Kepatuhan standar ketenagakerjaan kunci untuk membangun rantai pasokan yang berkelanjutan di sektor perikanan
Program dua hari ILO untuk peningkatan kapasitas bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan hukum ketenagakerjaan, kesetaraan gender dan kondisi kerja di industri perikanan.
15 Desember 2022
Content also available in:
English
Indonesia merupakan salah satu produsen ikan terbesar dan menjadi negara yang paling bergantung pada ikan di dunia. Sektor perikanan tangkap sendiri telah mempekerjakan 2,1 juta pekerja. Namun, kendati menjadi sumber mata pencarian, industri perikanan lekat dengan kemiskinan dan kondisi kerja yang buruk, terutama pada rantai pasokan tingkat bawah di daerah pedesaan dan menempatkan pekerja perempuan pada posisi yang lebih tidak menguntungkan.
Untuk meningkatkan kepatuhan hukum ketenagakerjaan dan kondisi kerja di sektor ini, ILO menyelenggarakan acara nasional bersama Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) pada 8-9 Desember di Jakarta. Salah satu tujuannya juga untuk mengembangkan rantai pasokan yang berkelanjutan karena hal ini menjadi pendorong kuat nilai finansial bagi bisnis.
Dalam acara dua hari ini, lebih dari 50 anggota AP2HI belajar tentang standar yang melindungi hak-hak dasar pekerja, meningkatkan keamanan kerja pekerja dan memperbaiki ketentuan kerja dalam skala global serta kesetaraan dan non-diskriminasi gender dalam konteks masa depan pekerjaan. Para anggota mengakui standar ketenagakerjaan membebani seluruh jejak keberlanjutan perusahaan mana pun dan kegagalan dalam rantai pasokan global meningkatkan risiko laba, defisit pekerjaan yang layak dan pelemahan hak di tempat kerja.
Tedy Harmoko, General Manager PT. Nutrindo Fresfood Internasional, menegaskan kembali kondisi kerja yang keras di industri perikanan. Dengan demikian, menjaga lingkungan yang aman dan sehat di tempat kerja telah menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan perikanan yang mengandalkan komitmen baik dari pekerja maupun manajemen.
“Lokakarya yang diselenggarakan oleh ILO mengingatkan kami akan prinsip mengutamakan manusia. Mempromosikan kepatuhan standar ketenagakerjaan di dunia kerja yang terus berkembang adalah cara untuk mencapai tujuan rantai pasokan yang layak dan berkelanjutan,” tambah Tedy.
Acara ini juga berfokus pada standar ketenagakerjaan tentang K3 dan perangkat ILO untuk meningkatkan pengetahuan tentang masalah ini yang dikenal dengan nama Pembelajaran K3 daring, sebuah sistem pembelajaran daring untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pekerja dan manajemen mengenai prinsip-prinsip K3.
Fransiska Sonya Puspita, Sustainability and FIP Officer dari PT Pahala Bahari Nusantara, perusahaan pengolah loin tuna beku, menyoroti pentingnya K3 dan ketenagakerjaan. “Untuk langkah selanjutnya, saya akan memperkenalkan Pembelajaran K3 daring di tempat kerja saya untuk meningkatkan dan memperkuat kesadaran K3 manajemen dan pekerja,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kepatuhan hukum ketenagakerjaan dan kondisi kerja di sektor ini, ILO menyelenggarakan acara nasional bersama Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) pada 8-9 Desember di Jakarta. Salah satu tujuannya juga untuk mengembangkan rantai pasokan yang berkelanjutan karena hal ini menjadi pendorong kuat nilai finansial bagi bisnis.
Dukungan ILO diberikan melalui Proyek Peningkatan Hak Pekerja di Sektor Rural Indo-Pasifik dengan Fokus pada Perempuan. Didanai oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (USDOL), proyek ini bekerja sama dengan mitra tingkat regional dan nasional untuk mencapai kondisi kerja yang lebih baik, terutama bagi pekerja perempuan di sektor perikanan dan kelapa sawit melalui kepatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaan terutama pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan kesetaraan gender.Lokakarya yang diselenggarakan oleh ILO mengingatkan kami akan prinsip mengutamakan manusia. Mempromosikan kepatuhan standar ketenagakerjaan di dunia kerja yang terus berkembang adalah cara untuk mencapai tujuan rantai pasokan yang layak dan berkelanjutan."
Tedy Harmoko, General Manager PT. Nutrindo Fresfood Internasional
Dalam acara dua hari ini, lebih dari 50 anggota AP2HI belajar tentang standar yang melindungi hak-hak dasar pekerja, meningkatkan keamanan kerja pekerja dan memperbaiki ketentuan kerja dalam skala global serta kesetaraan dan non-diskriminasi gender dalam konteks masa depan pekerjaan. Para anggota mengakui standar ketenagakerjaan membebani seluruh jejak keberlanjutan perusahaan mana pun dan kegagalan dalam rantai pasokan global meningkatkan risiko laba, defisit pekerjaan yang layak dan pelemahan hak di tempat kerja.
Tedy Harmoko, General Manager PT. Nutrindo Fresfood Internasional, menegaskan kembali kondisi kerja yang keras di industri perikanan. Dengan demikian, menjaga lingkungan yang aman dan sehat di tempat kerja telah menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan perikanan yang mengandalkan komitmen baik dari pekerja maupun manajemen.
“Lokakarya yang diselenggarakan oleh ILO mengingatkan kami akan prinsip mengutamakan manusia. Mempromosikan kepatuhan standar ketenagakerjaan di dunia kerja yang terus berkembang adalah cara untuk mencapai tujuan rantai pasokan yang layak dan berkelanjutan,” tambah Tedy.
Acara ini juga berfokus pada standar ketenagakerjaan tentang K3 dan perangkat ILO untuk meningkatkan pengetahuan tentang masalah ini yang dikenal dengan nama Pembelajaran K3 daring, sebuah sistem pembelajaran daring untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pekerja dan manajemen mengenai prinsip-prinsip K3.
Fransiska Sonya Puspita, Sustainability and FIP Officer dari PT Pahala Bahari Nusantara, perusahaan pengolah loin tuna beku, menyoroti pentingnya K3 dan ketenagakerjaan. “Untuk langkah selanjutnya, saya akan memperkenalkan Pembelajaran K3 daring di tempat kerja saya untuk meningkatkan dan memperkuat kesadaran K3 manajemen dan pekerja,” ujarnya.