Kewirausahaan inklusif
Indonesia memperkuat kewirausahaan inklusif untuk kelompok rentan
Dengan dukungan dari ILO, Kementerian Ketenagakerjaan memberdayakan penyandang disabilitas, lansia, perempuan rentan dan kaum muda berisiko melalui program kewirausahaan.
16 September 2025
BEKASI, Jawa Barat, Indonesia (Berita ILO) – Kementerian Ketenagakerjaan, bekerja sama dengan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), meluncurkan program pengembangan kapasitas kewirausahaan komprehensif pada 10 September 2025. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan penyandang disabilitas, lansia, perempuan rentan dan kaum muda berisiko. Acara yang digelar di Balai Perluasan Kesempatan Kerja (BPKK) Kementerian Ketengakerjaan di Bekasi ini dihadiri sekitar 200 peserta, termasuk 30 penyandang disabilitas, mencerminkan komitmen pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif.
Pentingnya, program ini diinisiasi atas permintaan Kementerian Ketenagakerjaan sebagai bagian dari Program Layanan Kewirausahaan 2025 yang lebih luas. Untuk memastikan integrasi praktik terbaik internasional dalam pengembangan usaha dan keuangan inklusif, Kementerian meminta dukungan teknis ILO dalam merancang pelatihan. Dukungan ini dilaksanakan melalui proyek Mempromosikan Usaha Mikro dan Kecil melalui Akses Kewirausahaan terhadap Layanan Keuangan (Promise II Impact), yang didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO).
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan peran vital kewirausahaan tidak hanya dalam menciptakan mata pencarian, tetapi juga dalam memperkuat komunitas dan mendorong perkembangan nasional. “Keadilan sosial hanya mungkin terwujud ketika kelompok yang kurang beruntung diberdayakan, dan ekonomi inklusif menjadi landasan kemajuan nasional. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berhasil,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Keadilan sosial hanya mungkin terwujud ketika kelompok yang kurang beruntung diberdayakan, dan ekonomi inklusif menjadi landasan kemajuan nasional. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berhasil.
Yassierli, Menteri Ketenagakerjaan
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan peran vital kewirausahaan tidak hanya dalam menciptakan mata pencarian, tetapi juga dalam memperkuat komunitas dan mendorong perkembangan nasional. “Keadilan sosial hanya mungkin terwujud ketika kelompok yang kurang beruntung diberdayakan, dan ekonomi inklusif menjadi landasan kemajuan nasional. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dan berhasil,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
“Inisiatif ini melengkapi upaya kami yang lebih luas dalam proyek Promise II Impact untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan memperkuat kapasitas UMKM di seluruh Indonesia. Dengan mendukung kelompok rentan untuk mengembangkan usaha yang berkelanjutan, kami membantu mempromosikan pekerjaan yang layak, pertumbuhan usaha dan inklusi keuangan,” kata Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact ILO.
Pelatihan ini memberikan peserta pengetahuan praktis dalam manajemen bisnis, pemasaran dan literasi keuangan. Di luar kelas, pelatihan ini menawarkan bimbingan berkelanjutan, peluang pencocokan usaha dan dukungan dalam mengakses modal serta pasar, memastikan peserta dapat mempertahankan dan mengembangkan usaha mereka.
Siti Nuraeni, seorang petani sayur lanjut usia, berbagi, “Pelatihan ini mengajarkan saya cara mengembangkan usaha, mengelola pemasaran, beban kerja, dan keuangan. Ini memberi saya kepercayaan diri untuk melangkah maju.” Demikian pula, Tati Sukanti, yang mengelola rumah kos kecil, mengatakan, “Program ini membantu pekerja lansia tetap produktif dan mandiri. Saya tidak lagi bergantung pada anak-anak saya. Saya dapat mengelola bisnis saya sendiri.”
Bagi peserta dengan disabilitas, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis tetapi juga pengakuan. Seorang wirausaha yang mengelola bisnis merangkai bunga dengan bangga berbagi bahwa produknya dibeli dan dipuji oleh Menteri Yassierli selama acara, yang menyiratkan penghargaan simbolis untuk semakin memperkuat usaha yang dikelola penyandang disabilitas untuk bersaing dan berkembang.