Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2013: Hapuskan pekerja anak dalam pekerjaan rumah tangga di Makassar
Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) di Indonesia, bersama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan, akan bergabung bersama dengan pemerintah, organisasi pengusaha, lembawa swadaya masyarakat (LSM) dan para konstituen kunci lainnya, termasuk para pekerja anak, menyelenggarakan aksi provinsi menentang pekerja rumah tangga anak (PRTA) pada Rabu, 12 Juni 2013, dari pukul 09.00-11.00, di Jalan Sudirman, Makassar, Sulawesi Selatan. Jalan tersebut merupakan salah satu jalan utama di Makassar, disekitar rumah dinas Gubernur Sulawesi Selatan.
10 Juni 2013
Content also available in:
English
MAKASSAR (Berita ILO): Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) di Indonesia, bersama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan, akan bergabung bersama dengan pemerintah, organisasi pengusaha, lembawa swadaya masyarakat (LSM) dan para konstituen kunci lainnya, termasuk para pekerja anak, menyelenggarakan aksi provinsi menentang pekerja rumah tangga anak (PRTA) pada Rabu, 12 Juni 2013, dari pukul 09.00-11.00, di Jalan Sudirman, Makassar, Sulawesi Selatan. Jalan tersebut merupakan salah satu jalan utama di Makassar, disekitar rumah dinas Gubernur Sulawesi Selatan.
Lebih dari 150 peserta, termasuk mantan pekerja anak, dari berbagai organisasi akan menggelar kampanye publik, meningkatkan kesadaran mengenai kehidupan PRTA dan menegaskan upaya menghapuskan PRTA. Aksi ini akan ditandai dengan pelepasan merpati-meparti putih oleh Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan, dan para mitra terkait lainnya. Pelepasan merpati-merpati ini melambangkan kebebasan bagi anak-anak Indonesia untuk meraih impian mereka dan terbebas dari segala bentuk eksploitasi.
Aksi provinsi ini merupakan bagian dari aksi nasional ini diselenggarakan pada hari yang sama di Bundaran HI, sejalan dengan peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada tanggal 12 Juni, yang mengusung tema: “Hapuskan Pekerja Anak dalam Pekerjaan Rumah Tangga”. Sejalan dengan tema tahun ini, aksi nasional ini menandai perjalanan dan upaya panjang menanggulangi permasalahan terkait PRTA. Aksi ini pun menandai diadopsinya Konvensi ILO No. 189 mengenai Pekerjaan Layak untuk Pekerja Rumah Tangga, yang menegaskan perlunya langkah untuk menetapkan usia minimum bagi pekerja rumah tangga yang berperan penting dalam menghapuskan pekerja anak dalam pekerjaan rumah tangga.
Selain itu, kegiatan peningkatan kesadaran media juga dilakukan bersama dengan mitra media lokal Makassar. Acara bersama dengan media (an afternoon tea) akan digelar di Anging Mamiri Terrance, Hotel Makassar Golden. Film pekerja anak akan diputar, dilanjutkan dengan dialog antara media massa dan mitra terkait, termasuk perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja Makassar, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), akademisi dan ILO. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran organisasi media dan jurnalis mengenai isu terkait pekerja rumah tangga dan PRTA. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nasional menghapuskan anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.
Di seluruh belahan dunia, banyak anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dengan menerima upah atau tidak di dalam rumah milik kelompok ketiga atau majikan. Tersembunyi dari jangkauan publik, mereka terbilang rentang terhadap eksploitasi. ILO memperkirakan terdapat 2,6 juta pekerja rumah tangga di Indonesia, di mana 26 persen di antaranya anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Mayoritas dari pekerja rumah tangga ini adalah perempuan, sekitar 90 persen, dengan tingkat pendidikan yang rendah; umumnya berasal dari keluarga miskin dari daerah pedesaan.
Meski pekerja rumah tangga memiliki peran penting, pekerjaan rumah tangga masih belum diakui sebagai sebuah pekerjaan. Karena dilakukan di dalam rumah tangga, yang tidak dianggap sebagai sebagai tempat kerja di banyak negara, hubungan kerja mereka tidak diakui di dalam peraturan ketenagakerjaan nasional atau peraturan lainnya. Akibatnya, mereka pun tidak dapat mengenyam perlindungan kerja selaiknya pekerja lainnya.
“Isu PRTA, yang kerap kali terabaikan mengingat eksploitasi dan penganiayaan terjadi di belakang pintu tertutup, harus mendapatkan perhatian,” ujar Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia. “Karenanya, pada Hari Dunia ini, penting untuk menegaskan perlunya respons kebijakan untuk memastikan penghapusan pekerja anak dalan pekerjaan rumah tangga melalui, di antaranya, program pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan ratifikasi Konvensi ILO No. 189 mengenai Pekerjaan Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, yang melengkapi Konvensi Pekerja Anak ILO yang telah diratifikasi Indonesia, membangun aksi menentang pekerja anak dan menghapuskan PRTA,” lanjut Peter.
Aksi nasional ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan ILO dan para mitranya untuk mempromosikan kesadaran mengenai PRTA. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye publik untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja rumah tangga dan menghapuskan PRT yang dilakukan ILO dan para mitranya selama bulan Juni 2013.
Kegiatan-kegiatan lainnya yang dilakukan selama kampanye mencakup, antara lain kampanye media sosial melalui Facebook dan Twitter, dialog publik dan seminar, keterlibatan media, pemutaran film, dan pertunjukan teater di lima kota: Jakarta, Sukabumi, Surabaya, Lampung dan Makassar.
