Hari Keselamatan dan Kesehatan se-Dunia 2014: Mempromosikan budaya keselamatan di usaha kecil menengah di Indonesia

Mempekerjakan lebih dari 95 persen populasi kerja di dunia, usaha kecil menengah (UKM) menjadi sumber lapangan kerja utama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, UKM telah menjadi pendukung bagi pembangunan yang berkelanjutan dan sarana penting dalam menyerap tenaga kerja. Diperkirakan lebih dari 60 persen angkatan kerja saat ini bekerja di UKM.

28 April 2014

Content also available in: English
JAKARTA (Siaran Pers Bersama): Mempekerjakan lebih dari 95 persen populasi kerja di dunia, usaha kecil menengah (UKM) menjadi sumber lapangan kerja utama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, UKM telah menjadi pendukung bagi pembangunan yang berkelanjutan dan sarana penting dalam menyerap tenaga kerja. Diperkirakan lebih dari 60 persen angkatan kerja saat ini bekerja di UKM.

Namun, UKM masih menghadapi beragam tantangan. Salah satu diantaranya adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, seraya meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta kondisi kerja. Kondisi kesehatan dan kerja merupakan hal penting bagi pekerja serta bagi pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan masyarakat pada umumnya. Kajian menyatakan bahwa terjadinya kondisi keselamatan, kesehatan dan kerja yang buruk merupakan akibat dari hambatan keuangan dan sumber daya manusia, namun kerap kali akibat kurangnya pemahaman dan terbatasnya pengetahuan/pengalaman tentang bagaimana memperbaiki kondisi tersebut.

Sebagai upaya untuk mempromosikan UKM yang lebih aman dan berbudaya kesehatan, Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi akan menyelenggarakan diskusi interaktif bertajuk “Pentingnya K3 dalam Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing UKM di Indonesia” pada Senin, 28 April 2014, di Café Piza, Jakarta. Diskusi ini diselenggarakan sejalan dengan peringatan hari Ke se-Dunia untuk mempromosikan pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara global dan nasional.

The Direktur ILO Peter van Rooij mengatakan bahwa UKM merupakan kunci untuk menciptakan dan mengembangkan pekerjaan yang layak bagi semua. “Kunci pembangunan ekonomi berkelanjutan terletak pada UKM yang berhasil dan berdaya saing tinggi. ILO, bersama dengan para mitra sosialnya, telah mendukung pengembangan UKM melalui penyelenggaran pelatihan-pelatihan mengenai Perbaikan Kerja di UKM (Work Improvements in Small Enterprises/WISE) untuk membantu UKM memperbaiki kondisi kerja dan produktivitas dengan menggunakan teknis yang sederhana, efektif dan terjangkau yang menyediakan keuntungan langsung bagi pemilik usaha dan pekerja.

Diskusi interaktif akan menghadirkan RR Sanida, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Yogyakarta, Nina Tursinah, Ketua Apindo, Said Iqbal, Presiden KSPI dan perwakilan UKM. Diskusi pun mengkaji upaya-upaya yang dilakukan untuk menerapkan K3 secara efektif dan efisien sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan pelaksanaan budaya K3 di UKM untuk mengurangi kecelakaan kerja seraya meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Diskusi ini diselenggarakan bekerja sama dengan SmartFM Network, sebuah stasiun radio terkemuka.

ILO memperingati Hari K3 se-Dunia setiap tanggal 28 April untuk mempromosikan pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja secara global. Hari Dunia ini merupakan kampanye peningkatan kesadaran yang terfokus pada perhatian internasional terkait tren-tren yang muncul di bidang K3 dan besaran cedera, penyakit dan kecelakataan kerja di seluruh dunia. Secara global, menurut ILO data, diperkirakan 337 juta kecelakaan kerja dan 2,3 juta kematian akibat kerja terjadi setiap tahunnya.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Lusiani Julia
Staf ILO
Tel.: +6221 3913112 ext. 135
Email

Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 3913112 ext. 115
Email