Menuju pariwisata berkelanjutan dan inklusif di Sulawesi Utara

ILO mendukung transisi sektor pariwisata yang adil di Sulawesi Utara, Indonesia, yang terkenal dengan kekayaan keanekaragaman hayati, kelestarian flora dan fauna, menuju pariwisata berkelanjutan dan inklusif melalui dialog sosial.

4 September 2023

Content also available in: English
Dikenal sebagai provinsi dengan kekayaan lestari keanekaragaman hayati flora dan fauna, baik daratan maupun lautan, Sulawesi Utara (Sulut) merupakan wilayah dengan endemisitas tertinggi di dunia. Tingkat endemisitas mamalia 60 persen, burung 36 persen dan 28 persen untuk reptil. Karenanya, untuk membangun komitmen publik dalam mengembangkan perekonomian yang berkelanjutan dan inklusif di provinsi ini, ILO bekerja sama dengan Forum Lembaga Pelatihan Vokasi (Forlat), sebuah forum nasional untuk pertukaran informasi antar pusat pelatihan vokasi di Indonesia, mengadakan dialog tripartit satu hari pada 29 Agustus di Manado, Sulut.

Barisan pohon bakau di Desa Tiwoho terlihat dengan latar belakang Gunung Tumpa di Sulawesi Utara, Indonesia. ©ILO Dialog tersebut dihadiri sekitar 55 peserta yang berasal dari kementerian terkait, organisasi pengusaha, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil dan komunitas lokal. Dialog tersebut bertujuan untuk meningkatkan komitmen pemangku kepentingan terhadap pariwisata berkelanjutan dan inklusif. Dialog tersebut juga menandai acara pendahuluan Forum Regional untuk Pekerjaan Hijau di Asia Tenggara bertajuk “Transisi menuju Ekonomi Hijau dan Biru untuk Negara Anggota ASEAN: Belajar dari Sulawesi Utara” yang akan dilaksanakan pada tanggal 26-28 September di Manado .

Banyak lapangan kerja dan peluang ekonomi yang bisa dikembangkan tanpa membahayakan lingkungan dan keberagaman hayati. Kerajinan tangan, produk paket wisata dan pertunjukan serta pagelaran seni dan budaya hanyalah sebagian dari peluang yang bisa kita jajaki dan perluas."

Dr. Johny Tasirin, dosen senior Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT)
Dr. Johny Tasirin, dosen senior Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), memaparkan temuan-temuan penting dari survei terbarunya. Sebagai seorang penggiat konservasi, ia menyoroti pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati di Provinsi Sulawesi Utara untuk penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan berkelanjutan melalui sektor pariwisata.

“Banyak lapangan kerja dan peluang ekonomi yang bisa dikembangkan tanpa membahayakan lingkungan dan keberagaman hayati. Kerajinan tangan, produk paket wisata dan pertunjukan serta pagelaran seni dan budaya hanyalah sebagian dari peluang yang bisa kita jajaki dan perluas,” ujarnya.

Sementara itu, Dani Kaurou, Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Kawasan Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi (Bappeda) Provinsi Sulawesi Utara, memaparkan program pembangunan jangka menengah dan pencapaiannya untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ia juga menunjukkan keterkaitan pencapaian tersebut dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 8 terkait Pertumbuhan Ekonomi dan Pekerjaan yang Layak serta Tujuan 13 tentang Perubahan Iklim.

Untuk menjamin keberlanjutan sektor pariwisata, kita perlu mempertimbangkan kapasitas pelaksana dari tujuan pariwisata, kesadaran komunitas untuk melestarikan lingkungan yang menerima manfaat secara ekonomi demi pelestarian lingkungan. Untuk ini dialog sosial antara berbagai pemangku kepentingan menjadi krusial."

Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Pengembangan Usaha dan Ketenagakerjaan
Dalam sesi lokakarya, para peserta mengidentifikasi berbagai tantangan di sektor pariwisata Provinsi Sulut. Mereka bekerja sama untuk memprioritaskan tiga bidang aksi strategis: pengelolaan limbah, mekanisme kerja sama lembaga pariwisata, serta komunikasi dan publikasi. Mereka juga menyoroti pentingnya penguatan koordinasi, peraturan kebijakan yang relevan, pemberdayaan sumber daya manusia serta anggaran dan infrastruktur.

Para peserta juga menekankan perlunya pendekatan komprehensif dalam pengelolaan limbah di tingkat masyarakat dan perlunya koordinasi dan konsolidasi yang kuat antar pemangku kepentingan pariwisata di semua tingkatan mulai dari tingkat nasional hingga tingkat desa. Materi dan diseminasi informasi yang kreatif dan inovatif diidentifikasi sebagai kebutuhan penting untuk mempromosikan destinasi pariwisata yang berkelanjutan secara luas. Oleh karena itu, upaya bersama antara perguruan tinggi dan desa sangat dianjurkan. Selain itu, untuk menjamin inklusivitas, keterlibatan kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas juga diprioritaskan.

Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Pengembangan Usaha dan Ketenagakerjaan, menyatakan bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi paling dinamis dan tumbuh paling cepat saat ini. “Untuk menjamin keberlanjutan sektor pariwisata, kita perlu mempertimbangkan kapasitas pelaksana dari tujuan pariwisata, kesadaran komunitas untuk melestarikan lingkungan yang menerima manfaat secara ekonomi demi pelestarian lingkungan. Untuk ini dialog sosial antara berbagai pemangku kepentingan menjadi krusial,” pungkasnya.

Related content

Sulawesi Utara bergerak menuju pariwisata hijau dan biru yang berkelanjutan dan inovatif

Sulawesi Utara bergerak menuju pariwisata hijau dan biru yang berkelanjutan dan inovatif