Membangun tempat kerja yang saling menghormati dan kolaboratif di sektor kopi Indonesia
Prakarsa bersama ILO-Nestlé memperkuat sektor kopi Indonesia dengan memberikan pelatihan tentang kerja sama di tempat kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari pelecehan.
4 Desember 2025
TANGGAMUS, Lampung, Indonesia (Berita ILO) - Sebagai agronomis di tingkat manajemen menengah di KUB Bintang Jaya, sebuah kelompok usaha pengumpul kopi di Kabupaten Tanggamus, Lampung, di mana Nestlé memperoleh kopinya, Annilen Vio Merila harus menjaga kelancaran komunikasi dengan atasan langsung, rekan kerja, agronomis Nestlé dan petani kopi. Sebagian besar pekerjaannya memang melibatkan koordinasi kegiatan lapangan dan pelatihan petani, di mana komunikasi yang jelas dan efektif menjadi sangat penting.
Namun, ia mengakui bahwa berinteraksi dengan berbagai orang dari latar belakang yang beragam, masing-masing dengan tanggung jawab dan kepentingan yang berbeda, tidak selalu mudah. “Saya selalu berusaha menjalin komunikasi dengan jelas,” ungkap dia. “Tapi jika orang yang Anda ajak bicara tidak mendengarkan dengan seksama atau salah menafsirkan apa yang Anda katakan karena prasangka dan asumsi, kesalahpahaman bisa terjadi dengan mudah. Ini menghambat upaya kerja sama dan dapat menyebabkan konflik.”
Annilen merupakan salah seorang dari 60 peserta dari kelompok usaha, perusahaan dan pemimpin kelompok petani dalam rantai pasok kopi Nestlé, serta anggota tim agronomis Nestlé, yang mengikuti pelatihan tentang kerja sama yang efektif di tempat kerja dan lingkungan kerja yang saling menghormati. Pelatihan yang diselenggarakan pada 25-26 November di Kota Lampung ini diselenggarakan oleh ILO dan Nestlé Indonesia dan difasilitasi oleh Yayasan Kemitraan Kerja (KKF), sebuah organisasi yang mempromosikan pekerjaan yang layak dan praktik bisnis yang bertanggung jawab di Indonesia.
Kontribusi ILO diberikan melalui proyek Vision Zero Fund Indonesia, yang bertujuan memperkuat keselamatan dan kesehatan di tempat kerja, kepatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaan, perlindungan sosial dan kesetaraan gender di sepanjang rantai pasok kopi Indonesia. Nilai-nilai yang sama juga secara konsisten dijunjung tinggi di Nestlé, di mana pekerja, sebagai “kekuatan untuk kebaikan”, menjadi inti dari perusahaan.
Berbagai metode pelatihan digunakan, termasuk presentasi, studi kasus dan berbagi pengetahuan tentang praktik terbaik. Melalui pendekatan ini, peserta belajar tentang manfaat kerja sama yang efektif di tempat kerja. Ini meliputi membangun keharmonisan relasi kerja antara pekerja dan manajemen berdasarkan dialog yang konstruktif, terbuka dan berlandaskan kepercayaan, serta peningkatan produktivitas dan kinerja kepatuhan.
Pelatihan juga memperkenalkan model dan teknik esensial untuk membantu peserta memperkuat keterampilan dalam komunikasi dan mendengarkan aktif, memberikan umpan balik, pemecahan masalah bersama dan manajemen konflik. Sesi ini diakhiri dengan penyusunan rencana aksi untuk kegiatan tindak lanjut di masa depan.
“Saya belajar cara mengemukakan pendapat dengan tepat, memberikan umpan balik tanpa menyinggung dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta. Komunikasi yang lebih jelas dan terstruktur menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan nyaman, serta mendukung produktivitas yang lebih tinggi,” Annilen berbagi. “Pembelajaran dari pelatihan ini juga dapat diterapkan langsung dalam aktivitas kerja sehari-hari, termasuk kerja tim, rapat dan diskusi.”
Adi Wicaksana, Kepala Divisi Crop Agriculture Nestlé Indonesia, menekankan pentingnya menegakkan budaya komunikasi yang jelas, saling menghormati dan kolaborasi konstruktif dalam lingkungan profesional, terutama dalam rantai pasok kopi.
“Komunikasi yang efektif dan hubungan kerja yang saling menghormati sangat penting untuk kolaborasi sehari-hari di sepanjang rantai pasok kopi kami,” ujarnya. “Melalui kerja sama dengan ILO, Nestlé Indonesia berupaya memperkuat kemampuan ini di antara mitra dan tim kami, membantu mereka mengelola perbedaan secara konstruktif serta mempromosikan lingkungan kerja yang aman, inklusif dan produktif. Kami percaya bahwa kerja sama yang kuat dan saling menghormati di tempat kerja merupakan landasan untuk membangun rantai pasok kopi yang tangguh dan berkelanjutan.”
Sebagai bagian dari komponen kerja sama di tempat kerja, pelatihan ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang saling menghormati dan terbebas dari diskriminasi serta pelecehan. Peserta juga diperkenalkan dengan Konvensi ILO No. 190 tentang Kekerasan dan Pelecehan, yang merupakan perjanjian internasional pertama yang mengakui hak setiap orang untuk bekerja di lingkungan yang bebas dari kekerasan dan pelecehan, termasuk kekerasan dan pelecehan berbasis gender.
Membangun budaya perusahaan yang berakar pada rasa hormat terhadap diri sendiri, orang lain, keragaman dan masa depan juga merupakan hal yang selalu diupayakan oleh Nestlé sebagai perusahaan. Nestlé secara tegas menerapkan Konvensi ILO No. 190, yang tercermin dalam kebijakan nol toleransi terhadap pelecehan, memastikan bahwa setiap orang diperlakukan secara adil, dipercaya untuk berkontribusi dan merasa menjadi bagian dari lingkungan kerja. Di luar para pekerjanya, Nestlé juga memperkuat kapasitas pemasok langsungnya untuk mematuhi komitmen kesetaraan gender, non-diskriminasi dan non-pelecehan sebagai bagian dari Kerangka Penjaminan Uji Tuntas Hak Asasi Manusia dan Lingkungan (HREDD) bagi Pemasok
“Mempromosikan kerja sama di tempat kerja dan lingkungan kerja yang menghormati sesuai dengan standar internasional ILO, khususnya Konvensi ILO No. 190, merupakan inti dari pekerjaan ILO. Kami senang dapat berkolaborasi dengan Nestlé Indonesia untuk mendorong topik-topik ini di perusahaan pengumpul kopi dan di kalangan aktor rantai pasok kopi secara luas,” kata Kristina Kurths, Manajer Proyek Dana Visi Nol ILO Indonesia.
Imas Syiatur Rosidah, S. Akun, staf administrasi KUB ASRB, mengapresiasi pengetahuan baru yang ia peroleh tentang cara menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi dan pelecehan. Ia mengakui bahwa sebelumnya ia tidak menyadari berbagai bentuk perilaku tersebut.
“Terkadang kita bercanda tentang rekan kerja, menganggapnya tidak berbahaya. Namun, orang yang menjadi sasaran candaan tersebut bisa terluka karenanya,” ujarnya. “Karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui bentuk-bentuk diskriminasi dan pelecehan yang ada, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah perilaku yang tidak dapat diterima, serta tanggung jawab perusahaan dalam pencegahan dan dukungan bagi korban.”
Related content
Vision Zero Fund
Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
Relevant projects
Vision Zero Fund
Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia