Tinjauan Pasar Kerja Indonesia 2016
Indonesia harus terfokus pada pertumbuhan peluang kerja
Dengan jumlah penduduk usia muda yang cukup besar dan kekayaan alam yang berlimpah, Indonesia dapat memanfaatkan kelebihan atas demografinya. Namun, untuk mewujudkan hal ini, Indonesia perlu menciptakan peluang-peluang ekonomi dan berinvestasi pada sumber daya manusia sehingga memungkinkan lebih banyak orang untuk terlibat dalam pekerjaan yang produktif dan layak.
19 September 2016
Hal tersebut mengemuka menjadi beberapa kesimpulan utama dari dialog interaktif berjudul “Kualitas Pekerja Indonesia: Siapa yang Bertanggungjawab?”, pada 15 September lalu. Dialog ini diselenggarakan oleh Radio Sonora, sebuah jaringan radio terkemuka di Jakarta, dan ILO. Selama gelar wicara ini, ILO menyajikan edisi terakhir dari Tinjauan Bursa Kerja Indonesia, 2016.
Selain dari pemirsa radio, lebih dari 50 peserta menghadiri dialog interaktif tersebut. Berbagai persoalan ekonomi dan ketenagakerjaan dibahas, termasuk pola-pola pertumbuhan, tingkat pengangguran muda yang tinggi, kesenjangan gender dan pengembangan keterampilan.Banyak pemerintah provinsi yang belum berfokus pada kesempatan kerja. Mereka harus bekerja secara aktif dengan sektor swasta dan memberikan insentif pada perusahaan untuk menyerap lebih banyak pencari kerja."
Aviliani, ekonom terkemuka Indonesia
Owais Parray, Ekonom ILO “Kita menyaksikan perlambatan pertumbuhan secara serentak, namun Indonesia dapat melakukan banyak hal untuk memanfaatkan potensinya yang sangat besar. Indonesia perlu memanfaatkan pertumbuhan dan kesempatan kerja di sektor manufaktur dan jasa yang bernilai lebih tinggi,” kata Owais Parray, ahli ekonomi ILO.
Aviliani, Ekonom Indonesia Aviliani, ekonom terkemuka Indonesia, menyoroti bahwa demografi Indonesia dengan jumlah kaum muda yang tinggi dapat menjadi keuntungan bagi negara. Sayangnya, pemerintah di tingkat daerah tidak memberikan banyak perhatian pada kesempatan kerja tersebut. “Banyak pemerintah provinsi yang belum berfokus pada kesempatan kerja. Mereka harus bekerja secara aktif dengan sektor swasta dan memberikan insentif pada perusahaan untuk menyerap lebih banyak pencari kerja,” ujarnya.
Harijanto, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sementara itu, Harijanto, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menekankan pentingnya pekerja yang berkeahlian dan memiliki kualifikasi yang diperlukan oleh perusahaan. “Masih sulit untuk menemukan pekerja yang memiliki kualifikasi di tingkat manajerial. Akhirnya, perusahaan memperkerjakan pekerja-pekerja asing. Karenanya, di masa mendatang, kita harus meningkatkan pelatihan pendidikan kejuruan kita dan juga mempermudah perusahaan-perusahaan untuk memperoleh izin investasi,” katanya.
Menanggapi Harijanto, Sugiharto Sumas, Kepala Penelitian dan Pengembangan dari Kementerian Ketenagakerjaan, menjelaskan bahwa mulai tahun ini pemerintah Indonesia telah menerapkan pendekatan permintaan-penawaran guna menanggapi persoalan pengangguran dan produktivitas pekerja.Kami bekerja sama dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan Apindo untuk menyelenggarakan program-program pemagangan yang melibatkan lebih dari 2.000 perusahaan. Kami juga berfokus pada pelatihan-pelatihan kejuruan untuk pencari kerja dan pekerja."
Sugiharto Sumas, Kepala Penelitian dan Pengembangan dari Kementerian Ketenagakerjaan
“Kami bekerja sama dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) dan Apindo untuk menyelenggarakan program-program pemagangan yang melibatkan lebih dari 2.000 perusahaan. Kami juga berfokus pada pelatihan-pelatihan kejuruan untuk pencari kerja dan pekerja,” tegas Sugiharto, menggarisbawahi.
Sugiharto Sumas, Kepala Penelitian dan Pengembangan dari Kementerian Ketenagakerjaan Dalam pidato penutupnya, Francesco d’Ovidido, Direktur ILO di Indonesia, menegaskan bahwa ILO siap memfasilitasi dan mendukung para konstituennya seperti pemerintah, pengusaha dan pekerja untuk memberlakukan kebijakan dan program yang pro-kesempatan kerja. Tidak hanya di tingkat nasional, namun juga di tingkat daerah. “Indonesia adalah negara yang luas dan itu sebabnya upaya-upaya pembangunan harus berfokus pada tingkat nasional dan di tingkat daerah,” ujarnya.