A man standing before backdrop

Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia 2025

Menyeduh hari esok yang lebih aman dengan memperluas perlindungan sosial bagi petani kopi Indonesia

ILO Vision Zero Fund dan Nestlé Indonesia bersama-sama mempromosikan akses yang lebih besar terhadap manfaat jaminan sosial bagi para petani kopi di Kabupaten Tanggamus, Lampung.

9 Mei 2025

Many coffee farmers in Lampung are still unaware of the social security schemes available to them as non-wage workers. 4/2025 © ILO
Content also available in: English

LAMPUNG, Indonesia (Berita ILO) - Di desa penghasil kopi di Tanjung Begelung, Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Ria Elfa Efriyani bekerja setiap hari di kebun, melakukan tugas-tugas yang menuntut fisik yang berat—mulai dari menggunakan peralatan tajam hingga mengangkat kantong kopi yang berat. Perjalanan menuju kebunnya sendiri sering kali berbahaya karena kondisi jalan yang buruk.

Kendati Ria dan anggota Kelompok Petani Kopi Perempuannya hanya mengalami cedera ringan sejauh ini, ia menyadari bahwa ada banyak petani lain di daerah sekitarnya yang mengalami kecelakaan serius, yang memaksa mereka untuk berhenti bekerja dan membuat keluarga mereka tidak memiliki penghasilan. Bagi banyak orang, kurangnya asuransi kesehatan menambah kesulitan, karena biaya pengobatan menjadi beban keuangan tambahan.

Banyak petani yang tidak mengetahui adanya program jaminan sosial yang tersedia bagi mereka sebagai pekerja bukan penerima upah... Kami berharap inisiatif ini akan meningkatkan jumlah petani yang berpartisipasi dalam program ini.

Faisal Yamani, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Pringsewu, Lampung

Pengalaman dan pengamatan Ria mencerminkan temuan survei tahun 2024 yang dilakukan oleh ILO di antara para petani kopi di Kabupaten Tanggamus. Survei tersebut mengungkapkan bahwa mayoritas petani kopi tidak memiliki asuransi kesehatan dan jaminan kecelakaan kerja. Ketiadaan perlindungan sosial ini secara signifikan melemahkan kemampuan mereka untuk mengatasi konsekuensi dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, mengakibatkan mereka dan keluarga tidak memiliki dukungan pendapatan selama masa krisis.

Untuk mempromosikan akses terhadap manfaat jaminan sosial di kalangan petani kopi, ILO Vision Zero Fund dan Nestlé Indonesia, dengan dukungan dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, menyelenggarakan acara peningkatan kesadaran selama satu hari di Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, pada 28 April. Bertepatan dengan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sedunia, acara ini bertujuan untuk menginformasikan kepada para petani tentang hak-hak mereka atas jaminan sosial kematian, kecelakaan kerja dan jaminan hari tua sebagai pekerja bukan penerima upah.

A group photo of people standing
© ILO
© ILO
Foto kelompok acara peningkatan kesadaran mengenai perlindungan sosial di Sumberejo, distrik Tanggamus, pada 28 April 2025.

Acara ini dihadiri oleh 119 peserta, termasuk petani kopi, perwakilan kelompok perempuan dan petani muda, penyedia layanan kesehatan primer, otoritas pemerintah dan pemangku kepentingan dari sektor swasta, seperti ahli agronomi Nestlé dan pengepul kopi. Anggota Kelompok Tani Perempuan Pulau Panggung juga menjadi salah satu peserta acara dan berkontribusi aktif dalam diskusi.

Faisal Yamani, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Pringsewu, Lampung, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif bersama antara ILO dan Nestlé Indonesia untuk menghubungkan BPJS Ketenagakerjaan dengan masyarakat petani, sehingga memungkinkan para petani untuk mendaftarkan diri mereka dan mendapatkan manfaat dari skema jaminan sosial yang ada.

