Koperasi membantu komunitas transgender menjadi lebih berdaya secara ekonomi
ILO memprakarsai diskusi dengan komunitas transgender Indonesia untuk menemukan model kerja sama yang dapat membantu mereka lebih berdaya dan tangguh secara ekonomi.
22 Maret 2021
Untuk membantu komunitas transgender membangun mata pencarian dan kehidupan ekonomi yang lebih baik, ILO mengadakan webinar awal tentang model koperasi bagi komunitas transgender Indonesia. Diselenggarakan secara virtual pada 17 Maret, webinar tersebut diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai komunitas transgender di Jakarta, Jawa Barat dan Yogyakarta.Mengapa koperasi bermanfaat bagi komunitas transgender? Koperasi merupakan salah satu bentuk aksi kolektif yang lebih kuat dibandingkan aksi individu. Beberapa manfaatnya antara lain berbagi beban kerja, sumber daya bersama, daya tawar yang lebih kuat, penghematan biaya dan berbagi pengetahuan."
Simel Esim, Kepala Unit Koperasi (COOP) ILO
Webinar ini difasilitasi oleh Unit Koperasi (COOP) ILO, dipimpin oleh Simel Esim, Kepala COOP ILO. Simel menekankan bahwa ILO telah mengakui pentingnya koperasi sebagai sarana untuk mencapai keadilan sosial dan pekerjaan yang produktik bagi semua sejak awal ILO didirikan pada 1919.
“Mengapa koperasi bermanfaat bagi komunitas transgender? Koperasi merupakan salah satu bentuk aksi kolektif yang lebih kuat dibandingkan aksi individu. Beberapa manfaatnya antara lain berbagi beban kerja, sumber daya bersama, daya tawar yang lebih kuat, penghematan biaya dan berbagi pengetahuan,” jelasnya.
Tim COOP ILO juga berbagi pengalaman tentang model koperasi transgender di tiga negara: Argentina, India dan Filipina. Mereka juga mengajak peserta untuk mempelajari tantangan dan peluang dari negara-negara tersebut, khususnya Filipina sebagai negara tetangga Indonesia.
Di Argentina, koperasi menangani fesyen sebagai lini bisnis utamanya, sedangkan di India, koperasi didukung oleh pemerintah daerah yang terfokus pada kesejahteraan sosial komunitas transgender. Di Filipina, koperasi bertujuan untuk memberikan bantuan pengelolaan keuangan bagi anggotanya melalui pelatihan, saran dan bantuan keuangan sebagai upaya pembelajaran sebaya.
Belajar dari kegagalan sebelumnya
Merespons pembelajaran tersebut, komunitas transgender yang menjadi peserta berbagi tantangan utama dalam pengembangan koperasi di komunitasnya. Mereka mengidentifikasi kurangnya kapasitas manajemen, kurangnya komitmen anggota dan kurangnya pendapatan tetap sebagai hambatan utama dalam mengembangkan koperasi yang menguntungkan anggotanya.“Sulit mencari individu yang mampu mengelola koperasi. Akibatnya, koperasi tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya,” ungkap Rully Mallay, Yayasan Kebaya. Cerita berbeda disampaikan Rere Agistya dari Sanggar Suara. “Koperasi kita harus ditutup karena anggotanya tidak memiliki komitmen untuk mengembalikan pinjaman,” kisahnya.
Belajar dari hambatan tersebut, salah satu komunitas transgender di Jawa Barat, Yayasan Srikandi Pasundan, kini tengah menggagas pengembangan koperasi bagi anggotanya. Dengan dukungan dari Dinas Koperasi Provinsi, mereka kini tengah mengumpulkan modal awal dari ke-25 anggotanya.Belajar dari kegagalan, kami sekarang terfokus pada anggota tetap yang memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Untuk tahun pertama, kami mengumpulkan dana dari anggota kami untuk digunakan sebagai modal koperasi di tahun kedua."
Barby Gita, Yayasan Srikandi Pasundan
“Belajar dari kegagalan, kami sekarang terfokus pada anggota tetap yang memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. Untuk tahun pertama, kami mengumpulkan dana dari anggota kami untuk digunakan sebagai modal koperasi di tahun kedua,” ujar Barby Gita seraya menambahkan bahwa mereka juga berencana memperluas koperasi dengan merekrut anggota tidak tetap, khususnya dari komunitas yang belum memiliki pendapatan tetap.
Webinar diakhiri dengan langkah-langkah ke depan. Tendy Gunawan, Staf ILO untuk Kesetaraan Kesempatan Kerja, menyoroti pentingnya pemahaman yang baik tentang koperasi serta tantangan dan peluangnya bagi komunitas transgender sebagai langkah awal. Ia juga membahas tiga modul ILO terkait koperasi: Think Coop, Start Coop dan Manage Coop.
“ILO dapat mendukung model koperasi bagi komunitas transgender Indonesia dengan memanfaatkan modul-modul ILO. Misalnya, Modul Think Coop ILO sangat cocok untuk mereka yang masih perlu belajar tentang koperasi dan cara kerjanya, sedangkan modul kedua, Start Coop, adalah modul yang tepat bagi mereka yang telah memulai pengembangan koperasi seperti Srikandi Pasundan,” Tendy menjelaskan.
Hingga saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 150.000 koperasi aktif yang terfokus pada pemberdayaan masyarakat. Koperasi menawarkan akses permodalan kepada anggotanya dengan suku bunga rendah dan fleksibilitas dalam pembayaran.