Pemberdayaan serikat pekerja
Memberdayakan pekerja Indonesia untuk persiapan pensiun melalui Program Memulai Usaha Anda
ILO dan konfederasi serikat pekerja Indonesia mendukung pekerja dalam mempersiapkan diri untuk pensiun dengan belajar cara memulai dan mengelola usaha.
25 September 2025
TANGERANG, Banten, Jawa Barat (Berita ILO) - Seiring mendekati masa pensiun, banyak pekerja menghadapi ketidakpastian terkait keamanan finansial dan mata pencarian di masa depan. Meskipun sebagian mungkin memiliki tabungan atau akses ke skema perlindungan sosial, seperti Jaminan Hari Tua (JHT) Indonesia, hal ini kerap tidak mencukupi untuk menjamin kehidupan pasca pensiun yang stabil dan memuaskan. Tanpa perencanaan yang tepat, pensiun dapat menyebabkan ketergantungan finansial dan hilangnya tujuan hidup.
Mengakui pentingnya kesiapan pensiun bagi pekerja, ILO melalui program Mempromosikan Usaha Mikro dan Kecil melalui Akses Kewirausahaan terhadap Layanan Keuangan (Promise II Impact), yang didanai Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), bekerja sama dengan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia-Konfederasi Serikat Pekerja ASEAN (KPSI-ATUC), telah menyelenggarakan dua gelombang pelatihan kewirausahaan yang ditargetkan bagi anggota serikat pekerja yang mendekati masa pensiun pada Mei dan September 2025.
Kami memandang persiapan pensiun sebagai tanggung jawab yang krusial... Untuk mendukung hal ini, Dewan Eksekutif Nasional kami menyediakan dana insentif bagi peserta yang mengajukan rencana bisnis pensiun paling menjanjikan.
Andi Gani Nena Wea, Presiden KSPSI-ATUC
Menggunakan modul ILO tentang Memulai Usaha Anda (SYB), pelatihan bagi penerima manfaat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang kewirausahaan, mengembangkan keterampilan mereka dalam merumuskan ide dan rencana bisnis serta mendukung pergeseran pola pilir sebagai pekerja menjadi wirausaha. Difasilitasi oleh pelatih utama ILO dan pelatih dari KSPSI-ATUC yang telah menyelesaikan program pelatihan SYB sebelumnya, pelatihan selama lima hari ini diikuti oleh 50 anggota KSPSI-ATUC dari empat federasi afiliasi: Kimia, Energi dan Pertambangan (KEP); Tekstil, Garmen dan Kulit (TSK); Logam, Elektronik dan Mesin (LEM); serta Tembakau, Makanan dan Minuman (RTMM).
“Kami memandang persiapan pensiun sebagai tanggung jawab yang krusial,” ujar Andi Gani Nena Wea, Presiden KSPSI-ATUC. “Anggota kami harus didorong untuk merencanakan fase kehidupan ini agar mereka dapat tetap mandiri dan menghindari ketergantungan pada keluarga. Untuk mendukung hal ini, Dewan Eksekutif Nasional kami menyediakan dana insentif bagi peserta yang mengajukan rencana bisnis pensiun paling menjanjikan.”
Presiden KSPSI-ATUC memberikan dukungan keuangan tahap pertama dan peluang usaha waralaba kepada empat peserta teratas dari angkatan pelatihan pertama untuk membantu mereka memulai usaha sendiri. Para peserta ini kemudian berbagi pengalaman dan praktik terbaik dengan anggota kelompok pelatihan kedua.
Di Indonesia, program persiapan pensiun umumnya ditawarkan oleh perusahaan formal besar dan menengah. Perusahaan kecil umumnya tidak memiliki kapasitas untuk menyediakan dukungan semacam itu, sehingga pekerja harus mencari kesempatan pelatihan eksternal. Ketimpangan ini menyoroti kebutuhan serikat pekerja untuk berperan lebih aktif dalam mempersiapkan anggotanya untuk kehidupan setelah pensiun.
“Pelatihan ini memungkinkan serikat pekerja untuk berkontribusi secara berarti pada pengembangan ekonomi,” jelas Djauhari Sitorus, Manajer Proyek ILO untuk Promise II Impact. “Dengan mempromosikan tabungan dan investasi jangka panjang, hal ini meningkatkan keamanan finansial dan menumbuhkan rasa stabilitas di kalangan pekerja. Ini, pada gilirannya, meningkatkan produktivitas dan memperkuat kualitas pekerja secara keseluruhan.”
Selama pelatihan, anggota serikat pekerja belajar cara mengembangkan ide bisnis dan mengubahnya menjadi rencana nyata. Rencana tersebut mencakup cara memproduksi dan menjual produk mereka, berapa banyak dana yang dibutuhkan, peralatan atau alat apa yang diperlukan dan cara mendaftarkan bisnis mereka secara resmi. Pada akhir program, peserta telah melahirkan berbagai ide dan rencana bisnis. Yang lebih penting, mereka meninggalkan pelatihan dengan perasaan lebih optimis dan percaya diri tentang masa depan mereka setelah pensiun.
Dengan mempromosikan tabungan dan investasi jangka panjang, hal ini meningkatkan keamanan finansial dan menumbuhkan rasa stabilitas di kalangan pekerja. Ini, pada gilirannya, meningkatkan produktivitas dan memperkuat kualitas pekerja secara keseluruhan.
Djauhari Sitorus, Manajer Proyek ILO untuk Promise II Impact
Selain pemberdayaan individu, Abdul Hakim, Staf Program ILO, mencatat bahwa pelatihan SYB berkontribusi pada manfaat kelembagaan dan sosial yang lebih luas. Anggota serikat pekerja yang mendirikan usaha lebih cenderung mematuhi Prinsip-prinsip dan Hak-hak Mendasar di Tempat Kerja, karena mereka telah mengalami langsung tantangan dalam dunia kerja. Komitmen mereka terhadap praktik ketenagakerjaan yang adil juga dapat menjadikan mereka sebagai teladan di komunitas mereka.
“Anggota serikat pekerja yang berwirausaha dan menghormati standar ketenagakerjaan dapat menginspirasi pekerja muda untuk terlibat dalam serikat pekerja,” kata Abdul. “Hal ini membantu menciptakan lingkungan bisnis yang berakar pada kepatuhan dan integritas, memperkuat peran serikat pekerja dalam mempromosikan pekerjaan yang layak dan pembangunan berkelanjutan.”