Perempuan dalam STEM
Hari karir perempuan dalam STEM: Berdayakan perempuan melalui keterampilan TIK
Untuk mempromosikan keterlibatan perempuan yang lebih besar dalam keterampilan dan pekerjaan terkait TIK, ILO bekerja sama dengan BBPLK-Bekasi menyelenggarakan hari karir perempuan dalam STEM selama satu hari bagi para perempuan muda untuk mempelajari pilihan karier di STEM.
18 September 2019
Gema Minang, seorang analis investasi dari ANGIN (Angel Investment Network Indonesia) berbagi pengalamannya dalam mendukung akses perusahaan-perusahaan baru (start-up companies) terhadap sumber keuangan. Sebagai pembicara muda yang baru saja lulus dari universitas, Gema menginspirasi peserta pelatihan dengan perjalanan karirnya yang inspiratif melalui keterlibatannya di perusahaan digital.Saya yakin perempuan mampu bekerja sebagai programmer. Kami membutuhkan lebih banyak perempuan dalam bidang TIK."
Marselina Agusta, Manajer Pemasaran Helpster Asia
Sementara itu Vensia Tjhin, Ketua Omni Channel dari Bhinneka.com membahas tentang peluang di sektor e-commerce dan keterampilan yang dicari para pengusaha ketika mencari calon pekerja. “Pekerja muda juga harus fokus pada keterampilan non-teknis dan sikap yang baik sebagai dua nilai penting di tempat kerja,” katanya.
Marselina Agusta, Manajer Pemasaran Helpster Asia, berbagi pengalaman bekerja di sektor TIK. Dia menyoroti kemampuan perempuan yang bekerja sebagai programmer di industri yang didominasi laki-laki ini. “Saya yakin perempuan mampu bekerja sebagai programmer. Kami membutuhkan lebih banyak perempuan dalam bidang TIK,”pungkasnya.
Para peserta secara aktif berpartisipasi dalam diskusi interaktif
Selain berbagi pengalaman pribadi bekerja di sektor TIK, mereka juga berbicara tentang pekerjaan yang tersedia di sektor TIK pada saat ini dan di masa depan sektor, keterampilan yang saat ini dicari dan yang akan dibutuhkan di masa depan, proses rekrutmen di perusahaan-perusahaan mereka dan langkah-langkah harus diambil agar para peserta pelatihan dapat memperoleh akses terhadap pembelajaran berbasis kerja dan memasuki sektor TIK.Kami secara aktif melibatkan perusahaan agar lebih sadar dan terlibat dalam mempromosikan perempuan dalam STEM. Perempuan masih kurang terwakili di antara pekerja STEM di ASEAN; karenaya penting untuk memiliki lebih banyak perempuan yang terampil dalam keterampilan terkait TIK."
Tendy Gunawan, staf program ILO untuk Perempuan dalam STEM
Kegiatan hari karir ini dilakukan oleh ILO bekerja sama dengan BBPLK-Bekasi, salah satu pusat pelatihan vokasi negeri terbaik di Indonesia. Acara ini merupakan tindak lanjut dari Acara Pertemuan Bisnis dengan Sektor Swasta yang diadakan pada Juni lalu. Dihadiri sekitar 60 perwakilan perusahaan, termasuk perusahaan digital, acara ini bertujuan untuk lebih memahami tren terbaru dan kebutuhan rekrutmen dalam keterampilan dan pekerjaan terkait TIK di berbagai industri.
Tendy Gunawan, staf program ILO untuk Perempuan dalam STEM, menekankan komitmen ILO untuk mendukung keterlibatan pekerja perempuan yang lebih besar dalam bidang terkait STEM. “Kami secara aktif melibatkan perusahaan agar lebih sadar dan terlibat dalam mempromosikan perempuan dalam STEM. Perempuan masih kurang terwakili di antara pekerja STEM di ASEAN; karenaya penting untuk memiliki lebih banyak perempuan yang terampil dalam keterampilan terkait TIK,” ia menegaskan.
Untuk meningkatkan jumlah perempuan muda yang terlibat dalam keterampilan terkait STEM dan pekerjaan STEM, ILO melalui Proyek Kesiapan & Pengembangan Tenaga Kerja STEM dan BBPLK-Bekasi telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada Januari 2019. MoU tersebut menekankan kolaborasi BBPLK-Bekasi dan ILO untuk meningkatkan tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di bidang-bidang yang terkait dengan STEM dengan menyediakan kursus-kursus tentang informasi, komunikasi dan teknologi (TIK) bagi kaum muda perempuan yang akan memasuki dunia kerja. Hingga saat ini, empat angkatan kelas khusus perempuan telah diselenggarakan oleh BBPLK-Bekasi.
Didanai oleh J. P. Morgan Chase Foundation, proyek STEM ILO dilaksanakan di tiga negara ASEAN: Indonesia, Thailand dan Filipina. Di Indonesia, Proyek ini diterapkan di sektor otomotif dan TIK, yang diidentifikasi sebagai sektor dengan pertumbuhan tinggi dan menghadirkan kesenjangan keterampilan yang signifikan tetapi juga peluang untuk pertumbuhan