ILO mempromosikan inklusivitas selama Pekan Kreatif bagi penyandang disabilitas

ILO mendukung upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa Indonesia mendorong inklusivitas melalui Pekan Kreatif yang berupaya mendobrak persepsi yang salah mengenai potensi dan kemampuan penyandang disabilitas.

13 Desember 2023

Content also available in: English
Sejalan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional, ILO menjadi bagian dari Pekan Kreatif untuk Penyandang Disabilitas yang diadakan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia bekerja sama dengan Bumilangit Entertainment, perusahaan hiburan terkemuka di Indonesia, yang diadakan di Jakarta pada 6-10 Desember dengan tema: Kita bisa! Kita mampu! Kita sama!

Acara ini menampilkan lebih dari 70 objek dan kegiatan, termasuk pameran dan lokakarya lukisan kaca yang dibawakan oleh Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS), salah satu mitra ILO dalam mendorong inklusivitas di Indonesia. YPAS merupakan lembaga yang menangani anak-anak dengan kesulitan belajar seperti Attention Deficit Disorder (ADD), Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), Dyslexia dan Dysgraphia.

“Jadi, kondisi kesulitan belajar ini lebih dikarenakan murid-murid kami mengalami gangguan perseptual, baik pada aspek visual (penglihatan), auditoris (pendengaran), maupun taktil-kinestetik (raba-gerak),” jelas Arini Suwarno, Ketua YPAS.

Salah satu program yang dilakukan YPAS adalah melalui kegiatan melukis kaca. Tidak hanya sekedar memamerkan hasil karya para anak didiknya, YPAS pun mengajak para pengunjung untuk belajar langsung membuat lukisan kaca dalam lokakarya interaktif yang menjadi salah satu agenda dari pekan kreatif ini.

“Pameran dan lokakarya ini adalah contoh nyata bahwa dengan memberikan layanan belajar yang lebih khusus, mereka pun mampu berpartisipasi aktif di tengah masyarakat,” Arini menambahkan. “Kami merasa senang masyarakat umum mendapat kesempatan menyaksikan kelebihan sesamanya. Jadi, tidak melulu dipandang dari kekurangannya, tapi justru menjadi kelebihan.”

Bincang-bincang Aksesibilitas dan HAM

ILO pun terlibat dalam acara bincang-bincang bertajuk “Aksesibilitas bagi Semua sebagai Hak Asasi Dasar Manusia” diselenggarakan sebagai puncak acara dan sejalan dengan peringatan hari HAM se-Dunia pada 10 Desember. Acara bincang-bincang ini menghadirkan Ramaditya Adikara, Konsultan ILO untuk Inklusivitas, bersama dengan tiga pembicara lainnya: Sasa Saphira Kusbandiyah, influencer disabilitas, Albert Santoso, young achiever YPAC dan Keken. Seniman Kreaby.

Rama menjelaskan bahwa ia direkrut ILO sebagai konsultan untuk membantu revitalisasi Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI) yang kini terdiri dari dari 63 perusahaan lokal, 11 perusahaan multinasional, 3 BUMN, 26 lembaga masyarakat sipil dan 11 institusi akademis. Diharapkan revitalisasi ini dapat semakin meningkatkan jumlah perusahaan yang membuka pintu kesempatan bagi pekerja dengan disabilitas.

Rama juga memaparkan berbagai program yang telah dilakukan ILO untuk mendorong inklusivitas seperti mendukung unit layanan ketenagakerjaan disabilitas (ULD) bekerja sama dengan. Kementerian Ketenagakerjaan dan berupaya mewujudkan akomodasi yang wajar dalam lingkungan lembaga pendidikan tinggi di empat poliktenik maritim.

“Bersama dengan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel atau SIGAB, ILO mendukung penilaian di empat politeknik maritim. Politeknik Negeri Batam (Polibatam), Politeknik Maritim Negara Indonesia (Polimarin), Politeknik Perkapalan Negeri (PPNS) dan Politeknik Negeri Manado (Polimanado), untuk mengidentifikasi program studi yang dapat menerima penyandang disabilitas tertentu dan penyesuaian yang diperlukan,” ujar Rama.

Saat ditanya apa tantangan terbesar dalam mewujudkan lingkungan kerja yang inklusif, Rama mengatakan bahwa cara pandang masyarakat, baik perusahaan maupun calon pekerja, harus diubah. Pendekatan yang sebaiknya dilakukan adalah menggunakan perspektif pendekatan hak asasi manusia.

Ini sejalan dengan konvensi PBB mengenai hak orang dengan bisabilitas, di mana mereka adalah subyek yang memiliki kebebasan untuk memilih, memutuskan, dan menentukan pekerjaan apa yang ingin digeluti. “Jadi, jangan pernah menganggap orang dengan disabilitas sebagai beban, sebab mereka adalah investasi yang juga dapat memberikan sumbangsih berarti bagi perusahaan,” tutup Rama.

Acara bincang-bincang ini mendapatkan apreasiasi seperti yang dsampaikan Gerry, salah seorang peserta, yang berharap acara semacam ini lebih sering digelar. “Selain menambah pengetahuan, juga memberi pasokan semangat bagi siapapun yang mendengarkan.”

Indikator pasar tenaga kerja disabilitas ILO mengungkapkan bahwa hampir 90 persen penyandang disabilitas di Indonesia tidak aktif, yaitu tidak bekerja atau mencari pekerjaan secara aktif. Banyak di antara mereka yang bekerja berada di sektor informal. Selanjutnya, 80 persen kaum muda dengan disabilitas tidak terlibat dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan.

Related content

Kita Bisa! Kita Mampu! Kita Sama!: Merayakan semangat kreatif para penyandang disabilitas*

Kita Bisa! Kita Mampu! Kita Sama!: Merayakan semangat kreatif para penyandang disabilitas*