Memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja rumah tangga migran Indonesia di Malaysia

Malaysia merupakan negara tujuan bagi pekerja rumah tangga migran, mayoritas dari mereka dari Indonesia. Kementerian Sumber Daya Manusia melaporkan pada Juni 2013, terdapat 180.000 pekerja rumah tangga migran yang berdokumentasi di Malaysia.

3 November 2015

Content also available in: English
JAKARTA (Berita ILO): Malaysia merupakan negara tujuan bagi pekerja rumah tangga migran, mayoritas dari mereka dari Indonesia. Kementerian Sumber Daya Manusia melaporkan pada Juni 2013, terdapat 180.000 pekerja rumah tangga migran yang berdokumentasi di Malaysia.

Sulitnya pekerjaan di lingkungan sekitar mereka, pendapatan yang rendah di sektor informal dan memiliki keluarga menjadi alasan-alasan utama bagi perempuan Indonesia untuk meninggalkan keluarga mencari pekerjaan di luar negeri. Malaysia menjadi negara tujuan pilihan yang populer karena adanya permintaan besar terhadap pekerjaan rumah tangga, dan dekat dengan Indonesia, dalam hal geografis, budaya dan bahasa.

Merupakan kehormatan bagi ILO untuk membawa para konstituen dan pemangku kepentingan utama dari Indonesia dan Malaysia untuk mengkaji hasil-hasil penelitian mengenai kondisi rekrutmen dan ketenagakerjaan pekerja rumah tangga migran. Saya percaya informasi ini akan mendorong dialog yang sehat di antara para pemangku kepentingan dari kedua negara, yang bertujuan memastikan akses yang lebih baik bagi semua pekerja rumah tangga migran dan perlindungan hak-hak kerja."

Francesco d’Odivido, Direktur ILO di Indonesia

Guna melakukan dialog lebih lanjut mengenai situasi dan kondisi kerja pekerja rumah tangga migran Indonesia di Malaysia, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyelenggarakan Lokakarya mengenai Migrasi Kerja dalam Pekerjaan Rumah Tangga di Koridor Indonesia-Malaysia pada 3-4 November di Jakarta. Lokakarya ini diselenggarakan ILO melalui Program Aksi Global mengenai Pekerja Rumah Tangga Migran dan Keluarga Mereka dan Proyek Aksi Tripartit untuk Perlindungan dan Promosi Hak Pekerja Rumah Tangga Migran (ASEAN Triangle) project.

Selama lokakarya, temuan-temuan kunci dari dua penelitian terbaru mengenai kondisi aktual dari rekrutmen dan pekerjaan pekerja rumah tangga migran di Indonesia dan Malaysia. Temuan-temuan ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai rekrutmen dan kondisi kerja pekerja rumah tangga migran, risiko atas kerja paksa dan perdagangan yang mereka hadapi, dan sejauh mana para pengusaha di Malaysia mematuhi Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia.

Di Indonesia, penelitian dilakukan di lima provinsi Indonesia: Jawa Timur, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau. Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai daerah asal pekerja migran Indonesia dan mewakili karakteristik khusus dari baik bagian barat dan timur Indonesia. Sementara Kepulauan Riau dikenal atas rumah perlindungan dan pusat trauma bagi para pekerja rumah tangga migran yang teraniaya.

Mempergunakan wawancara dan kelompok diskusi terfokus, penelitian ini mencakup enal permasalahan utama terkait migrasi kerja seperti: Profil sosio-ekonomi, saluran rekrutmen, titik-titik kerentanan dalam proses migrasi kerja ke Malaysia, mekanisme bertahan saat menghadapi eksploitasi, pemulangan dan reintegrasi, pola remiten serta kondisi ekonomi saat kembali.

Francesco d’Odivido, Direktur ILO di Indonesia yang baru, menegaskan bahwa ILO, bersama dengan para mitra sosialnya, berkomitmen untuk memerangi diskriminasi dan eksploitasi terhadap pekerja migran Indonesia, khususnya pekerja rumah tangga migran, baik di Indonesia maupun di negara-negara tujuan.

“Merupakan kehormatan bagi ILO untuk membawa para konstituen dan pemangku kepentingan utama dari Indonesia dan Malaysia untuk mengkaji hasil-hasil penelitian mengenai kondisi rekrutmen dan ketenagakerjaan pekerja rumah tangga migran. Saya percaya informasi ini akan mendorong dialog yang sehat di antara para pemangku kepentingan dari kedua negara, yang bertujuan memastikan akses yang lebih baik bagi semua pekerja rumah tangga migran dan perlindungan hak-hak kerja,” kata dia.

Sekitar 75 peserta dari para pemangku kepentingan terkait baik dari Indonesia mapupun Malaysia menghadiri lokakarya ini. Para peserta berasal dari badan pemerintah, penyalur tenaga kerja, organisasi pekerja, organisasi nasional dan internasional dari kedua nagara.

Didanai Uni Eropa, Program Aksi Global mengenai Pekerja Rumah Tangga Migran dan Keluarga Mereka dirancang untuk meningkatkan perlindungan terhadap pekerja migran melalui pengembangan pengetahuan, peningkatan kapasitas dan berbagi pengalaman di antara para konstituen ILO dan pemangku kepentingan utama.

Proyek Aksi Tripartit ILO untuk Perlindungan dan Promosi Hak-hak Pekerja Migran di Kawasan ASEAN Regional (ASEAN Triangle), didanai Pemerintah Kanada, didukung proses ASEAN dan negara-negara ASEAN dalam menangani isu kerentanan pekerja rumah tangga migran, termasuk pekerja rumah tangga migran.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Sinthia Harkrisnowo
Koordinator Proyek
Tel.: +6221 3913112 ext. 143
Email

Dyah Retno Sudarto
Staf Program
Tel.: +6221 3913112 ext. 116
Email

Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115
Email