Digitalisasi dan inklusi keuangan
ILO dan Pemerintah Swiss perkuat kemitraan untuk pengembangan nilam berkelanjutan di Indonesia
Industri nilam telah berkembang menjadi salah satu sektor unggulan di Provinsi Aceh, Indonesia, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
19 Februari 2026
ACEH, Indonesia (Berita ILO) – Aroma nilam telah lama menjadi bagian dari identitas ekonomi Aceh. Kini, melalui penguatan kemitraan dan inovasi digital, provinsi ini terus berupaya memperkuat posisinya di pasar global sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat lokal.
ILO, melalui proyek Mempromosikan Usaha UKM melalui Peningkatan Akses Wirausaha terhadap Jasa Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact), didukung oleh Divisi Pengembangan Sektor Swasta dari Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), telah mendorong pengembangan industri nilam di Aceh selama tiga tahun terakhir. Dengan memperluas akses pembiayaan melalui digitalisasi serta memperkuat sistem data produksi dan proses bisnis di sepanjang rantai nilai nilam, proyek ini membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas, transparansi, dan pengambilan keputusan, sekaligus mempromosikan kerja layak dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Untuk semakin memperkuat kemajuan tersebut, perwakilan SECO bersama tim Promise II Impact ILO mengunjungi Aceh pada 24–25 Januari untuk meninjau perkembangan program yang didukung SECO. Kunjungan ini berfokus pada evaluasi capaian serta penguatan kolaborasi guna mendorong pembangunan rantai nilai nilam yang berkelanjutan dan inklusif di Aceh.
Kunjungan diawali di Universitas Syiah Kuala (USK), di mana SECO dan ILO bertemu dengan Rektor USK, Atsiri Research Center (ARC), perwakilan pemerintah provinsi dan kabupaten, akademisi, serta mitra sektor swasta. Diskusi berfokus pada penguatan ekosistem nilam, khususnya melalui pemanfaatan data produksi digital dan sistem enterprise resource planning (ERP). Perangkat ini membantu pelaku usaha meningkatkan keterlacakan, efisiensi operasional, serta akses terhadap pembiayaan.
Melalui kolaborasi dengan ILO, USK dan ARC semakin memperkuat peran USK sebagai universitas sosio-entrepreneur dengan menjembatani riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan menghubungkan keahlian ilmiah dan implementasi di lapangan, kemitraan ini mendukung petani dan pelaku usaha dalam mengadopsi perangkat digital untuk perencanaan produksi yang lebih baik, penjaminan mutu, serta perluasan akses pasar.
“Kolaborasi dengan ILO dan SECO semakin memperkuat peran USK sebagai universitas sosio-entrepreneur yang menghubungkan riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Prof. Dr. Ir. Marwan, Rektor USK.
Perwakilan pemerintah provinsi menekankan bahwa inisiatif ini sejalan dengan prioritas pembangunan jangka menengah Aceh, khususnya dalam pengembangan hilirisasi dan ekonomi kreatif. Penguatan pengolahan lokal dan peningkatan nilai tambah dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga serta memperluas kesempatan kerja di wilayah pedesaan.
Delegasi kemudian mengunjungi Desa Lhoong, di mana para petani nilam menunjukkan bagaimana inovasi diterapkan di tingkat komunitas. Dalam kunjungan lapangan tersebut, petani mempresentasikan aplikasi MyNilam yang menghubungkan data produksi pertanian dengan operasional bisnis. Dengan mengintegrasikan data tingkat kebun ke dalam sistem digital, aplikasi ini meningkatkan efisiensi, memperkuat keterlacakan, serta mempermudah akses ke pasar dan pembiayaan yang merupakan faktor penting untuk memenuhi standar kualitas internasional yang ketat.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi. Kepala ARC, Syaifullah Muhammad, menekankan pentingnya memperluas berbagi pengetahuan di antara petani nilam di seluruh Aceh guna memastikan produksi minyak nilam yang konsisten dan berkualitas tinggi. Ia juga menyoroti kesenjangan harga yang signifikan antara minyak nilam mentah dan produk olahan yang diproses di luar provinsi, sehingga memperkuat urgensi peningkatan nilai tambah di tingkat lokal.
“Jika kita dapat memperkuat pengetahuan bersama dan kapasitas pengolahan lokal, setidaknya 20 persen minyak nilam mentah dapat diolah di dalam daerah, sehingga meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat Aceh,” ujarnya.
Ke depan, investasi berkelanjutan dalam peningkatan kapasitas petani, digitalisasi, serta penguatan akses pasar akan menjadi kunci untuk mencapai target tersebut.
“Melalui proyek ini, ILO bekerja sama dengan para mitra untuk memastikan bahwa digitalisasi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi petani. Artinya, produktivitas yang lebih baik, akses pasar yang lebih luas, dan lebih banyak peluang kerja layak,” tambah Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact ILO.
Kunjungan SECO menegaskan kembali bahwa kemitraan yang kuat, dipadukan dengan inovasi dan kepemilikan lokal, merupakan fondasi utama dalam membangun sektor nilam Aceh yang lebih tangguh dan inklusif.
Christian Brändli, Kepala Divisi Pengembangan Sektor Swasta SECO, menyampaikan apresiasi atas komitmen kuat para mitra lokal dalam pelaksanaan proyek ini.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Universitas Syiah Kuala serta pemerintah provinsi dan kabupaten atas komitmen dan kepemimpinan mereka dalam mengimplementasikan proyek ini. Komitmen tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa inovasi digital dan peningkatan akses pembiayaan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi petani dan pelaku usaha,” ujarnya.