ILO: Program Better Work Indonesia menyelenggarakan Forum Pembeli Internasional
JAKARTA (Berita ILO): Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan isu-isu sosial, pelanggan di Amerika Serikat dan Eropa telah menjadi lebih selektif dalam melakukan pembelian. Para pelanggan memperhatikan proses pembuatan pakaian dan menghendaki agar merek-merek asal Amerika Serikat dan Eropa memproduksi produk mereka melalui pabrik-pabrik yang mematuhi standar inti ketenagakerjaan internasional dan peraturan ketenagakerjaan.
28 Juni 2012
JAKARTA (Berita ILO): Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan isu-isu sosial, pelanggan di Amerika Serikat dan Eropa telah menjadi lebih selektif dalam melakukan pembelian. Para pelanggan memperhatikan proses pembuatan pakaian dan menghendaki agar merek-merek asal Amerika Serikat dan Eropa memproduksi produk mereka melalui pabrik-pabrik yang mematuhi standard inti ketenagakerjaan internasional dan peraturan ketenagakerjaan. Para pembeli internasional memproduksi barang-barang mereka di berbagai pabrik di seluruh dunia. Salah satu negara asal produksi tersebut adalah Indonesia.
Sebagai negara Asia pertama yang menanda-tangani delapan standar inti konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Indonesia dilihat sebagai partner strategis dalam rantai pasokan global. Industri garmen Indonesia berkembang lebih dari 8 persen per tahunnya, karena banyak pabrik garmen yang berpindah dari Cina ke Indonesia dan beberapa negara lain di kawasan tersebut. Di tahun 2011, garmen senilai lebih dari USD 6 milyar telah di ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Industri ini memberikan kontribusi yang besar dalam pertumbuhan ekonomi negara melalui penciptaan lebih dari satu juta lapangan kerja dan merupakan salah satu sumber pendapatan utama.
Meskipun adanya pertumbuhan ekonomi, namun di tingkat perusahaan, keuntungan dari perkembangan industri ini sering kali tidak dirasakan oleh pekerja yang berjuang karena ketidakpastian pekerjaan dan kontrak jangka pendek, ketidak patuhan dalam sistem pembayaran upah minimum dan kurangnya kerjasama ditempat kerja semakin memperburuk kondisi kerja.
Pada saat yang sama, para pembeli internasional semakin menuntut para pemasok mereka yang berada di Indonesia untuk mengintegrasikan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan kedalam proses produksi sebagai bagian dari bisnis yang layak dan pertanggung jawaban mereka terhadap para pelanggannya. Untuk memastikan hal ini terjadi, para pembeli internasional telah bekerja bersama para pemasok mereka secara individual dalam rangka membuat perbaikan di tempat kerja.
Adanya kebutuhan untuk mengadopsi pendekatan integral yang melibatkan pemerintah nasional, pekerja dan organisasi pengusaha, dan pembeli internasional dengan tujuan untuk menegakkan perbaikan yang berkelanjutan di dalam kondisi kerja dalam rangka mencapai rantai pasokan global yang layak.
Oleh karena itu, untuk memperkuat hubungan dengan pembeli internasional dan memfasilitasi dialog sosial diantara pemerintah, pengusaha dan pekerja dalam rangka mendukung kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan dan meningkatkan daya saing dalam rantai pasokan global yang yang layak, ILO melalui program Better Work Indonesia mengadakan forum satu hari bagi para pembeli internasional yang dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Juni 2012 di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.
Michiko Miyamoto, Deputi Direktur ILO Indonesia, "Penting untuk diingat bahwa produktivitas dan peran pembeli akan menjadi faktor utama dalam mengatasi masalah daya saing. Kondisi kerja, kesejahteraan manusia yang bekerja di industri dan kualitas pekerjaan tidak boleh dikorbankan untuk keuntungan jangka pendek. Lingkungan kerja yang kondusif, pemahaman yang lebih baik antara pengusaha dan pekerja serta dukungan yang tidak pernah berakhir dari pembeli internasional sangat penting dalam menjamin kesinambungan dan keuntungan jangka panjang.” Ia juga berharap pertemuan ini akan membangun dialog yang konstruktif antara pembeli internasional dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dalam menanggulangi permasalahan dan tantangan dalam memastikan masa depan yang lebih baik.
Better Work adalah sebuah program kerjasama yang unik antara ILO dan Korporasi Keuangan Internasional (IFC). Better Work Indonesia didanai oleh Pemerintah Australian melalui Australian Agency for International Development (AUSAID) dan The United States Deparment of Labor.
Better Work Indonesia (BWI) adalah bagian dari Better Work Global Program dan merupakan salah satu proyek negara milik ILO yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan dan meningkatkan daya saing dalam dunia industri apparel melalui pelayanan pendampingan dan pelatihan untuk pabrik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pabrik. Program BWI dimulai pada tahun 2011 dengan fokus pada area geografis di Jabodetabek, termasuk Purwarkarta, Subang dan Karawang.
BWI berfokus pada solusi yang terukur dan berkesinambungan yang membangun kerjasama dengan pemerintah, organisasi pengusaha dan pekerja serta pembeli internasional. Hal ini selaras dengan mandat ILO untuk mempromosikan Pekerjaan yang Layak (Decent Work) yang berbasis pada empat pilar yang meliputi (1) penciptaan lapangan kerja dan perkembangan bisnis; (2) perlindungan sosial; (3) Mempromosikan prinsip-prinsip dan hak-hak mendasar di tempat kerja; dan (4) dialog sosial. BWI melakukan misi untuk memfasilitasi realisasi dari Pekerjaan yang layak melalui kegiatan-kegiatannya.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Simon Field
Manager Program ILO Better Work Indonesia
Tel.: +6221391 3112
Email
Josephine Imelda
Staf Komunikasi dan Manajemen Pengetahuan ILO Better Work Indonesia
Tel.: + 6221 391 3112
Email
Gita Lingga
Staf Komunikasi ILO
Tel.: +6221 391 3112 Ext 115
Email