Lokakarya Regional Kerjasama Selatan-Selatan: Menandai upaya regional menghapuskan pekerja anak pada 2016
Para pemimpin kunci yang mewakili pemerintah, pengusaha, serikat pekerja dan para pemangku kepentingan lainnya dari enam negara akan bertemu di Hotel Balairung Jakarta, Senin (4/3), untuk membahas mengenai upaya memperkuat kerjasama Selatan-Selatan guna memerangi pekerja anak.
4 Maret 2013
Content also available in:
English
JAKARTA (Siaran Pers Bersama): Para pemimpin kunci yang mewakili pemerintah, pengusaha, serikat pekerja dan para pemangku kepentingan lainnya dari enam negara akan bertemu di Hotel Balairung Jakarta, Senin (4/3), untuk membahas mengenai upaya memperkuat kerjasama Selatan-Selatan guna memerangi pekerja anak. Dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia, melalui dukungan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) sebagai tuan rumah, Lokakarya Regional tiga hari ini menandai upaya regional dalam menghapuskan pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya, di negara-negara peserta pada tahun 2016.
Lokakarya Regional ini akan menjadi forum dialog dan berbagai pengetahuan di antara para pemangku kepentingan mengenai capaian, tantangan dan pengalaman dalam menghapuskan pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya. Lokakarya ini pun bertujuan mengidentifikasi tantangan dan kesenjangan dalam pelaksanaan program penghapusan pekerja anak dan memperkuat kerjsama dan jejaring di antara negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Lokakarya ini akan memaparkan berbagai pelajaran dari negara-negara peserta, termasuk Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina dan Timor-Leste. Melalui kunjungan lapangan, lokakarya memberikan kesempatan bagi para peserta untuk belajar dari sejumlah kegiatan yag dilakukan Indonesia sebagai tuan rumah dalam menanggulangi pekerja anak. Para peserta akan mengunjungi dan melakukan pengamatan atas kegiatan-kegiatan dari pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat yang berlokasi di Jakarta bagi anak-anak jalanan, anak pemulung di Bantar Gebang Bekasi dan pekerja rumah tangga anak di Tangerang.
Di Indonesia, Kemenakertrans telah melakukan berbagai program penanggulangan pekerja anak, diantaranya kegiatan Pengurangan Pekerja Anak untuk mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH). Kegiatan ini diarahkan pada sasaran pekerja anak dan putus sekolah dari Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).
Tahun 2013, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menargetkan menarik sebanyak 11,000 pekerja anak dari pekerjaan-pekerjaan terburuk dan berbahaya yang tersebar di 21 provinsi dan 72 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Target penarikan pekerja anak ini meningkat dibandingkan tahun 2012 yang jumlah nya mencapai 10,750 pekerja anak. Keberhasilan dan tantangan dalam pelaksanaan program inilah yang akan dibagi oleh Indonesia dengan negara-negara lainnya.
Selanjutnya, Kamboja akan berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan strategi perlindungan sosial nasional dengan focks pada pekerja anak dan pendidikan; sementara Vietnam memaparkan strategi transisi dari sekolah ke dunia kerja sebagai upaya mengarusutamakan pekerja anak ke dalam pendidikan untuk semua. Laos dan Filipina akan berbagi pengalaman mereka terkait dengan pengumpulan dan analisis data mengenai pekerja anak sebagai bagian dari pengembangan kebijakan.
Lokakarya pun akan menggelar sesi praktik-praktik yang baik atas kebijakan pasar kerja sebagai langkah untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih baik di kawasan ini dalam penanggulangan pekerja anak. Diakhir hari ketiga, Lokakarya akan ditutup dengan perencanaan dan pemetaan strategis guna memastikan kawasan ini terbebas dari pekerja anak pada 2016.
ILO memperkirakan sekitar 215 juta anak di seluruh dunia menjadi pekerja anak. Sementara Badan Pusat Statistik mencatat terdapat sekitar 2,5 juta pekerja anak usia 5-17 tahun pada tahun 2009 di Indonesia. Sebagian besar dari mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang, dan acapkali dalam kondisi berbahaya yang dapat menghambat tumbuh-kembang mereka. Mereka pun tidak mendapatkan peluang pendidikan yang akan memberikan mereka masa depan yang lebih baik atau harus menyeimbangkan bekerja dengan bersekolah. Para pemangku kepentingan dari Indonesia dapat mengambil manfaat dari lokakarya ini melalui berbagi pengalaman dan memperkuat kerjsama dengan para negara tetangga dalam menanggulangi pekerja anak.
