Perempuan dalam STEM
Mendobrak Hambatan bagi Anak Perempuan dan Perempuan dalam STEM
ILO bekerja sama dengan Kedutaan Besar Irlandia di Indonesia menyelenggarakan acara bersama untuk menginspirasi lebih banyak anak perempuan dan perempuan menekuni bidang terkait STEM. Lima perempuan muda dalam STEM berbagi kisah hidup dan aspirasi mereka.
11 Februari 2020
Diselenggarakan bersama oleh ILO dan Kedutaan Besar Irlandia untuk Indonesia di Jakarta pada 7 Februari, acara ini berupaya mempromosikan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam keterampilan terkait STEM. Acara ini pun merupakan bagian dari peringatan Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains yang jatuh pada 11 Februari dan Hari St. Brigid 2020.
Dimoderatori oleh Olivia Leslie, Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, diskusi interaktif menghadirkan Dr Fiona Malone, seorang ilmuwan perempuan dari Institut Teknologi Galway-Mayo, sebagai pembicara utama. Dianugerahi sebagai pemenang penghargaan Insinyur Biomedis, dosen matematika dan komunikator sains, ia menekankan pentingnya cara-cara inovatif untuk mempromosikan isu-isu terkait dengan perempuan dalam STEM.
Cara inovatif untuk menarik lebih banyak perempuan di STEM
“Memberdayakan anak perempuan untuk melihat masa depan mereka sendiri di STEM harus dilakukan dengan cara-cara inovatif. Saya suka mengobrol tentang STEM dan telah menggunakan berbagai platform berbeda dari podcast, blog hingga pelibatan media dan komedi,” ungkap Dr Malone di depan 70 peserta, mencontohkan Fame Lab dan Bright Club sebagai dua sarana di mana para ilmuwan dapat berbagi antusiasme mereka terhadap sains dan penelitian dengan publik dalam bentuk bincang-bincang dan komedi tunggal di Irlandia.Memberdayakan anak perempuan untuk melihat masa depan mereka sendiri di STEM harus dilakukan dengan cara-cara inovatif. Saya telah menggunakan berbagai platform berbeda dari podcast, blog hingga pelibatan media dan komedi."
Dr Fiona Malone, seorang ilmuwan perempuan dari Institut Teknologi Galway-Mayo
Sementara Silvia Halim, Direktur Konstruksi untuk MRT Jakarta, menyoroti pentingnya keterlibatan laki-laki dalam gerakan perempuan dalam STEM. “Ini adalah upaya kolektif. Saya belajar banyak dari mentor dan penyelia laki-laki saya. Mereka mendorong saya untuk tumbuh dan mengejar karier serta menjadi lebih percaya diri,” tukas Silvia yang merupakan satu-satunya direktur perempuan di antara empat direktur laki-laki MRT Jakarta lainnya.
Hambatan terbesar yang harus dihadapi banyak perempuan adalah rasa percaya diri untuk menjadi pemimpin, berbicara dan/atau berbagi pendapat. Anantya von Bronckhorst, Co-CEO Think, Web, Digital dan Technology Agency, menegaskan bahwa keterampilan non-teknis (soft skill) sama pentingnya dengan keterampilan teknis bagi perempuan di STEM. “Melalui pekerjaan kami, kami mendorong perempuan agar lebih percaya diri. Keterampilan lunak juga merupakan bagian dari keterampilan terkait STEM dan kita perlu meminimalkan kesenjangan kepercayaan diri antara perempuan dan laki-laki,” ujarnya.
Perempuan panutan untuk inspirasi
Berbicara tentang diskriminasi, Clorinda Kurnia Wibowo, Analis Riset World Resources Institute (WRI), merasa beruntung bekerja di lingkungan yang seimbang secara jender. Tempat kerjanya telah menyediakan ruang aman bagi para pekerjanya untuk bebas mengungkapkan beragam masalah sensitif seperti pelecehan seksual.“Saya percaya di kota besar seperti Jakarta, perlakuan dan kesempatan yang sama tidak menjadi masalah. Namun, menjadi cerita yang berbeda untuk daerah di luar Jawa di mana nilai-nilai perempuan masih dikaitkan dengan nilai-nilai domestik tradisional," kata Clorinda yang menekuni energi terbarukan dan kehutanan.
Untuk mempromosikan partisipasi yang lebih besar dari perempuan dan anak perempuan dalam STEM, Hastu Wijayasri, Wonder Koding dan mahasiswi di UIN Yogyakarta, menggarisbawahi perlunya panutan yang dapat menginspirasi perempuan dan anak perempuan bahwa mereka juga dapat memiliki pilihan bekerja dalam keterampilan dan bidang terkait STEM.
“Topik STEM tidak diajarkan secara merata di sekolah. STEM adalah minat pribadi saya dan saya tidak tahu bahwa STEM bisa menjadi pilihan untuk karier. Teladan dan panutan dapat menunjukkan kepada banyak perempuan dan anak perempuan bahwa mereka dapat menekuni teknologi juga,” tegas Hastu, yang menjadi pengembang aplikasi dengan gangguan pendengaran pertama dalam bahasa isyarat.
Sebagai seorang pelajar, ia juga menggarisbawahi dukungan yang dibutuhkan dari guru dan orangtua agar anak perempuan diberdayakan dan dilibatkan dalam STEM. “Kita juga perlu mendidik guru dan orang tua tentang STEM. STEM tidak hanya untuk anak laki-laki, tetapi juga anak perempuan. Kami memiliki pilihan sebagai individu,” katanya.
Dukungan ILO untuk perempuan dalam STEM
Selain diskusi interaktif, acara tersebut memperkenalkan Program ILO mengenai Perempuan dalam STEM. Santy Otto, Koordinator Program ILO untuk Perempuan dalam Program STEM, mengingatkan para peserta tentang dampak kemajuan teknologi dalam bentuk otomatisasi dan robotika bagi perempuan di tempat kerja.Dia mengutip perkiraan ILO bahwa 56 persen lapangan kerja (sekitar 60 juta pekerjaan) menghadapi risiko otomatisasi di Indonesia. “Perempuan 20 persen lebih rentan dibandingkan laki-laki untuk kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Karenanya ILO memiliki visi untuk agenda yang berpusat pada manusia yang terfokus pada investasi dalam kemampuan masyarakat, lembaga kerja serta pekerjaan yang layak dan berkelanjutan,” ia menjelaskan.Perempuan 20 persen lebih rentan dibandingkan laki-laki untuk kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Karenanya ILO memiliki visi untuk agenda yang berpusat pada manusia yang terfokus pada investasi dalam kemampuan masyarakat, lembaga kerja serta pekerjaan yang layak dan berkelanjutan."
Santy Otto, Koordinator Program ILO untuk Perempuan dalam Program STEM
Didanai J.P Morgan Chase Foundation, program ini berupaya memberikan perempuan keterampilan non-teknis dan teknis agar mampu mendapatkan pekerjaan yang berkualitas dan mendukung pengembangan karir perempuan, khususnya di bidang teknologi informasi. Salah satu tujuan utama program ini adalah memperkuat hubungan antara perusahaan, lembaga mitra sosial dan pusat pelatihan vokasi.guna menciptakan peluang kerja yang lebih besar bagi perempuan melalui peningkatan jumlah penerimaan, retensi dan pengembangan kapasitas dalam pekerjaan terkait STEM sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan mencegah perempuan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi.