ILO menjangkau industri pelayaran dan konstruksi Indonesia untuk program pencegahan HIV

Untuk mempromosikan pentingnya program pencegahan HIV, ILO mendekati industri-industri dengan kerentanan tinggi terhadap pandemi HIV. Pertemuan pengarahan eksekutif (executive briefing) dilakukan dengan perusahaan pelayaran dan konstruksi Indonesia.

5 Agustus 2019

Content also available in: English
Pelaut Indonesia sedang bertugas Guna menjangkau industri-industri dengan kerentanan tinggi terhadap pandemi HIV, ILO melakukan pertemuan pengarahan eksekutif (executive briefing) satu hari dengan industri perkapalan dan konstruksi Indonesia di Jakarta pada Juli 2019. Pertemuan pagi diadakan untuk industri perkapalan, bekerja sama dengan Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA); sedangkan pertemuan sore dilakukan untuk perusahaan konstruksi, bekerja sama dengan Kementerian Perumahan dan Pekerjaan Umum.

Kami sangat menghargai dukungan yang diberikan ILO. Karena sifat pekerjaan kami ini, para pelaut rentan terhadap epidemi HIV. Kami ingin memasukkan masalah ini ke dalam keterampilan pelatihan pelaut kami, terutama untuk pelaut muda, dan untuk memperkuat program pendidikan kami."

Budhi Halim, Sekretaris Jenderal INSA
Dihadapan 55 peserta, yang mewakili 30 perusahaan pelayaran, Budhi Halim, Sekretaris Jenderal INSA, menekankan pentingnya kolaborasi bersama antara ILO dan INSA dalam meningkatkan kesadaran para pemilik dan manajemen perusahaan pelayaran mengenai dampak HIV terhadap industri dan pentingnya program pencegahan HIV.

“Kami sangat menghargai dukungan yang diberikan ILO. Karena sifat pekerjaan kami ini, para pelaut rentan terhadap epidemi HIV. Kami ingin memasukkan masalah ini ke dalam keterampilan pelatihan pelaut kami, terutama untuk pelaut muda, dan untuk memperkuat program pendidikan kami, ”kata Budhi.

Tonny Pangaribuan, pensiunan pelaut yang kini aktif sebagai anggota serikat pekerja dari KSPSI-CAITU, mendorong pelaut untuk secara sukarela melakukan tes HIV. “Jangan takut untuk melakukan tes HIV. Saya telah mengikuti tes tiga kali dan semuanya negatif. Dengan mengetahui status kita, kita dapat melindungi diri, keluarga dan lingkungan kerja dengan lebih baik,” katanya.

Pertemuan ditutup dengan adanya minat untuk mengimplementasikan program pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja dari mayoritas perusahaan yang berpartisipasi. “Minat tinggi yang ditunjukkan oleh perusahaan yang berpartisipasi melebihi ekspektasi ILO. ILO akan terus mendukung industri pelayaran Indonesia dalam pelaksanaan program pencegahan HIV,” kata Early D. Nuriana, koordinator nasional ILO untuk HIV/AIDS.

Antusiasme yang sama juga ditunjukkan oleh 30 peserta dari delapan perusahaan konstruksi besar, yang berpartisipasi dalam pertemuan pengarahan eksekutif sore itu. Perwakilan dari Kementerian Perumahan dan Pekerjaan Umum menekankan pentingnya memperbarui materi pendidikan HIV sebagai cara untuk memperluas program pencegahan HIV dan meningkatkan jumlah perusahaan yang mengimplementasikan program pencegahan.

Kami telah melibatkan pihak berwenang setempat untuk bersama-sama menerapkan program pendidikan bagi masyarakat setempat. Hasilnya masyarakat setempat di Wonogiri telah mendeklarasikan 'Warga Peduli AIDS' tahun lalu. Melalui program ini, masyarakat setempat secara aktif terlibat dalam penyebaran informasi, memberikan perawatan dan pengobatan serta menghilangkan stigma dan diskriminasi."

Denny B. Cosca, Staf HSE, PT Hazama Ando di Wonogiri, Jawa Tengah
Praktik terbaik tentang program pencegahan HIV diberikan oleh PT Hazama Ando di Wonogiri, Jawa Tengah. Mereka berbagi tentang program HIV/AIDS yang telah mereka masukkan melalui program keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Perusahaan telah membuat program pencegahan HIV tidak hanya untuk manajemen dan pekerja, tetapi juga untuk masyarakat di sekitarnya.

“Kami telah melibatkan pihak berwenang setempat untuk bersama-sama menerapkan program pendidikan bagi masyarakat setempat. Hasilnya masyarakat setempat di Wonogiri telah mendeklarasikan 'Warga Peduli AIDS' tahun lalu. Melalui program ini, masyarakat setempat secara aktif terlibat dalam penyebaran informasi, memberikan perawatan dan pengobatan serta menghilangkan stigma dan diskriminasi,” ungkap Denny B. Cosca, Staf HSE.

Pertemuan tersebut juga ditutup dengan minat yang tinggi dari perusahaan konstruksi agar dapat menindaklanjuti penerapan program pencegahan HIV di tempat kerja mereka. Perusahaan yang berminat termasuk perusahaan konstruksi besar seperti Istaka Karya, Waskita Karya dan Wijaya Karya.