Mencapai tujuan pertama 90 dengan memperkenalkan Panduan ILO-WHO mengenai Tes HIV Mandiri di Tempat Kerja
ILO meningkatkan kesadaran perusahaan mengenai prakarsa tes HIV mandiri sebagai bagian dari skrining berbasis komunitas guna semakin memperbanyak orang yang mengetahui status HIV mereka dan mencari perawatan. Acara ini menandai webinar pamungkas ILO sejalan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia 2020.
17 Desember 2020
Data Kementerian Kesehatan pada 2020 mengungkapkan hanya 398.784 dari perkiraan 543.100 orang yang hidup dengan HIV/AIDS di negara ini mengetahui status HIV mereka. Sementara dari 640.443 orang dengan HIV/AIDS pada 2018, hanya 17 persen dari mereka yang menerima terapi antiretroviral (ARV) secara teratur.Sebagai bagian dari program pencegahan HIV/AIDS, tes HIV mandiri memberikan manfaat di tempat kerja dengan menjangkau lebih banyak pekerja yang berisiko terinfeksi HIV yang kurang memiliki akses terhadap layanan tes HIV. Ini juga meningkatkan tes HIV dengan menawarkan pekerja kerahasiaan dan otonomi yang lebih besar serta menghemat waktu bagi pekerja dan petugas layanan kesehatan."
Syed M. Afsar, Spesialis Teknis Senior HIV/AIDS di Tempat Kerja ILO
Syed M. Afsar, Spesialis Teknis Senior HIV/AIDS di Tempat Kerja ILO, menegaskan tiga pilar program pencegahan HIV di tempat kerja yang semuanya tercakup di dalam tes HIV mandiri: Pencegahan, perawatan dan hak asasi manusia. “Sebagai bagian dari program pencegahan HIV/AIDS, tes HIV mandiri memberikan manfaat di tempat kerja dengan menjangkau lebih banyak pekerja yang berisiko terinfeksi HIV yang kurang memiliki akses terhadap layanan tes HIV,” kata dia. “Ini juga meningkatkan tes HIV dengan menawarkan pekerja kerahasiaan dan otonomi yang lebih besar serta menghemat waktu bagi pekerja dan petugas layanan kesehatan.”
Hingga Juni 2018, 59 negara telah mengadopsi kebijakan tes HIV mandiri dan banyak negara lainnya sedang dalam proses pengembangan. Salah satu negara yang telah melakukan adalah Afrika Selatan. Afrika Selatan memperkenalkan tes HIV mandiri di industry-industri yang mempekerjakan mayoritas pekerja laki-laki, seperti pertambangan, konstruksi, keamanan, minyak dan pertanian. Antara bulan Januari dan Juni 2018, 66 persen perangkat tes HIV mandiri disalurkan kepada pekerja laki-laki dan dari mereka yang melakukan tes, 4,2 persen didiagnosa HIV positif.
“Untuk memastikan keefektifan tes HIV mandiri di tempat kerja, advokasi dengan manajemen tingkat tinggi menjadi kunci dan serikat pekerja memainkan peran efektif untuk memastikan pelaksanaan tes HIV mandiri. Pihak manajemen biasanya lebih skeptis, kendati kebanyakan pekeja menyambut baik inisiatif ini,” Afsar menambahkan, memaparkan pembelajaran dari pengalaman di negara-negara lain.
Penandatanganan komitmen dan kebijakan non diskriminatif di PT Angkasa Pura II
Menanggapi prakarsa tes HIV mandiri, dua perusahaan nasional, PT Angkasa Pura II, perusahaan transportasi bandara dan PT Waskita Karya (Persero), perusahaan konstruksi, memaparkan berbagai program pencegahan HIV yang telah mereka lakukan, termasuk komitment dari manajemen tingkat tinggi mengenai penerapan kebijakan non-diskriminatif.Program pencegahan menjadi program prioritas utama melalui peningkatan kesadaran dan VCT@Work. Bagi mereka yang ditemukan HIV positif dapat terus bekerja dan memiliki akses dan tunjangan yang sama seperti pekerja lainnya."
Bayuh Iswantoro, Wakil Presiden Manajemen Keselamatan PT Angkasa Pura II
Bayuh Iswantoro, Wakil Presiden Manajemen Keselamatan PT Angkasa Pura II, memaparkan komitmen perusahaan melalui pengembangan kebijakan non-diskriminatif, pelatihan untuk pelatih mengenai pencegahan HIV, program VCT@Work dan konselor sebayaa. “Program pencegahan menjadi program prioritas utama melalui peningkatan kesadaran dan VCT@Work. Bagi mereka yang ditemukan HIV positif dapat terus bekerja dan memiliki akses dan tunjangan yang sama seperti pekerja lainnya,” ujar dia.
Salah satu program pendidikan HIV di tempat kerja Selanjutnya, Subhan, SVP QHSE dan Divisi Sistem PT Waskita Karya (Persero), menjelaskan berbagai pall our field managers rogram pencegahan HIV yang telah diterapkan di semua unit dan proyek kerja. “Program pencegahan HIV telah menjadi indikator kinerja utama bagi semua manajer lapangan kami dan kami bekerja sama dengan klinik-klinik kesehatan untuk melakukan VCT@Work di 35 lokasi proyek pengerjaan jalan di Indonesia. Hasilnya kami mendapatkan sejumlah penghargaan peduli HIV dari Kementerian Ketenagakerjaan,” kata Subhan.
Sesi interaktif ini ditutup dengan kesepakatan bahwa tes mandiri HIV adalah penting dan strategis yang dapat diintegrasikan ke dalam proram pencegahan HIV dan VCT yang ada untuk membantu perusahaan mengatasi dampak HIV di tempat kerja dan menghapus stigma dan diskriminasi. Namun, diperlukan program pendidikan dan peningkatan pemahaman mengenai HIV yang lebih intensif agar dapat mendorong kepesertaan pekerja secara sukarela dalam inisiatif ini.Program pencegahan HIV telah menjadi indikator kinerja utama bagi semua manajer lapangan kami dan kami bekerja sama dengan klinik-klinik kesehatan untuk melakukan VCT@Work di 35 lokasi proyek pengerjaan jalan di Indonesia. Hasilnya kami mendapatkan sejumlah penghargaan peduli HIV dari Kementerian Ketenagakerjaan."
Subhan, SVP QHSE dan Divisi Sistem PT Waskita Karya (Persero)
Sesi interaktif ini juga menandai webinar pamungkas yang diadakan Program HIV ILO sejak bulan Oktober hingga Desember 2020. Sebagai bagian dari Hari AIDS Sedunia 2020, ILO menyelenggarakan serangkaian delapan webinar mengenai berbagai permasalahan terkait HIV/AIDS dan dunia kerja untuk memperkuat pelaksanaan kebijakan non-diskriminatif dan program pencegahan HIV di tempat kerja.
Related content
ILO-Apindo mempromosikan kampanye inovatif untuk pencegahan HIV di tempat kerja