Berita
ILO memperluas kolaborasi dengan universitas-universitas pesisir untuk perangi kerja paksa di industri perikanan
Program 8.7 Accelerator Lab ILO telah melibatkan para dosen dari universitas lokal di tingkat kabupaten di Provinsi Jawa Tengah untuk mengarusutamakan standar ketenagakerjaan internasional ke dalam lembaga-lembaga akademis.
13 September 2024
SEMARANG, Jawa Tengah, Indonesia (Berita ILO) - Dua puluh dosen dari empat universitas yang terletak di daerah pesisir Provinsi Jawa Tengah—Kabupaten Tegal, Pekalongan, Pati dan Brebes—berpartisipasi dalam Pelatihan untuk Pelatih mengenai Adaptasi Praktik Kerja Lapangan bagi Mahasiswa Bisnis, yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) dan Program 8.7 Accelerator Lab ILO. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bersama antara ILO dan Undip untuk mengarusutamakan standar ketenagakerjaan internasional ke dalam institusi akademis.
ILO menghargai kolaborasi yang telah dibangun dengan Undip dan universitas pesisir lainnya di Jawa Tengah dan kami berharap program-program ini akan memperkuat perlindungan nelayan Indonesia
Muhamad Nour, Koordinator Program 8.7 Accelerator Lab ILO di Indonesia
Para dosen ini berasal dari universitas lokal Universitas Pancasakti Tegal, Universitas Pekalongan, Universitas Safin Pati dan Universitas Peradaban Brebes. Selama dua hari pada 6-7 September, mereka berkumpul di Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, untuk mendalami tentang konsep pekerjaan yang layak, pentingnya pekerjaan yang layak dalam pendidikan bisnis, tinjauan umum kerangka kerja bisnis dan hak asasi manusia serta standar dan pedoman internasional utama. Mereka juga mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan ekonomi pesisir dan hak-hak pekerja serta teknik advokasi dan pengajaran tentang hak-hak pekerja.
“Pelatihan untuk Pelatih ini bertujuan untuk memperluas inisiatif yang telah dikembangkan bersama dengan Undip ke universitas-universitas lokal lainnya di wilayah pesisir Jawa Tengah. Kami berharap bahwa program pelatihan ini akan meningkatkan kurikulum dan memperluas pengetahuan para dosen, mahasiswa dan anggota fakultas di tingkat kabupaten tentang standar ketenagakerjaan internasional dan pekerjaan yang layak,” kata Muhamad Nour, Koordinator Program 8.7 Accelerator Lab ILO di Indonesia.
Menyambut baik inisiatif untuk melibatkan organisasi pendidikan secara luas di tingkat lokal, Dr. Jaka Aminata, Kepala Program Studi Ilmu Ekonomi FEB Undip, menekankan pentingnya keterlibatan lembaga-lembaga akademis di daerah pesisir di semua tingkatan untuk menciptakan peluang dalam mengumpulkan keahlian akademis dan para pakar yang berorientasi kebijakan dan praktis tentang isu-isu ketenagakerjaan yang mempengaruhi perilaku bisnis yang bertanggung jawab, termasuk pekerja anak dan kerja paksa di laut.
Kolaborasi antara ILO dan Undip juga mengikuti Nota Kesepahaman global yang ditandatangani dengan Global Business School Network (GBSN) dan Sekolah Ekonomi dan Manajemen Jenewa (GSEM) Universitas Jenewa. Kesepakatan-kesepakatan ini merupakan bagian dari upaya ILO untuk berkolaborasi secara inovatif dengan lembaga-lembaga akademis di bidang bisnis dan HAM serta menciptakan sebuah garda global untuk menentang eksploitasi tenaga kerja.
“ILO menghargai kolaborasi yang telah dibangun dengan Undip dan universitas-universitas pesisir lainnya di Jawa Tengah yang dikenal sebagai provinsi asal nelayan terbesar di Indonesia, baik nelayan Indonesia maupun nelayan asing. Kami berharap program-program ini akan memperkuat perlindungan nelayan Indonesia,” pungkas Muhamad.
Kita membutuhkan pemimpin bisnis masa depan di semua tingkatan, termasuk di tingkat kabupaten, untuk dibekali dengan alat, pengetahuan dan keahlian dalam mengenali dan menangani realitas dunia kerja yang terus berubah dengan cara yang adil
Dr. Jaka Aminata, Kepala Program Studi Ilmu Ekonomi FEB Undip
“Tidaklah cukup hanya bekerja di tingkat nasional dan provinsi untuk membentuk generasi baru dosen dan mahasiswa tentang bisnis dan HAM. Kita membutuhkan pemimpin bisnis masa depan di semua tingkatan, termasuk di tingkat kabupaten, untuk dibekali dengan alat, pengetahuan dan keahlian dalam mengenali dan menangani realitas dunia kerja yang terus berubah dengan cara yang adil,” tambah Jaka.
Jaka juga menyatakan bahwa Undip merasa senang dipilih oleh ILO sebagai universitas pelopor di Indonesia untuk mengarusutamakan isu-isu yang berkaitan dengan bisnis dan HAM serta aksi melawan kerja paksa di sektor perikanan termasuk isu-isu perekrutan yang adil, keterwakilan awak kapal perikanan, penghapusan pekerja anak dan kesetaraan kesempatan kerja.
“ILO menghargai kolaborasi yang telah dibangun dengan Undip dan universitas pesisir lainnya di Jawa Tengah yang dikenal sebagai provinsi asal awak kapal perikanan Indonesia terbesar, baik untuk kapal ikan Indonesia maupun kapal ikan asing. Kami berharap program-program ini akan memperkuat perlindungan nelayan Indonesia,” pungkas Muhamad.