Hari Migran Internasional
Indonesia memperkuat aspirasi dan solidaritas lintas batas pekerja migran perempuan untuk perekrutan yang adil dan tempat kerja bebas dari kekerasan
ILO dan mitranya mendukung Pemerintah Indonesia dalam mempromosikan perlindungan hak-hak pekerja migran dan mendorong tata kelola migrasi kerja yang responsif gender.
19 Desember 2025
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Indonesia memperkuat aspirasi dan kepemimpinan pekerja migran perempuan melalui serangkaian kegiatan pembangunan kapasitas digital lintas batas dan dialog yang bertujuan untuk mempromosikan migrasi yang aman, perekrutan yang adil dan tempat kerja bebas dari kekerasan dan pelecehan. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan UN Women, bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI/BP2MI), menyelenggarakan serangkaian kegiatan hibrida dengan tema “Memperkuat Suara dan Solidaritas Lintas Batas di Ruang Digital untuk Mencapai Perekrutan yang Adil dan Pekerjaan Layak Bebas dari Kekerasan terhadap Pekerja Migran Perempuan.”
Inisiatif ini merupakan bagian dari peringatan global untuk 16 Hari Aksi Melawan Kekerasan Berbasis Gender dan Hari Migran Internasional, yang menyoroti komitmen Indonesia dalam melindungi hak-hak pekerja migran dan mempromosikan tata kelola migrasi kerja yang responsif gender.
Menerapkan perspektif gender pada konten digital adalah cara yang kuat untuk memastikan bahwa aspirasi, pengalaman dan perspektif perempuan diwakili dan diperkuat secara adil.
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor Leste
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor Leste, mengapresiasi upaya bersama ini untuk memberdayakan pekerja migran perempuan, menekankan bahwa suara kolektif dan solidaritas lintas batas sangat penting untuk mengubah tata kelola migrasi menjadi sistem yang adil, transparan dan berbasis hak. “Menerapkan perspektif gender pada konten digital adalah cara yang kuat untuk memastikan bahwa aspirasi, pengalaman dan perspektif perempuan diwakili dan diperkuat secara adil,” ujarnya.
Dia juga mencatat bahwa dukungan ILO diberikan melalui proyek PROTECT, yang mempromosikan pekerjaan yang layak dan mengurangi kerentanan di kalangan mereka yang berisiko dengan memastikan hak-hak kerja dan mencegah serta menanggapi kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, perdagangan manusia dan penyelundupan migran.
Para peserta didukung untuk mengembangkan konten digital yang etis, responsif gender dan berbasis bukti yang mempromosikan migrasi aman, perekrutan yang adil, hak asasi manusia dan hak kerja, serta keamanan siber. Lima vlogger pekerja migran perempuan yang berbasis di negara tujuan memproduksi konten pendidikan dan memimpin dialog lintas batas dengan pejabat pemerintah, mantan pekerja migran dan komunitas lokal. Dialog-dialog ini menyoroti pentingnya hak kerja migran, perekrutan yang adil dan penghapusan kekerasan terhadap pekerja migran perempuan.
Menjamin hak pekerja migran, termasuk perempuan dan mereka yang bekerja di sektor informal, untuk berorganisasi, melakukan perundingan bersama dan bergabung dengan serikat pekerja merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah eksploitasi. Di tempat-tempat di mana serikat pekerja kuat, kita melihat tingkat pekerja anak, perdagangan manusia dan kerja paksa yang lebih rendah. Program-program ini memperkuat kolaborasi lintas batas di antara pekerja migran perempuan yang berperan sebagai vlogger, pengorganisir komunitas dan pemimpin serikat pekerja migran di Indonesia, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Hongkong, seraya melawan stereotip berbahaya yang memperkuat stigma dan diskriminasi.
MRC memainkan peran krusial dalam mencegah praktik perekrutan yang eksploitatif, mendukung jalur migrasi yang aman dan memperkuat sistem perlindungan tingkat lokal bagi pekerja migran yang akan berangkat, sedang bermigrasi dan pulang kembali.
Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Proyek PROTECT di Indonesia
Dialog, pelatihan dan kegiatan penyuluhan dilaksanakan di lima kabupaten – Cirebon di Jawa Barat, Lampung Timur di Lampung, Tulungagung di Jawa Timur, Kupang di Nusa Tenggara Timur dan Deli Serdang di Sumatra Utara – melalui Pusat Informasi Pekerja Migran (MRC). MRC ini menyediakan informasi, layanan dan perlindungan esensial bagi pekerja migran, terutama perempuan, sepanjang perjalanan migrasi mereka, mulai dari pra-keberangkatan hingga kembali. Pekerjaan mereka berfokus pada mempromosikan migrasi yang aman, adil dan berbasis hak.
“ILO telah mendukung pengembangan dan pendirian MRC ini bersama para mitranya. MRC memainkan peran krusial dalam mencegah praktik perekrutan yang eksploitatif, mendukung jalur migrasi yang aman dan memperkuat sistem perlindungan tingkat lokal bagi pekerja migran yang akan berangkat, sedang bermigrasi dan pulang kembali,” ungkap Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Proyek PROTECT di Indonesia.
Serangkaian kegiatan komprehensif adalah sebagai berikut:
- Pelatihan Daring tentang Pengembangan Konten Pendidikan Digital dan Penggunaan Aplikasi yang Aman (13-14 Desember 2025), yang membekali 30 aktivis serikat pekerja migran (80 persen di antaranya adalah perempuan) di Indonesia dan negara tujuan dengan keterampilan untuk menciptakan konten pendidikan dan menggunakan alat digital yang aman guna mencegah penipuan daring, kekerasan dan pelecehan.
- Lokakarya lintas batas (15 Desember 2025) untuk mengembangkan konten beretika, responsif gender dan berbasis bukti yang mempromosikan migrasi aman, perekrutan yang adil, hak asasi manusia dan hak kerja, keamanan siber, serta pencegahan stereotip berbahaya.
- Pembimbingan kelompok (16–17 Desember 2025) untuk mendukung pengembangan konten dan mempersiapkan peserta untuk dialog lintas batas dengan pejabat pemerintah, mantan pekerja migran dan komunitas di lima kabupaten sasaran.
- Acara peningkatan kesadaran, pelatihan dan dialog lintas batas tingkat lokal (18 Desember 2025-07 Januari 2026) yang diselenggarakan oleh MRC di Cirebon, Tulungagung, Lampung Timur, Deli Serdang dan Kupang. Lebih dari 150 perwakilan pemerintah lokal, mantan pekerja migran dan pemangku kepentingan komunitas berinteraksi langsung dengan pekerja migran perempuan di negara tujuan untuk memperkuat pemahaman dan kolaborasi dalam migrasi aman dan perekrutan yang adil.