Mempromosikan akses perempuan atas pekerjaan yang layak dan kesetaraan kerja di indonesia

Untuk lebih mempromosikan pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyelenggarakan lokakarya nasional satu hari, “Mempromosikan akses perempuan terhadap pekerjaan yang layak dan kesetaraan kerja di Indonesia”, pada Rabu, 16 Januari 2013, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

16 Januari 2013

Content also available in: English
JAKARTA (Berita ILO): Kendati perluasaan peluang kerja telah dilakukan selama satu dekade terakhir, dan akses anak perempuan ke dunia pendidikan dan partisipasi di bidang pendidikan berhasil ditingkatkan secara signifikan, namun perempuan masih belum dapat berpartisipasi secara setara di pasar tenaga kerja. Pekerja perempuan tetap terkonsetrasi di perekonomian informal, terutama pekerja rumahan perempuan dan pekerja perempuan di usaha mikro dan kecil (UMK), di mana upah, kondisi kerja dan keamanan kerja masih buruk. Sekitar sepertiga pekerja perempuan masih terlibat dalam pekerjaan tanpa upah.

Perempuan pun terus menghadapi hambatan besar secara budaya, sosial, ekonomi dan agama dalam memperoleh pekerjaan dan kesetaraan perlakuan di dunia kerja. Pemisahan atau segregasi pekerjaan berdasarkan gender juga cenderung memerangkap perempuan dalam pekerjaan rendahan dengan fungsi pengambilan keputusan yang minimal, sehingga menghambat peluang generasi muda untuk memasuki pasar tenaga kerja.

Untuk lebih mempromosikan pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyelenggarakan lokakarya nasional satu hari, “Mempromosikan akses perempuan terhadap pekerjaan yang layak dan kesetaraan kerja di Indonesia”, pada Rabu, 16 Januari 2013, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Lokakarya ini akan dibuka oleh Direktur ILO di Indonesia, Peter van Rooij.

Lokakarya ini diselenggarakan ILO melalui Proyek Akses terhadap Ketenagakerjaan dan Pekerjaan yang Layak. Proyek ini berada di bawah program AusAID yang dikenal dengan sebutan MAMPU, yang ditujukan untuk meningkatkan akses dan mata pencarian kaum perempuan miskin di Indonesia dan mempromosikan pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan, khususnya bagi kaum perempuan yang menjalankan industri rumahan berskala mikro dan kecil serta pekerja rumahan perempuan. Lokakarya ini juga menandai tahap pelaksanaan Proyek tersebut di Indonesia yang akan dimulai pada 2013 dan akan berjalan selama tujuh tahun ke depan.

“Mempromosikan pekerjaan yang layak dan kesetaraan gender merupakan inti dari upaya ILO untuk meningkatkan kondisi hidup dan kerja kaum perempuan. Pengalaman memperlihatkan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan kunci kesuksesan pembangunan di tingkat negara, termasuk Indonesia. Pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan merupakan hal yang sangat penting dan krusial bagi pembangunan manusia yang berkesinambungan,” kata Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia.

Lokakarya ini akan menyediakan forum untuk berdialog dan berbagi pengetahuan di antara para pemangku kepentingan mengenai berbagai hambatan terhadap ketenagakerjaan dan pekerjaan yang layak bagi kaum perempuan, termasuk kesetaraan upah dan berbagai tantangan yang dihadapi pekerja perempuan di perekonomian formal dan informal dalam rantai pemasok skala nasional dan global. Lokakarya pun akan membahas kerangka kerja hukum agar dapat lebih melindungi dan mempromosikan hak-hak pekerja, terutama hak perempuan atas pekerjaan yang layak.

Temuan-temuan kunci dari dua studi terbaru akan dipaparkan di dalam lokakarya ini. Studi pertama merupakan kajian bersama antara ILO dan Tufts University di Amerika Serikat mengenai hambatan yang dihadapi perempuan atas pekerjaan dan diskriminasi kerja. Studi ini dilakukan di dua provinsi: Sumatera Utara dan Jawa Timur. Studi kedua memaparkan temuan-temuan utama mengenai kesetaraan upah dan evaluasi pekerjaan yang dilakukan perempuan di Indonesia. Temuan-temuan kunci ini akan dipaparkan oleh Profesor Drusilla Brown dari Tufts University.

Selanjutnya, lokakarya dan proyek menaruh perhatian terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi perempuan di perekonomian informal, terutama pekerja rumahan perempuan dan pekerja perempuan di industri rumahan berskala mikro dan kecil. Jenis-jenis pekerja perempuan ini menjalani situasi yang eksploitatif—bekerja dengan jam kerja yang panjang dan mendapatkan upah di bawah upah minimum dengan sedikit atau tanpa posisi tawar, standar kesehatan dan keselamatan kerja yang buruk dan tanpa perlindungan hukum di Indonesia. Sistem ini melanggar hak ekonomi dan sosial mendasar para pekerja ini.


Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Miranda Fajerman, Kepala Penasihat Teknis Proyek Mampu ILO, Tel.: +6221 391 3112 ext. 167, Email: [email protected]

Gita Lingga, Humas, Tel.: +6221 3913112 ext. 115, Mobile: +628158845833, Email: [email protected]