Laporan terbaru ILO: Indonesia perlu arus perubahan struktural kedua untuk menjamin lapangan kerja terkait perubahan teknologi
Indonesia telah mempertahankan momentum pertumbuhan yang stabil. Tingkat pengangguran menurun, namun masih banyak orang yang melakukan pekerjaan dengan produktivitas rendah. Selanjutnya, laiknya negara-negara dengan perekonomian menengah dan terindustrilisasi, Indonesia menghadapi tantangan kemajuan teknologi yang akan membentuk perekonomian dan pekerjaan masa depan
14 Desember 2017
Selain mengkaji tren ekonomi dan ketenagakerjaan di negeri inni, laporan juga melihat arus perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap pekerjaan masa depan. “Sifat pertumbuhan sejak krisis 1997 telah berubah dan berdampak pada pekerjaan,” ujar Owais Parray, Ekonom dari Kantor ILO Jakarta yang juga penulis utama laporan ini.
Laporan memperlihatkan bahwa sebelum tahun 1997, sektor manufaktur Indonesia tumbuh pesat dengan pertumbuhan lapangan kerja yang sepadan. Namun laju penciptaan lapangan kerja di bidang manufaktur melambat. Tingkat pengangguran yang relatif rendah menurun ke angka 5,3 persen pada 2017 tidak sepenuhnya menggambarkkan situasi ketenagakerjaan di negara ini. Masih terdapat defisit besar dalam hasil ketenagakerjaan berdasarkan produktivitas, kualitas kerja, gender dan disparitas di seluruh provinsi. Misalnya pengangguran di kalangan muda masih mencapai 19,4 persen, yang jauh lebih tinggi dari rata-rata global. Lebih dari 57 persen pekerja berada di pekerjaan rentan.Sifat pertumbuhan sejak krisis 1997 telah berubah dan berdampak pada pekerjaan."
Owais Parray, Ekonom dari Kantor ILO Jakarta yang juga penulis utama laporan ini
Laporan juga memaparkan dua sudut pandang terkait teknologi dan pekerjaan. Sebagian orang melihat teknologi memainkan peran “penghancuran kreatif” untuk memacu inovasi dan pertumbuhan, sementara pandangan yang berlawanan mengatakan keduanya saling bersaing. Ada kesepakatan bahwa teknologi baru dalam proses produksi dapat mengakibatkan hilangnya pekerjaan, paling tidak dalam jangka pendek. Studi-studi memperlihatkan bahwa sejumlah pekerjaan yang melibatkan tugas rutin menghadapi ancaman terbesar dari otomatisasi dan mesin.
Untuk menangani tantangan ini, laporan merekomendasikan Indonesia untuk tidak menolak perubahan-perubahan teknologi. Negara ini harus menghilangkan ketergantungan kepada indusri ekstraktif dan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru dalam manufaktur dan jasa bernilai tinggi. Dalam hal ini, teknologi dapat dijadikan sebagai katalis untuk mendorong gelombang transformasi struktural baru.
Dengan pertumbuhan yang disebut sebagai gig economy, sistem tatakelola ketenagakerjaan saat ini harus ditinjau ulang untuk memberikan perlindungan dan jaminan sosial bagi para pekerja yang terlibat dalam pekerjaan non-standar."
Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia
“Budaya pembelajaran seumur hidup harus dilembagakan agar para pekerja dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan di pasar tenaga kerja,” ujar Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia. “Dengan pertumbuhan yang disebut sebagai gig economy, sistem tatakelola ketenagakerjaan saat ini harus ditinjau ulang untuk memberikan perlindungan dan jaminan sosial bagi para pekerja yang terlibat dalam pekerjaan non-standar,” ia menambahkan.
Pada acara peluncuran, temuan-temuan laporan ini dibahas oleh para pembicara pakar seperti Mari Elka Pangestu, Profesor Perdagangan Internasional dan Ekonomi, Universitas Indonesia yang juga mantan Menteri Perdagangan serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, M. Rudy Salahudin, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya Saing dan Usaha Kecil Menengah, Kementerian Koordinasi bidang Perekonomian, Roby Arya Brata, Asisten Deputi bidang Perniagaan, Kewirausahaan dan Ketenagakerjaan Sekretariat Kabinet Indonesia dan Harijanto, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
Laporan ini merupakan publikasi tahunan ILO Indonesia. Laporan ini memberikan analisis mendalam mengenai situasi ketenagakerjaan dan perburuhan di negara ini. Laporan bertujuan memberikan wacana kebijakan nasional, mendorong terciptanya diskusi-diskusi dan membantu membentuk kebijakan dan program ekonomi dan ketenagakerjaan di negara ini.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Owais ParrayEkonom ILO
Tel.: +6221 391 3112 ext. 167
Email: [email protected]
Tendy Gunawan
Staf ILO untuk Ketenagakerjaan
Tel.: +6221 391 3112 ext. 116
Email: [email protected]
Gita Lingga
Staf Komunikasi ILO
Tel.: +6221 391 3112 ext. 115
Email: [email protected]