Inisiatif pekerjaan masa depan

ILO gelar diskusi inisiatif pekerjaan masa depan di Indonesia

Dunia kerja terus mengalami proses perubahan. Terdapat beberapa kekuatan yang mengubahnya, antara lain perkembangan teknologi yang sangat pesat, dampak dan respons terhadap perubahan iklim, hingga berbagai karakter produksi dan kerja yang terus berubah. Untuk memahami dan merespons tantangan-tantangan baru ini secara efektif, ILO pun meluncurkan program “Inisiatif Pekerjaan Masa Depan” (Future of Work Initiative) pada Juni 2015.

7 November 2016

Content also available in: English
Dunia kerja terus mengalami proses perubahan. Terdapat beberapa kekuatan yang mengubahnya, antara lain perkembangan teknologi yang sangat pesat, dampak dan respons terhadap perubahan iklim, hingga berbagai karakter produksi dan kerja yang terus berubah. Untuk memahami dan merespons tantangan-tantangan baru ini secara efektif, ILO pun meluncurkan program “Inisiatif Pekerjaan Masa Depan” (Future of Work Initiative) pada Juni 2015.

Untuk mendukung inisiatif ini, ILO menyelenggarakan diskusi awal bersama para mitra dan konstituen utama dengan tema “Inisiatif Pekerjaan Masa depan: Transformasi yang Mempengaruhi Bursa Kerja di Indonesia”, pada 3 November 2016, di Jakarta. Diskusi ini menjadi bagian dari serangkaian forum yang membahas mengenai masa depan dunia kerja yang diselenggarakan untuk memahami seperti apa saja perspektif dan misi ke depan Indonesia.

Dihadiri sekitar 50 peserta dari perwakilan pemerintah, organisasi pekerja dan pengusaha, akademisi dan organisasi masyarakat sipil, rangkaian diskusi pertama ini berfokus pada perekonomian hijau, serta langkah-langkah dan dampak perubahan iklim pada bursa kerja sebagai salah satu dari tiga penggerak utama yang mempengaruhi masa depan dunia kerja. Dua penggerak lainnya adalah teknologi dan globalisasi.

Kita harus mempersiapkan dunia kerja untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan baru di masa mendatang. Kita pun harus mampu mengikuti perkembangan teknologi yang pesat. Karenanya, kita perlu fokus pada pengembangan dan peningkatan keterampilan serta keahlian baru karena adanya perubahan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan lingkungan dalam kasus ini."

Kunjung Masehat, Sekretaris Direktur Umum untuk Pemberdayaan, Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Tenaga Kerja
Masukan dan temuan utama mengenai topik ini disajikan. Lurraine Villacorta, Penasihat Program Pekerjaan Ramah Lingkungan ILO menekankan bahwa respons-respons yang relevan seperti yang termasuk dalam kebijakan perubahan iklim Indonesia (disebut sebagai NDC) menjadi salah satu penggerak utama dari perubahan dalam dunia kerja di Indonesia.

“Transisi menuju ekonomi yang berkelanjutan dari aspek sosial dan ekonomi, apabila dikelola dengan baik, tentu dapat menggerakkan penciptaan lapangan kerja, peningkatan kerja, keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan. Dan kunci dari transisi ini adalah memahami kaitan antara bursa kerja dan kebijakan perekonomian yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Temuan utama mengenai studi terkini untuk mengkaji dampak kebijakan perubahan iklim terhadap bursa kerja Indonesia, termasuk target-target nasional untuk pengurangan emisi sampai tahun 2030, tercerminkan dalam NDC yang disajikan oleh Dr Xin Zhou, seorang peneliti senior untuk Institute for Global Environment Strategies (IGES). Studi ini dilakukan bersama dengan Program Pekerjaan Ramah Lingkungan ILO dan ILO Indonesia.

