ILO dan Jurnal Perempuan kaji pekerja perempuan di tengah pandemi dan perubahan teknologi
ILO terus mempromosikan kesetaraan gender di Indonesia. Bersama Jurnal Perempuan, jurnal feminis Indonesia, ILO meluncurkan edisi bersama tentang pekerja perempuan di tengah pandemi dan perubahan teknologi.
30 Agustus 2021
Isu-isu utama yang disoroti dalam edisi bersama ini antara lain termasuk strategi untuk menghilangkan hambatan bagi pekerja perempuan, kebutuhan laktasi bagi jurnalis perempuan, bekerja dari rumah sebagai “kenormalan baru” bagi pekerja perempuan dan penguatan akses perempuan terhadap teknologi informasi dan komunikasi vokasional, penghapusan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja dan keterwakilan perempuan dalam serikat pekerja.
Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia, menyatakan bahwa ILO terfokus mengenai membangun menuju yang lebih berkeadilan yang juga berarti menjadikan kesetaraan gender sebagai pusat dari upaya pemulihan. Ini sejalan dengan Resolusi ILO mengenai seruan aksi global mengenai pemulihan krisis COVID-19 yang berpusat pada manusia yang bersifat inklusif, berkelanjutan dan tangguh.Karenanya upaya ini harus diarahkan pada menempatkan strategi yang responsif gender yang mengarah pada pekerjaan yang penuh waktu, produktif dan dipilih sendiri serta pekerjaan yang layak, dengan fokus pada kebutuhan kelompok yang paling rentan dan terkena imbas oleh pandemi."
Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia
“Karenanya upaya ini harus diarahkan pada menempatkan strategi yang responsif gender yang mengarah pada pekerjaan yang penuh waktu, produktif dan dipilih sendiri serta pekerjaan yang layak, dengan fokus pada kebutuhan kelompok yang paling rentan dan terkena imbas oleh pandemi,” kata dia.
Selama diskusi interaktif tersebut, Elly R. Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), mengakui tidak mudah untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan dalam serikat pekerja. Akibatnya, isu-isu perempuan belum terakomodir dengan baik di tempat kerja. “Kita perlu mendesak keterwakilan perempuan yang lebih kuat di serikat pekerja,” katanya.
Sepakat dengan hal tersebut, Maya Juwita, Direktur Eksekutif Koalisi Bisnis Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan, menjelaskan bahwa selain keterwakilan, penting bagi perempuan untuk menjadi adaptif. “Perempuan perlu beradaptasi dengan kemajuan teknologi sekaligus menyesuaikan diri dengan dampak yang ditimbulkannya. Bekerja jarak jauh akibat pandemi, misalnya, tidak hanya meningkatkan kekerasan dalam rumah tangga, tetapi juga mengakibatkan meningkatnya masalah kesehatan mental karena perempuan harus menanggung beban ganda atau bahkan tiga kali lipat,” ujarnya.
Sementara itu, Asfinawati, Direktur LBH Indonesia, mengingatkan peserta tentang berbagai kasus ketenagakerjaan yang dihadapi pekerja perempuan. Ia juga mempertanyakan aturan ketenagakerjaan yang belum berpihak pada pekerja perempuan.
“Pandemi telah menunjukkan adanya ketidaksetaraan di tempat kerja. Pekerja perempuan cenderung menjadi yang pertama kehilangan pekerjaan selama masa krisis karena mereka tidak dianggap sebagai pencari nafkah utama. Karenanya, kami terus mendesak dibuatnya layanan ketenagakerjaan bagi pekerja di kepolisian untuk membantu penanganan perselisihan ketenagakerjaan terutama saat pandemi dan perubahan teknologi.”Pandemi telah menunjukkan adanya ketidaksetaraan di tempat kerja. Pekerja perempuan cenderung menjadi yang pertama kehilangan pekerjaan selama masa krisis karena mereka tidak dianggap sebagai pencari nafkah utama."
Asfinawati, Direktur LBH Indonesia
Untuk memperkuat kesetaraan di tempat kerja, Lusiani Julia, staf ILO, menggarisbawahi pentingnya Konvensi ILO No. 190 tentang Kekerasan dan Pelecehan. Perempuan lebih dipengaruhi oleh budaya, norma dan kebijakan. “Jadi, kita perlu memastikan tempat kerja dapat memasukkan pendekatan bebas dari kekerasan dan pelecehan ini dalam kebijakan mereka. Ini akan membantu terwujudnya tempat kerja yang setara yang bebas dari kekerasan dan pelecehan berbasis gender.”
Jurnal Perempuan adalah bagian dari Yayasan Jurnal Perempuan, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan pada 1995. Yayasan ini mengkhususkan diri dalam penelitian, publikasi dan pendidikan, memajukan kesetaraan gender di Indonesia.
Siaran langsung acara peluncuran edisi bersama ILO-Jurnal Perempuan melalui ILO TV Indonesia.