Migrasi kerja

Memanfaatkan digitalisasi untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja migran

Teknologi digital terus berkembang dan mengintegrasikan dunia dengan cara-cara baru dan inovatif. Pemangku kepentingan yang relevan di Indonesia mendiskusikan bagaimana memaksimalkan penggunaan teknologi untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja migran pada pertemuan persiapan Forum ASEAN untuk Migrasi Kerja (AFML) ke-11 di Singapura.

2 Oktober 2018

Content also available in: English
AFML merupakan kerangka terbuka untuk melakukan kajian, diskusi dan pertukaran praktik-praktik dan ide-ide yang baik di antara pemerintah, organisasi pekerja dan pengusaha serta masyarakat sipil mengenai berbagai permasalahan utama yang dihadapi para pekerja migran di Asia Tenggara. Diadakan setiap tahun, AFML yang ke-11 ini akan diselenggarakan pada 29-30 Oktober di Singapura. Sejalan dengan tema Singapura 2018 sebagai tuan rumah “Ketahanan dan Inovasi”, tema AFML tahun ini berfokus pada digitalisasi untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja migran di ASEAN.

Selain remitensi mobile yang dilakukan oleh Bank Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan telah mengembangkan aplikasi daring bernama 'TKI Keren” yang menyediakan akses atas informasi pekerjaan langsung kepada para pekerja migran dan menghilangkan calo."

Erwina W. Hendarti, Kepala Unit Kerja Sama Antar-Lembaga Direktorat Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan
Kementerian Ketenakerjaan Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Persiapan Tripartit Nasional Indonesia di Jakarta pada 27 September untuk membahas Forum ASEAN untuk Migrasi Kerja (AFML) ke-11 dan mempersiapkan rekomendasi nasional tentang cara memanfaatkan digitalisasi untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja migran.

Sejalan dengan tema tahun ini, Erwina W. Hendarti, Kepala Unit Kerja Sama Antar-Lembaga Direktorat Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan, memaparkan inisiatif yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dalam menyediakan layanan dan perlindungan yang lebih baik bagi pekerja migran Indonesia.

“Selain remitensi mobile yang dilakukan oleh Bank Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan telah mengembangkan aplikasi daring bernama 'TKI Keren” yang menyediakan akses atas informasi pekerjaan langsung kepada para pekerja migran dan menghilangkan calo,” jelas Erwina dalam sambutan pembukaannya.

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia, menekankan pentingnya digitalisasi dalam memajukan pekerjaan layak dan perlindungan hak pekerja migran. "Digitalisasi dan jaringan daring dapat memperkuat layanan yang diberikan kepada pekerja migran dan memperkuat manajemen migrasi," katanya.

Digitalisasi dan jaringan daring dapat memperkuat layanan yang diberikan kepada pekerja migran dan memperkuat manajemen migrasi."

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia
Selama lokakarya tersebut, para peserta membahas dan meninjau secara mendalam dua sub-tema AFML tahun ini: digitalisasi manajemen tenaga kerja migran dan layanan digital untuk pekerja migran. Praktik terbaik dari negara tetangga lainnya yang terkait dengan sub-tema ini juga dibagikan.

Marja Paavilainen, Staf Senior Program TRIANGLE di ASEAN, memaparkan inisiatif tentang tata kelola migrasi secara elektronik oleh Badan Kesejahteraan Pekerja Migran (OWWA) Filipina. OWWA mengembangkan kerangka daring bernama E-CARES untuk pengelolaan profil keanggotaan dan penyediaan bantuan kesejahteraan, pelatihan pra-keberangkatan, dukungan pengaduan, dan layanan lain bagi 8 juta anggota pekerja migran Filipina yang bekerja di luar negeri. Selain itu, ia juga berbagi tentang kerangka daring yang dikembangkan di Hongkong yang menghubungkan pekerja migran dan calon majikan.

Dia juga memperkenalkan TRIANGLE di portal perbandingan biaya remitansi berbasis situs di ASEAN, SaverAsia. “Kerangka ini akan diluncurkan di AFML di Singapura. Kerangka ini memungkinkan pekerja migran di ASEAN untuk menemukan tarif terbaik dan pilihan yang lebih hemat biaya dalam mengirim uang mereka ke rumah. Ini juga membantu para migran membuat keputusan untuk meningkatkan kesehatan keuangan mereka,” kata Marja.

Kerangka ini akan diluncurkan di AFML di Singapura. Kerangka ini memungkinkan pekerja migran di ASEAN untuk menemukan tarif terbaik dan pilihan yang lebih hemat biaya dalam mengirim uang mereka ke rumah. Ini juga membantu para migran membuat keputusan untuk meningkatkan kesehatan keuangan mereka."

Marja Paavilainen, Staf Senior Program TRIANGLE di ASEAN
Dalam sesi interaktif selama lokakarya, para peserta membahas baik manfaat maupun tantangan digitalisasi terhadap migrasi kerja. Beberapa tantangan yang teridentifikasi termasuk akses yang terbatas ke teknologi digital di beberapa daerah, terutama daerah pedesaan dan perkampungan, hambatan yang membatasi pekerja migran membawa telepon seluler mereka di lingkungan kerja, dan terbatasnya akses terhadap teknologi dan internet di negara-negara tujuan.

Pertemuan diakhiri dengan delapan rekomendasi dari pemangku kepentingan tripartit. Rekomendasi tersebut mencakup subtema AFML, termasuk fokus pada peningkatan koordinasi dan penyebaran informasi alat digital, menyederhanakan layanan ke dalam satu kerangka digital dan meningkatkan akses atas telepon seluler dan pelatihan literasi digital untuk pekerja migran. Rekomendasi ini akan dipaparkan oleh delegasi Indonesia pada pertemuan AFML di Singapura, sebelum AFML memutuskan rekomendasi akhir mengenai penggunaan digitalisasi untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja migran di ASEAN.

Selain Indonesia, pertemuan persiapan tripartit nasional serupa telah diselenggarakan di tujuh Negara Anggota ASEAN lainnya. Lokakarya ini didukung oleh ILO melalui program TRIANGLE ASEAN, yang merupakan kemitraan antara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), Global Affairs Canada (GAC), dan ILO. TRIANGLE di ASEAN memberikan bantuan dan dukungan teknis di tingkat regional dan nasional dengan tujuan keseluruhan memaksimalkan kontribusi migrasi kerja pada pertumbuhan yang adil, inklusif dan stabil di ASEAN.