Studi ini menunjukkan bahwa dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan target emisi pada tahun 2020 dan 2030, sektor-sektor utama kemungkinan akan melihat dampak ketenagakerjaan dalam sektor energi, kimia, manufaktur non-logam. Temuan menyoroti penambahan kesempatan kerja bagi sektor energi terbarukan, khususnya energi listrik dari sumber panas bumi dan air.

Energi terbarukan masih mahal dan hal ini akan mempengaruhi produktivitas dan daya saing perusahaan-perusahaan Indonesia. Untuk mengantisipasinya, kami perlu bekerja sama dan mengubah perilaku terhadap teknologi, manajemen kerja serta perilaku pekerja guna mendukung implementasi dari perekonomian hijau."

Agung Pambudhi, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Studi ini juga mencatat dampak ketenagakerjaan positif yang dapat dioptimalkan melalui kebijakan dan respons bursa kerja yang proaktif, khususnya apabila kebutuhan akan keterampilan dipenuhi. Dengan langkah seperti ini maka memungkinkan untuk melakukan penyerapan pekerja yang kehilangan pekerjaannya ke sektor-sektor yang berkembang.

Selain Indonesia, lebih dari 60 negara di seluruh dunia saat ini merencanakan konsultasi dengan para pemangku kepentingan yang relevan dalam hal ini. Direncanakan, pada tahun 2017, sebuah Komisi Global Tingkat Tinggi mengenai Masa Depan Dunia Kerja akan dibentuk dan mulai melaksanakan pekerjaannya.

Tujuan dari Masa Depan Dunia Kerja adalah untuk menghasilkan pemahaman bersama mengenai kekuatan-kekuatan pendorong yang mengubah dunia kerja. Selain itu langkah ini juga untuk memperkuat pemerintah, pengusaha dan pekerja dengan pengetahuan, ide dan alternatif kebijakan guna memajukan keadilan sosial. Hal ini seiring dengan upaya ILO dalam memasuki abad kedua di masa kerjanya.

Menanggapi temuan-temuan tersebut, Kunjung Masehat, Sekretaris Direktur Umum untuk Pemberdayaan, Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Tenaga Kerja, menekankan pentingnya pengembangan dan pelatihan keterampilan bagi semua aktor ketenagakerjaan-pemerintah, pekerja dan pengusaha-sebagai upaya memuluskan transisi dan adaptasi terhadap perubahan-perubahan baru di masa depan.

"Kita harus mempersiapkan dunia kerja untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan baru di masa mendatang. Kita pun harus mampu mengikuti perkembangan teknologi yang pesat. Karenanya, kita perlu fokus pada pengembangan dan peningkatan keterampilan serta keahlian baru karena adanya perubahan pengetahuan dan keterampilan terkait dengan lingkungan dalam kasus ini," kata dia seraya menambahkan Indonesia saat ini sedang dalam proses pengembangan model-model mengenai, di antaranya, pengelolaan limbah dan bergeser kepada sumber energi terbarukan.

Benar bahwa kita perlu mengantisipasi pengembangan keterampilan. Namun, kita juga perlu mengoptimalkan penciptaan lapangan kerja dan meminimalkan hilangnya pekerjaan."

Agus R. Toniman, Dewan Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI)
Dari sudut pandang pengusaha, Agung Pambudhi, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menekankan tantangan-tantangan yang dihadapi perusahaan dalam memanfaatkan energi terbarukan. “Energi terbarukan masih mahal dan hal ini akan mempengaruhi produktivitas dan daya saing perusahaan-perusahaan Indonesia. Untuk mengantisipasinya, kami perlu bekerja sama dan mengubah perilaku terhadap teknologi, manajemen kerja serta perilaku pekerja guna mendukung implementasi dari perekonomian hijau.”

Sementara Agus R. Toniman, Dewan Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), mengingatkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di masa mendatang harus, di saat yang sama, menjamin kesejahteraan pekerja. “Benar bahwa kita perlu mengantisipasi pengembangan keterampilan. Namun, kita juga perlu mengoptimalkan penciptaan lapangan kerja dan meminimalkan hilangnya pekerjaan.”