ILO-HIPMI luncurkan kajian tentang iklim usaha bagi kaum muda Indonesia
Kaum muda, yang berada dalam kategori usia 15-29 tahun, mencapai sekitar 31,8 persen dari angkatan kerja Indonesia. Menurut data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2010, angka ini setara dengan 36,9 juta dari seluruh angkatan kerja nasional yang jumlahnya 116 juta orang. Kelompok usia ini secara tidak proporsional terkena imbas pengangguran, dengan tingkat pengangguran lima kali lebih tinggi dibandingkan pengangguran kaum dewasa.
10 Oktober 2011
JAKARTA (Siaran Pers Bersama): Kaum muda, yang berada dalam kategori usia 15-29 tahun, mencapai sekitar 31,8 persen dari angkatan kerja Indonesia. Menurut data dari Biro Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2010, angka ini setara dengan 36,9 juta dari seluruh angkatan kerja nasional yang jumlahnya 116 juta orang. Kelompok usia ini secara tidak proporsional terkena imbas pengangguran, dengan tingkat pengangguran lima kali lebih tinggi dibandingkan pengangguran kaum dewasa. Kendati di Indonesia telah terjadi sedikit penurunan dalam tingkat pengangguran kaum muda sejak tahun 2005, tantangan tetap besar, khususnya dengan tingkat pengangguran di kalangan kaum muda yang menurut data BPS tahun 2010 mencapai 22,2 persen pada tahun 2009.
Sementara banyak perempuan dan laki-laki muda terpaksa membuka usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedikit dari mereka yang akhirnya membangun usaha yang berkelanjutan. Karenanya upaya menciptakan peluang pekerjaan yang lebih baik bagi kaum muda dan memfasilitasi transisi menuju ekonomi formal menjadi sangat penting dalam menangani akar penyebab rendahnya tingkat kewirausahaan yang terjadi saat ini di Indonesia.
Pengusaha muda secara khusus bergantung pada lingkungan usaha yang mendukung. Mereka lebih dihadapkan pada kendala usaha dibandingkan pengusaha yang sudah matang — misalnya terbatasnya akses terhadap pasar, bahan mentah dan modal. Untuk menciptakan peluang bagi pengusaha muda dan membuka potensi penuh mereka untuk membangun perusahaan yang sukses, pembuat kebijakan perlu memiliki pemahaman yang utuh atas lingkungan usaha pengusaha muda dan kendala yang mereka hadapi.
Survei terbaru yang dilakukan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini melakukan kajian mengenai iklim usaha bagi pengusaha muda secara komprehensif. Survei sejenis ini pun baru pertama kali dilakukan. Tujuan dari survei ini adalah untuk membantu para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kondisi usaha bagi pengusaha muda melalui pemahaman yang lebih baik terhadap karakteristik mereka dan identifikasi kendala khusus yang menghambat usaha mereka.
Melalui lokakarya ini, hasil survei ini akan disebarluaskan kepada para peserta agar mereka dapat mengerti, memahami dan mendapat kesempatan memberikan saran pada hasil survey iklim usaha ini. Diharapkan, di akhir lokakarya para peserta dapat menyusun rekomendasi untuk rencana advokasi survey iklim usaha selanjutnya.
Ketua Umum HIPMI Erwin Aksa menegaskan bahwa melalui lokakarya ini diharapkan hasil survei iklim usaha dapat tersebarluas kepada pihak-pihak terkait di pemerintahan melalui jejaring dan kegiatan organisasi terkait lainnya dan diharapkan rekomendasi rencana advokasi dapat dilaksanakan dengan baik oleh organisasi-organisasi tersebut.
Direktur ILO untuk Indonesia, Peter Van Rooij, menyakini HIPMI sebagai asosiasi pengusaha muda di Indonesia memiliki pengaruh besar di negeri ini serta memunyai akses yang baik kepada para pembuat kebijakan. “Saya percaya HIPMI memunyai pengaruh yang sangat kuat dalam melakukan advokasi temuan-temuan survei ini kepada para pembuat kebijakan baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional demi mewujudkan gerakan kewirausahaan muda di Indonesia.”
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Budi Maryono
Staf Nasional untuk Kewirausahaan Proyek ILO-EAST
Tel.: +6221 391 3112 ext. 158
Email
Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115
Email