“Banyak petani yang tidak mengetahui adanya program jaminan sosial yang tersedia bagi mereka sebagai pekerja bukan penerima upah,” kata Faisal. "Mereka juga tidak menyadari bahwa beberapa skema tersebut disubsidi oleh pemerintah, sehingga dapat diakses oleh petani miskin sekalipun. Kami berharap inisiatif ini akan meningkatkan jumlah petani yang berpartisipasi dalam program ini."

Kami bangga dapat berkolaborasi dengan ILO dan institusi pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong pendaftaran, terutama di kalangan petani perempuan yang memainkan peran penting dalam budidaya kopi.

Sufintri Rahayu, Direktur Corporate Affairs & Sustainability PT Nestlé Indonesia

Senada dengan itu, Jemmy Firmansyah, Kepala BPJS Kesehatan cabang Tanggamus, menekankan bahwa memastikan jaminan kesehatan sosial bermanfaat bagi semua orang merupakan tanggung jawab bersama, yang berakar pada semangat gotong royong. Ia menekankan pentingnya semua pemangku kepentingan—termasuk pembuat kebijakan, badan pelaksana, pemberi iuran dan individu yang diasuransikan—tetap sadar akan peran dan kewajiban masing-masing.

Per Februari 2025, data dari BPJS Ketenagakerjaan Lampung menunjukkan bahwa hanya 36,2 persen dari 150.258 pekerja di Kabupaten Tanggamus yang saat ini terdaftar dalam skema jaminan sosial ketenagakerjaan, dengan cakupan pekerja bukan penerima upah hanya sebesar 6,6 persen.

Sementara 98,4 persen penduduk di Kabupaten Tanggamus (638.652 jiwa) telah terdaftar dalam program jaminan kesehatan nasional (BPJS Kesehatan). Namun, hanya 60,1 persen dari mereka yang terdaftar secara aktif berkontribusi melalui pembayaran pribadi, kontribusi pemberi kerja atau subsidi pemerintah, dan dengan demikian memenuhi syarat untuk menerima manfaat.

A woman standing among people sitting in the meeting
© ILO
© ILO
Para peserta menyambut baik kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan perwakilan dari BPJS. 4/2025

Para peserta, menyambut baik kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan perwakilan dari BPJS, menggunakan kesempatan tersebut untuk mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasi kekhawatiran mereka. Setelah acara tersebut, para peserta dengan suara bulat menyetujui pentingnya mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja. Mereka menyatakan niat mereka untuk mendaftar dalam skema ini untuk melindungi diri mereka sendiri dari risiko kesehatan, kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Dalam sambutannya, Kristina Kurths, Manajer Proyek dari ILO Vision Zero Fund, menekankan pentingnya asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja bagi para petani yang mengalami sakit atau kecelakaan. “Dengan mendengarkan kebutuhan dan kekhawatiran petani, kita dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk mendorong penyerapan di kalangan petani dan mengatasi hambatan seperti kurangnya informasi, kesulitan pembayaran dan rendahnya kepercayaan terhadap penyedia layanan.”

"Memastikan petani kopi memiliki akses terhadap perlindungan sosial, termasuk asuransi kesehatan dan kecelakaan kerja, merupakan langkah penting dalam menciptakan komunitas pertanian yang lebih tangguh dan inklusif. Kami bangga dapat berkolaborasi dengan ILO dan institusi pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong pendaftaran, terutama di kalangan petani perempuan yang memainkan peran penting dalam budidaya kopi," pungkas Sufintri Rahayu, Direktur Corporate Affairs & Sustainability PT Nestlé Indonesia.

Berdasarkan hasil positif dari kegiatan peningkatan kesadaran ini, ILO akan terus bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan serta Nestlé, untuk memperluas cakupan jaminan sosial di kalangan petani kopi di Kabupaten Tanggamus.

Related content

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
a coffee farmer harvesting coffee beans in Vietnam

Vision Zero Fund

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia

Relevant projects

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
a coffee farmer harvesting coffee beans in Vietnam

Vision Zero Fund

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia