Mencegah penyakit paru-paru akibat kerja di Indonesia

Kematian dan cedera serta penyakit akibat kerja banyak terjadi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Para pekerja umumnya bekerja di bidang pekerjaan yang sifatnya dasar dan ekstraktif seperti pertanian, konstruksi, pertambangan atau di mana hubungan atau kondisi kerja menimbulkan risiko tertentu seperti terekspos zat-zat berbahaya seperti zat-zat kimia atau radiasi, atau berada dalam perekonomian informal.

9 November 2015

Content also available in: English
JAKARTA (Berita ILO): Kematian dan cedera serta penyakit akibat kerja banyak terjadi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Para pekerja umumnya bekerja di bidang pekerjaan yang sifatnya dasar dan ekstraktif seperti pertanian, konstruksi, pertambangan atau di mana hubungan atau kondisi kerja menimbulkan risiko tertentu seperti terekspos zat-zat berbahaya seperti zat-zat kimia atau radiasi, atau berada dalam perekonomian informal.

Salah satu bentuk penyakit yang paling umum ditemukan di tempat kerja adalah pneumoconiosis. Penyakit ini umumnya ditemukan dalam bentuk yang dinamakan silikosis. Ini merupakan penyakit paru-paru akibat menghirup debu yang mengandung silika bebas, yang dihadapi puluhan juta pekerja dalam pekerjaan yang berbahaya dan membunuh ribuan orang di dunia. Ini membuat silikosis menjadi salah satu penyakit yang paling umum terjadi akibat kerja di dunia.

Karenanya, untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan terhadap pneumoconiosis, Kementerian Kesehatan Indonesia serta Persatuan Dokter Kesehatan Kerja Indonesia (Perdoki), bekerja sama dengan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), akan menyelenggarakan Lokakarya ILO Classification of Radiographs of Pneumoconiosis dari 9 hingga 13 November di Jakarta. Lokakarya ini diselenggarakan sejalan dengan Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada 12 November.

Lokakarya ini disasarkan kepada para dokter spesialis paru-paru sebagai bagian dari upaya meningkatkan keahlian mereka dalam memberikan diagnosis dan perawatan yang tepat terhadap pneumoconiosis. Lokakarya ini juga akan mempergunakan International Classification of Radiographs of Pneumoconiosis ILO sebagai perangkat yang banyak dipergunakan di dunia dalam meningkatkan pengecekan kesehatan para pekerja, melakukan penelitian epidemiologi dan membuat perbandingan data statistik.

Francesco d’Ovidio, Direktur ILO di Indonesia, menekankan bahwa pencegahan penyakit pernapasan telah menjadi perhatian khusus ILO mengingat penyakit ini terus menjadi penyakit akibat kerja yang banyak terjadi. “Tidak aka nada pekerjaan layak tanpa keselamatan kerja; karenanya, keselamatan dan kesehatan kerja jangan dilihat sebagai biaya sosial namun sebagai manfaat jangka panjang bagi perusahaan, masyarakat dan dan warganya,” dia berkata.

ILO mengadopsi Konvensi Landasan Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja No. 187 pada tahun 2006. Konvensi ini baru saja diratifikasi Indonesia pada Agustus 2015. Selanjutnya, Program Global Penghapusan Silikosis ILO/WHO (Global Programme for the Elimination of Silicosis/GPES) telah dibentuk pada tahun 1995 untuk mencegah pneumoconiosis dan menghapus silikosis sebagai penyakit kerja melalui penerapan program-program aksi nasional. Saat ini, program-program seperti ini telah dibentuk di Brasil, Kolombia, Chili, China, India, Peru, Afrika Selatan, Turki, Thailand dan Vietnam, serta langkah-langkah pencegahan semakin diperkuat.

Menurut perkiraan ILO, terdapat sekitar 2,2 juta kematian akibat kerja setiap tahunnya, 350,000 kecelakaan kerja fatal dan 270 juta kecelakaan kerja tidak fatal. Setiap tahun, 160 juta pekerja mengidap penyakit akibat kerja; 30-40 persen di antaranya mengarah kepada penyakit kronik dan 10 persen kepada disabilitas permanen.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Gita Lingga
Humas ILO
Telp. (021) 39139112 ext.115
Email : [email protected]