Lokakarya ini didukung oleh ILO melalui Proyek Pekerja Anak dan Pendidikan yang didanai Kementerian Luar Negeri Belanda. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesempatan bagi pekerja anak ataupun anak-anak yang rentan untuk bekerja atas pendidikan. Kampanye ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan yang dilakukan ILO bersama para mitranya untuk menegaskan kembali upaya-upaya memerangi pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Dede Sudono
Staf ILO untuk Pendidikan dan Pekerja Anak
Tel.: +6221 3913112 ext. 126
Email
Arum Ratnawati
Proyek Manajer ILO untuk Pekerja Rumah Tangga Anak
Tel.: +6221 3913112 ext. 130
Email
Lokakarya Regional ini akan menjadi forum dialog dan berbagai pengetahuan di antara para pemangku kepentingan mengenai capaian, tantangan dan pengalaman dalam menghapuskan pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya. Lokakarya ini pun bertujuan mengidentifikasi tantangan dan kesenjangan dalam pelaksanaan program penghapusan pekerja anak dan memperkuat kerjsama dan jejaring di antara negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Di Indonesia, Kemenakertrans telah melakukan berbagai program penanggulangan pekerja anak, diantaranya kegiatan Pengurangan Pekerja Anak untuk mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) yang disasarkan kepada pekerja anak dan putus sekolah dari rumah tangga sangat miskin.
Lokakarya ini akan memaparkan berbagai pelajaran dari negara-negara peserta, termasuk Indonesia, Laos, Kamboja, Vietnam, Filipina dan Timor-Leste. Melalui kunjungan lapangan, lokakarya memberikan kesempatan bagi para peserta untuk belajar dari sejumlah kegiatan yag dilakukan Indonesia sebagai tuan rumah dalam menanggulangi pekerja anak. Para peserta akan mengunjungi dan melakukan pengamatan atas kegiatan-kegiatan dari pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat yang berlokasi di Jakarta bagi anak-anak jalanan, anak pemulung di Bantar Gebang Bekasi dan pekerja rumah tangga anak di Tangerang.
Di Indonesia, Kemenakertrans telah melakukan berbagai program penanggulangan pekerja anak, diantaranya kegiatan Pengurangan Pekerja Anak untuk mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH). Kegiatan ini diarahkan pada sasaran pekerja anak dan putus sekolah dari Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).
Tahun 2013, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menargetkan menarik sebanyak 11,000 pekerja anak dari pekerjaan-pekerjaan terburuk dan berbahaya yang tersebar di 21 provinsi dan 72 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Target penarikan pekerja anak ini meningkat dibandingkan tahun 2012 yang jumlah nya mencapai 10,750 pekerja anak. Keberhasilan dan tantangan dalam pelaksanaan program inilah yang akan dibagi oleh Indonesia dengan negara-negara lainnya.
Selanjutnya, Kamboja akan berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan strategi perlindungan sosial nasional dengan focks pada pekerja anak dan pendidikan; sementara Vietnam memaparkan strategi transisi dari sekolah ke dunia kerja sebagai upaya mengarusutamakan pekerja anak ke dalam pendidikan untuk semua. Laos dan Filipina akan berbagi pengalaman mereka terkait dengan pengumpulan dan analisis data mengenai pekerja anak sebagai bagian dari pengembangan kebijakan.
Lokakarya pun akan menggelar sesi praktik-praktik yang baik atas kebijakan pasar kerja sebagai langkah untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih baik di kawasan ini dalam penanggulangan pekerja anak. Diakhir hari ketiga, Lokakarya akan ditutup dengan perencanaan dan pemetaan strategis guna memastikan kawasan ini terbebas dari pekerja anak pada 2016.
ILO memperkirakan sekitar 215 juta anak di seluruh dunia menjadi pekerja anak. Sementara Badan Pusat Statistik mencatat terdapat sekitar 2,5 juta pekerja anak usia 5-17 tahun pada tahun 2009 di Indonesia. Sebagian besar dari mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang, dan acapkali dalam kondisi berbahaya yang dapat menghambat tumbuh-kembang mereka. Mereka pun tidak mendapatkan peluang pendidikan yang akan memberikan mereka masa depan yang lebih baik atau harus menyeimbangkan bekerja dengan bersekolah. Para pemangku kepentingan dari Indonesia dapat mengambil manfaat dari lokakarya ini melalui berbagi pengalaman dan memperkuat kerjsama dengan para negara tetangga dalam menanggulangi pekerja anak.
Lokakarya ini didukung oleh ILO melalui Proyek Pekerja Anak dan Pendidikan yang didanai Kementerian Luar Negeri Belanda. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesempatan bagi pekerja anak ataupun anak-anak yang rentan untuk bekerja atas pendidikan. Kampanye ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan yang dilakukan ILO bersama para mitranya untuk menegaskan kembali upaya-upaya memerangi pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Dede Sudono
Staf ILO untuk Pendidikan dan Pekerja Anak
Tel.: +6221 3913112 ext. 126
Arum Ratnawati
Proyek Manajer ILO untuk Pekerja Rumah Tangga Anak
Tel.: +6221 3913112 ext. 130