ILO merupakan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah terkait ketenagakerjaan dan tempat kerja. ILO telah secara aktif menyerukan penghapusan pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya sejak tahun 1992. Saat ini, ILO memiliki dua program yang menangani masalah pekerja anak: Pekerjaan Layak bagi Pekerja Rumah Tangga untuk Menghapuskan Pekerja Rumah Tangga Anak (PROMOTE), yang didanai Departemen Perburuhann Amerika Serikat (USDOL) dan Proyek Memerangi Pekerja Anak melalui Pendidikan, yang didanai Pemerintah Belanda.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Imelda Amelia Sibala
Koordiantor Proyek ILO-PROMOTE untuk Sulawesi Selatan
Tel. : +62215249809
Email
Gita Lingga
Humas ILO
Tel. : +6221 391 3112 ext. 115
Email
Aksi provinsi ini merupakan bagian dari aksi nasional ini diselenggarakan pada hari yang sama di Bundaran HI, sejalan dengan peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada tanggal 12 Juni, yang mengusung tema: “Hapuskan Pekerja Anak dalam Pekerjaan Rumah Tangga”. |
Aksi provinsi ini merupakan bagian dari aksi nasional ini diselenggarakan pada hari yang sama di Bundaran HI, sejalan dengan peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada tanggal 12 Juni, yang mengusung tema: “Hapuskan Pekerja Anak dalam Pekerjaan Rumah Tangga”. Sejalan dengan tema tahun ini, aksi nasional ini menandai perjalanan dan upaya panjang menanggulangi permasalahan terkait PRTA. Aksi ini pun menandai diadopsinya Konvensi ILO No. 189 mengenai Pekerjaan Layak untuk Pekerja Rumah Tangga, yang menegaskan perlunya langkah untuk menetapkan usia minimum bagi pekerja rumah tangga yang berperan penting dalam menghapuskan pekerja anak dalam pekerjaan rumah tangga.
Selain itu, kegiatan peningkatan kesadaran media juga dilakukan bersama dengan mitra media lokal Makassar. Acara bersama dengan media (an afternoon tea) akan digelar di Anging Mamiri Terrance, Hotel Makassar Golden. Film pekerja anak akan diputar, dilanjutkan dengan dialog antara media massa dan mitra terkait, termasuk perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja Makassar, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), akademisi dan ILO. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran organisasi media dan jurnalis mengenai isu terkait pekerja rumah tangga dan PRTA. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nasional menghapuskan anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga.
Di seluruh belahan dunia, banyak anak-anak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dengan menerima upah atau tidak di dalam rumah milik kelompok ketiga atau majikan. Tersembunyi dari jangkauan publik, mereka terbilang rentang terhadap eksploitasi. ILO memperkirakan terdapat 2,6 juta pekerja rumah tangga di Indonesia, di mana 26 persen di antaranya anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Mayoritas dari pekerja rumah tangga ini adalah perempuan, sekitar 90 persen, dengan tingkat pendidikan yang rendah; umumnya berasal dari keluarga miskin dari daerah pedesaan.
Meski pekerja rumah tangga memiliki peran penting, pekerjaan rumah tangga masih belum diakui sebagai sebuah pekerjaan. Karena dilakukan di dalam rumah tangga, yang tidak dianggap sebagai sebagai tempat kerja di banyak negara, hubungan kerja mereka tidak diakui di dalam peraturan ketenagakerjaan nasional atau peraturan lainnya. Akibatnya, mereka pun tidak dapat mengenyam perlindungan kerja selaiknya pekerja lainnya.
“Isu PRTA, yang kerap kali terabaikan mengingat eksploitasi dan penganiayaan terjadi di belakang pintu tertutup, harus mendapatkan perhatian,” ujar Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia. “Karenanya, pada Hari Dunia ini, penting untuk menegaskan perlunya respons kebijakan untuk memastikan penghapusan pekerja anak dalan pekerjaan rumah tangga melalui, di antaranya, program pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan ratifikasi Konvensi ILO No. 189 mengenai Pekerjaan Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, yang melengkapi Konvensi Pekerja Anak ILO yang telah diratifikasi Indonesia, membangun aksi menentang pekerja anak dan menghapuskan PRTA,” lanjut Peter.
Aksi nasional ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan ILO dan para mitranya untuk mempromosikan kesadaran mengenai PRTA. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye publik untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi pekerja rumah tangga dan menghapuskan PRT yang dilakukan ILO dan para mitranya selama bulan Juni 2013.
Kegiatan-kegiatan lainnya yang dilakukan selama kampanye mencakup, antara lain kampanye media sosial melalui Facebook dan Twitter, dialog publik dan seminar, keterlibatan media, pemutaran film, dan pertunjukan teater di lima kota: Jakarta, Sukabumi, Surabaya, Lampung dan Makassar.
ILO merupakan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah terkait ketenagakerjaan dan tempat kerja. ILO telah secara aktif menyerukan penghapusan pekerja anak, terutama bentuk-bentuk terburuknya sejak tahun 1992. Saat ini, ILO memiliki dua program yang menangani masalah pekerja anak: Pekerjaan Layak bagi Pekerja Rumah Tangga untuk Menghapuskan Pekerja Rumah Tangga Anak (PROMOTE), yang didanai Departemen Perburuhann Amerika Serikat (USDOL) dan Proyek Memerangi Pekerja Anak melalui Pendidikan, yang didanai Pemerintah Belanda.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Imelda Amelia Sibala
Koordiantor Proyek ILO-PROMOTE untuk Sulawesi Selatan
Tel. : +62215249809
Gita Lingga
Humas ILO
Tel. : +6221 391 3112 ext. 115