ILO kumpulkan pemangku kepentingan untuk memvalidasi studi pekerjaan layak dan praktik bisnis yang bertanggung jawab di sektor elektronik
ILO meningkatkan dukungannya terhadap pekerjaan layak dan peningkatan industri di salah satu sektor manufaktur dan ekspor terkemuka di Indonesia.
14 Desember 2023
Pemaparan temuan-temuan awal study mengenai pekerjaan yang layak dan praktik bisnis yang bertanggung jawab di sektor elektronik Indonesia. © ILO/Gita Lingga Dihadiri oleh lebih dari 40 konstituen dan mitra industri (secara daring dan tatap muka) dari pemerintah, perusahaan multinasional terkemuka, asosiasi sektoral dan serikat pekerja, lokakarya ini mengkaji temuan-temuan utama studi ini dan membahas rekomendasi serta langkah selanjutnya bagi industri untuk menutup kesenjangan pekerjaan yang layak dan meningkatkan praktik bisnis.
Penelitian ini dilakukan bersama dengan SVARA Institute dari bulan September hingga November 2023. Terdiri dari tinjauan dokumen yang ekstensif, sepuluh wawancara mendalam dan lima diskusi kelompok terpumpun, penelitian ini mengidentifikasi tantangan dan peluang utama pekerjaan yang layak dalam sektor ini, serta bidang-bidang yang perlu ditingkatkan industri agar selaras dengan standar ketenagakerjaan internasional dan persyaratan rantai pasokan yang terus berkembang.Dari data dan diskusi terpumpun, kami melihat pekerja laki-laki sebagian besar bekerja di bidang teknis, sedangkan pekerja perempuan bekerja di bagian perakitan, yang dalam beberapa tahun terakhir mendapat tekanan dari teknologi dan meningkatnya otomatisasi."
Widdi Mugijayani, Pendiri dan Ekonom Senior di Svara Institute
Widdi Mugijayani, Pendiri dan Ekonom Senior di Svara Institute, memaparkan temuan-temuan utama yang menyoroti 10 tema utama pekerjaan layak berikut ini, termasuk peluang kerja, upah, waktu kerja, kesetaraan dan non-diskriminasi, lingkungan kerja yang aman, dan dialog sosial.
Beberapa temuan utama awal mencakup risiko perpindahan akibat otomatisasi, khususnya yang berdampak pada pekerja perempuan. “Dari data dan diskusi terpumpun, kami melihat pekerja laki-laki sebagian besar bekerja di bidang teknis, sedangkan pekerja perempuan bekerja di bagian perakitan, yang dalam beberapa tahun terakhir mendapat tekanan dari teknologi dan meningkatnya otomatisasi,” jelas Widdi.
Pemangku kepentingan terkait mengkaji dan memberikan masukan selama kerja kelompok. © ILO/Gita Lingga
Temuan lain menunjukkan bahwa dalam hal dialog sosial, mayoritas pekerja di sektor elektronik Indonesia telah bergabung dengan serikat pekerja dan sebagian besar perusahaan telah memiliki perjanjian perundingan bersama. Begitu pula dengan perlindungan sosial, pekerja di sektor elektronik telah dilindungi dan terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.Kami berharap dapat bekerja sama dengan para peserta di tahun mendatang untuk mengembangkan tindakan bersama guna mengatasi permasalahan yang diangkat, dan dengan demikian, membantu memposisikan sektor elektronik sebagai model bisnis yang bertanggung jawab dan inklusif di Indonesia."
David Williams, Manajer Proyek Proyek RISSC ILO
Dipandu oleh Tauvik Muhamad, Koordinator Program RISSC ILO di Indonesia, para peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk mengkaji lebih lanjut temuan-temuan tersebut dan memberikan masukan sebelum finalisasi.
Mengakhiri lokakarya validasi, David Williams, Manajer Proyek Proyek RISSC ILO, mengucapkan terima kasih kepada para peserta atas kontribusi dan masukannya, dan menambahkan: “ILO akan mempertimbangkan masukan-masukan yang diberikan untuk memastikan masukan tersebut tercermin dengan baik dalam laporan akhir. Kami berharap dapat bekerja sama dengan para peserta di tahun mendatang untuk mengembangkan tindakan bersama guna mengatasi permasalahan yang diangkat, dan dengan demikian, membantu memposisikan sektor elektronik sebagai model bisnis yang bertanggung jawab dan inklusif di Indonesia."