COVID-19: Melindungi pekerja di tempat kerja
Mewujudkan tempat kerja inklusif di masa normal baru Indonesia
Banyak penyandang disabilitas saat memasuki krisis COVID-19 telah sebelumnya mengalami pengucilan di semua bidang dunia kerja. Masa normal baru kemungkinan dapat memberikan kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan tempat kerja yang inklusif.
11 Juni 2020
Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Inklusivitas di Tempat Kerja, berpartisipasi sebagai narasumber bersama dengan Angkie Yudistia, Staf Khusus dan Juru Bicara Presiden RI tentang Masalah Sosial dan Wulan Guritno, selebriti dan pengusaha. Diskusi interaktif ini dimoderatori Adelina Simatupang, penasihat teknis untuk pekerjaan inklusif dari organisasi Humanity and Inclusion.Selama pandemi COVID-19 ini, pemerintah terfokus pada revitalisasi ekonomi dan kami mendorong masyarakat, termasuk komunitas penyandang disabilitas, untuk juga mengarah pada kewirausahaan daring."
Angkie Yudistia, Staf Khusus dan Juru Bicara Presiden RI tentang Masalah Sosial
Tendy menekankan pentingnya para pemangku kepentingan untuk memanfaatkan peluang normal baru bagi kepentingan para penyandang disabilitas dan mewujudkan tempat kerja yang inklusif di negara ini. “Dengan dimungkinkannya bekerja dari rumah sangat bermanfaat bagi para penyandang disabilitas karena mayoritas dari mereka merasa sulit atau mahal untuk bepergian ke luar rumah. Sehingga, jika pengusaha dapat mengizinkan mekanisme kerja dari rumah setelah pandemi, ini akan berpotensi membuka pasar kerja bagi para penyandang disabilitas yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan,” katanya.
Sementara itu, Angkie menyoroti semakin besarnya penggunaan teknologi dapat membuka pintu kerja yang lebih luas bagi para penyandang disabilitas. Ini juga dikaitkan dengan program pemerintah seperti program kartu pra kerja yang memberikan kesempatan untuk belajar dan mendapatkan keterampilan baru. "Selama pandemi COVID-19 ini, pemerintah terfokus pada revitalisasi ekonomi dan kami mendorong masyarakat, termasuk komunitas penyandang disabilitas, untuk juga mengarah pada kewirausahaan daring," ujarnya.jika pengusaha dapat mengizinkan mekanisme kerja dari rumah setelah pandemi, ini akan berpotensi membuka pasar kerja bagi para penyandang disabilitas yang sebelumnya mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan."
Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Inklusivitas di Tempat Kerja
Dalam hal mempekerjakan penyandang disabilitas, Wulan mengakui bahwa industri hiburan belum membuka pintu peluang. Prasangka bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan kerja yang rendah telah membangun tembok penghalang bagi penyandang disabilitas untuk memasuki industri ini. “Kuncinya adalah kita harus membangun jembatan antara penyandang disabilitas dan non-disabilitas. Kita harus menghancurkan hambatan ini dengan menyediakan lebih banyak ruang untuk berdiskusi, berkomunikasi dan berbagi pengetahuan,” ungkap Wulan.
Diskusi interaktif ini diakhiri dengan kesepakatan para panelis untuk terus mempromosikan inklusivitas dan memanfaatkan peluang dengan sebaik-baiknya demi membuka akses yang lebih besar bagi penyandang disabilitas agar mendapatkan pekerjaan. Ini juga sejalan dengan Laporan ILO tentang penyandang disabilitas yang dirilis pada awal Juni: “COVID-19 dan Dunia Kerja: Memastikan pelibatan penyandang disabilitas di semua tahapan respons”.ita harus menghancurkan hambatan ini dengan menyediakan lebih banyak ruang untuk berdiskusi, berkomunikasi dan berbagi pengetahuan."
Wulan Guritno, selebriti dan pengusaha
Laporan singkat ini menyoroti bahwa ketimpangan yang telah dirasakan oleh penyandang disabilitas sebelumnya, tentunya juga akan meningkatkan ancaman terhadap kehidupan dan mata pencarian seiring dengan hadirnya COVID-19. Namun, virus ini pun telah membuka peluang untuk terjadinya perubahan. Pascapandemi, 'normal baru' dapat menjadi "normal yang lebih baik" - di negara-negara berkembang dan maju – dengan syarat adanya keikursertaan, penghormatan terhadap pendapat, kebutuhan dan hak penyandang disabilitas secara penuh.