Hari Penyandang Disabilitas Internasional
Menembus batas untuk dunia kerja yang inklusif di Indonesia
Keterlibatan penyandang disabilitas yang lebih besar dalam proses pembuatan kebijakan dan akses yang lebih luas terhadap pekerjaan diperlukan untuk mendorong inklusivitas dan kesetaraan di dunia kerja.
12 Desember 2024
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Dalam rangka memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional, ILO bekerja sama dengan Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Indonesia (UNIC), Bumilangit Entertainment dan UN Association Indonesia (UNAI) menyelenggarakan diskusi interaktif bertajuk “Menembus Batas: Mendorong Dunia Kerja Inklusif di Indonesia” pada 7 Desember. Diskusi ini merupakan bagian dari acara tiga hari dengan tema “Inklusi untuk Semua, Disabilitas Berdaya”, yang menghadirkan serangkaian kegiatan seperti pemutaran film, pameran dan bincang-bincang.
Diskusi interaktif yang diadakan di Sjumandjaja Kine Forum, Taman Ismail Marzuki ini menghadirkan tiga pembicara yang berbagi keahlian dan pengalaman mereka di bidang inklusi dan kesetaraan: Dina Novita Sari, Staf Program ILO untuk Kesetaraan dan Inklusivitas, Ages Soerjana, Konselor Sekolah Bakat Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS), sebuah yayasan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, Dimas P. Muharam, penggagas Forum ASN Inklusi dan CEO PT Dimaster Education.
Dengan hanya 3 dari 10 penyandang disabilitas yang aktif di pasar kerja, sebagian besar penyandang disabilitas cenderung memilih untuk bekerja sendiri. Akibatnya, tingkat partisipasi mereka di pasar kerja secara keseluruhan sangat rendah dan kemajuan menuju inklusi yang lebih besar relatif lambat
Dina Novita Sari, Staf Program ILO untuk Kesetaraan dan Inklusivitas
Diskusi dibuka dengan presentasi singkat mengenai penelitian terbaru ILO yang berjudul “Sebuah studi mengenai pekerjaan dan hasil upah penyandang disabilitas.” Penelitian yang memuat data-data baru ini menemukan bahwa pekerja dengan disabilitas dibayar 12 persen lebih rendah per jamnya dibandingkan dengan para pekerja lainnya. Namun, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, kesenjangan upah penyandang disabilitas ini jauh lebih besar, yaitu 26 persen, dan hampir setengahnya tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan sosio-demografis.
“Diperkirakan 1,3 miliar orang, atau hampir satu dari enam populasi global, mengalami disabilitas yang signifikan. Dengan hanya 3 dari 10 penyandang disabilitas yang aktif di pasar kerja, sebagian besar penyandang disabilitas cenderung memilih untuk bekerja sendiri. Akibatnya, tingkat partisipasi mereka di pasar kerja secara keseluruhan sangat rendah dan kemajuan menuju inklusi yang lebih besar relatif lambat,” jelas Staf Program ILO, Dina, mengutip temuan utama dari penelitian tersebut.
Dia menyimpulkan dengan sejumlah langkah untuk meningkatkan partisipasi pasar kerja bagi penyandang disabilitas, termasuk membuat rekrutmen daring dan proses terkait lebih mudah diakses, dukungan yang lebih besar bagi pemberi kerja untuk mendorong perekrutan penyandang disabilitas dan mendukung pekerja dengan disabilitas melalui langkah-langkah adaptasi yang tepat untuk memfasilitasi pekerjaan mereka.
Sementara itu, sebagai konselor sebuah yayasan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, Ages Soerjana menjelaskan tentang disabilitas yang tidak terlihat dan tersembunyi, khususnya yang berkaitan dengan ketidakmampuan belajar. Bagi banyak orang, neurodiversitas, yang mencakup kesulitan belajar masih dianggap sebagai konsep baru seperti attention deficit disorder (ADD), attention deficit hyperactive disorder (ADHD), disleksia dan disgrafia.
“Orang dengan ketidakmampuan belajar terlihat seperti orang lain, namun mereka mungkin mengalami tantangan yang sama dengan orang dengan disabilitas terlihat. Mereka memiliki pendidikan, bakat dan keterampilan yang baik; namun, misalnya penyandang ADD, mereka mengalami kesulitan dalam memberikan perhatian dan tetap fokus pada penugasan. Artinya, pekerja dengan ADD perlu mendapatkan instruksi yang jelas baik secara tertulis maupun visual,” jelasnya.
Kita perlu terus meningkatkan kesadaran akan disabilitas tersembunyi ini dan memetakan kompetensi serta kemampuan mereka agar dapat dihubungkan dengan kebutuhan perusahaan. Mereka memiliki kemampuan kerja, mereka hanya membutuhkan kesempatan dan kesadaran kita semua untuk membantu mereka mencapai potensi mereka
Ages Soerjana, Konselor Sekolah Bakat Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS), sebuah yayasan bagi anak-anak berkebutuhan khusus
Akibatnya, lanjut Ages, kendati memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, mayoritas mahasiswa dengan kesulitan belajar masih menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan setelah lulus dari universitas. “Karenanya, kita perlu terus meningkatkan kesadaran akan disabilitas tersembunyi ini dan memetakan kompetensi serta kemampuan mereka agar dapat dihubungkan dengan kebutuhan perusahaan. Mereka memiliki kemampuan kerja, mereka hanya membutuhkan kesempatan dan kesadaran kita semua untuk membantu mereka mencapai potensi mereka.”
Memahami berbagai tantangan yang dihadapi oleh para penyandang disabilitas, Dimas menceritakan perjuangannya dalam mencari pekerjaan setelah lulus dari salah satu universitas ternama di Indonesia. Menolak untuk menyerah, ia mendirikan Kartunet, sebuah pelantar yang bertujuan untuk memberdayakan para penyandang tunanetra melalui teknologi dan literasi digital. Ketika pemerintah memulai program inklusif dengan membuka akses bagi penyandang disabilitas untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN) pada 2017, Dimas diterima sebagai peneliti junior di Pusat Penilaian dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018.
Saya mendirikan Forum ASN Inklusif pada 2019 dan saat ini anggota forum ini telah mencapai lebih dari 200 ASN dengan dan tanpa disabilitas yang memiliki visi yang sama untuk menciptakan tempat kerja yang inklusif dan mempromosikan inklusi dalam kebijakan sektor publik dari dalam.
Dimas P. Muharam, Dimas P. Muharam, penggagas Forum ASN Inklusi dan CEO PT Dimaster Education
Sejak saat itu, ia aktif melakukan perubahan dan mendorong inklusi di lingkungan pemerintahan. “Saya mendirikan Forum ASN Inklusif pada 2019 dan saat ini anggota forum ini telah mencapai lebih dari 200 ASN dengan dan tanpa disabilitas yang memiliki visi yang sama untuk menciptakan tempat kerja yang inklusif dan mempromosikan inklusi dalam kebijakan sektor publik dari dalam,” katanya.
Ia juga mengingatkan perlunya keterlibatan yang lebih besar bagi penyandang disabilitas dalam proses pembuatan kebijakan, lebih banyak kesempatan untuk peningkatan kapasitas baik dalam hal keterampilan teknis dan non-teknis dan lebih banyak beasiswa untuk pendidikan tinggi.
ILO melalui program-programnya telah bekerja selama lebih dari 50 tahun untuk mempromosikan pengembangan keterampilan dan kesempatan kerja bagi para penyandang disabilitas berdasarkan prinsip-prinsip kesempatan yang sama, perlakuan yang sama dan pengarusutamaan ke dalam rehabilitasi vokasional.