan dan mengadopsi manual pelatihan ke dalam standar dan kurikulum pemerintah untuk meningkatkan program pendidikan dan pelatihan bagi pekerja migran di lembaga pelatihan pemerintahan, swasta dan berbasis masyarakat."

Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Program Safe and Fair ILO
Bekerja sama dengan Migrant Care dan Atikha, program Safe and Fair ILO telah mengadakan serangkaian pelatihan untuk pelatih, yang menghasilkan lebih dari 35 pelatih yang 40 persen di antaranya adalah perempuan dari pusat pelatihan swasta dan publik, kementerian terkait dan organisasi migrasi, serta serikat pekerja dan LSM. Selain itu, kemitraan dengan pemerintah kabupaten dan Pusat Informasi Pekerja Migran di enam kabupaten di Jawa Barat, Jawa Timur dan Lampung telah mampu membangun kapasitas lebih dari 200 pekerja migran dan keluarganya melalui serangkaian program pelatihan yang dilakukan di lembaga pelatihan tingkat lokal dan komunitas.

“Melalui pendekatan proaktif yang dilakukan oleh para pelatih dari pelatihan untuk pelatih kami guna mempromosikan manual pelatihan, kami menyaksikan tanggapan positif untuk melembagakan dan mengadopsi manual pelatihan ke dalam standar dan kurikulum pemerintah untuk meningkatkan program pendidikan dan pelatihan bagi pekerja migran di lembaga pelatihan pemerintahan, swasta dan berbasis masyarakat. Untuk itu, ILO akan terus mendukung kemitraan multipihak di semua tingkatan sebagai bagian dari kontribusi pekerja migran Indonesia terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan 2030,” ujar Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Program Safe and Fair ILO.

Program Safe and Fair: Mewujudkan hak dan peluang pekerja migran perempuan di kawasan ASEAN (2018-2023) merupakan bagian dari Spotlight Initiative Uni Eropa-PBB multi-tahun untuk Menghapuskan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan. Dilaksanakan oleh ILO dan UN Women, program ini memberikan bantuan dan dukungan teknis dengan tujuan keseluruhan untuk membuat migrasi tenaga kerja aman dan adil bagi semua perempuan di kawasan ASEAN. Program ini juga berfokus pada pemberdayaan kepemimpinan, suara dan agensi melalui penguatan keterlibatan perempuan dengan pemerintah, organisasi buruh serta jaringan pekerja migran perempuan.