Forum Bisnis Indonesia 2018: Meningkatkan skala kerjasama untuk mencapai dampak yang lebih besar
Sektor garmen Indonesia menempati peringkat teratas di antara sepuluh negara penghasil tekstil terbesar dan penyumbang utama ekonomi nasional. Program ILO-BWI terus memberdayakan bisnis garmen lokal untuk bisa sukses dalam industri garmen global melalui Forum Bisnis Indonesia tahunan.
26 September 2018
Diselenggarakan oleh ILO melalui program Better Work Indonesia (BWI), Forum ini menyediakan wadah bagi para peserta untuk meninjau kemajuan yang dibuat dalam industri garmen, berbagi praktik sukses dan terbaik serta menyoroti peran dialog sosial dalam mengatasi masalah di sektor garmen dan gender.Saya mengapresiasi industri ini untuk pencapaian target ekspor sebesar USD 15 miliar pada 2018. Karenanya, penting bagi para pengusaha tekstil di forum ini untuk terus membangun industri tekstil dari hulu ke hilir."
Muhdori, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka, Kementerian Perindustrian
Muhdori, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka, Kementerian Perindustrian, mengapresiasi target ekspor yang dicapai oleh industri garmen dan alas kaki. "Saya mengapresiasi industri ini untuk pencapaian target ekspor sebesar USD 15 miliar pada 2018. Karenanya, penting bagi para pengusaha tekstil di forum ini untuk terus membangun industri tekstil dari hulu ke hilir," katanya.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menekankan peluang bagi Indonesia dalam peningkatan pangsa ekspor. “Meningkatnya upah tenaga kerja di Tiongkok telah menyebabkan industri manufaktur Tiongkok mulai bergeser ke industri bernilai tambah lebih tinggi. Akibatnya, ekspor tekstil Tiongkok mulai menurun sejak 2015,” ujar Anne Patricia Sutanto, Anggota Dewan Penasihat Apindo, seraya menambahkan bahwa ekspor tekstil Indonesia hingga kuartal kedua 2018 telah melampaui pertumbuhan pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya.
Meningkatkan dialog sosial dan kesetaraan jender
Untuk meningkatkan kepatuhan ketenagakerjaan di industri garmen, Forum ini memperkenalkan pedoman teknis perjanjian kerja non-permanen di pabrik garmen yang berorientasi ekspor, yang dikembangkan bersama oleh program ILO-BWI dan Kementerian Ketenagakerjaan. Panduan ini telah dikembangkan dengan melibatkan pabrik, pekerja dan pemerintah di tingkat nasional dan lokal.“Panduan ini merupakan contoh penggunaan dialog sosial untuk menyelesaikan masalah kepatuhan di sektor garmen. Ini bertujuan untuk mengatasi kesalahpahaman dan mengklarifikasi ketidakpastian peraturan sehingga lebih banyak pabrik yang mematuhi penggunaan perjanjian kerja tersebut,” kata Albert Y. Bonasahat, Koordinator Proyek Nasional ILO-BWI. Dia menambahkan bahwa peningkatan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan tidak hanya akan meningkatkan daya saing pabrik, tetapi juga dapat menyediakan kondisi yang lebih baik bagi pekerja garmen.Kementerian Ketenagakerjaan mendorong semua pemangku kepentingan untuk berbagi isu terkait keseimbangan gender. Kami akan membantu menyediakan mekanisme jika isu-isu kesetaraan gender terjadi di sektor swasta."
Retno Pratiwi, Kepala Subdirektorat Kesetaraan Norma Kerja, Direktorat Norma Kerja Kementerian Ketenagakerjaan
Mengatasi ketidakseimbangan gender dalam hal upah, kondisi kerja dan tunjangan, perwakilan dari Kementerian Ketenagakerjaan menyoroti prioritas pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan para pengawas tenaga kerja setempat, memperkuat penegakan hukum tentang keseimbangan jender dan mendukung gugus tugas Kesetaraan Peluang Kerja (EEO).
“Kementerian Ketenagakerjaan mendorong semua pemangku kepentingan untuk berbagi isu terkait keseimbangan gender. Kami akan membantu menyediakan mekanisme jika isu-isu kesetaraan gender terjadi di sektor swasta,” kata Retno Pratiwi, Kepala Subdirektorat Kesetaraan Norma Kerja, Direktorat Norma Kerja Kementerian Ketenagakerjaan.
Menanggapi isu-isu terkait kesetaraan jender, program ILO-BWI baru-baru ini memperbarui fokus strategisnya pada kesetaraan jender dan pemberdayaan ekonomi perempuan dengan menempatkan perempuan pada titik pusat dari semua aspek kerjanya. ILO-BWI juga membentuk program kesadaran dan pencegahan pelecehan seksual bernama RESPECT (Upaya Bertanggungjawab untuk Keamanan, Perlindungan dan Budaya Beretika). “Ini untuk membekali pekerja perempuan agar memiliki pengetahuan tentang hak-hak mereka dan prosedur yang mereka butuhkan untuk melaporkan dan penanganan kasus-kasus,” jelas Albert.
Keterlibatan merek internasional dan pemasok yang lebih besar dalam kepatuhan kerja
Pada hari kedua, Forum ini mengkaji upaya peningkatan pabrik dalam hal kepatuhan serta kinerja dan daya saing. Kesava Murali, Spesialis Teknis untuk Layanan Inti Program ILO-BWI, menyoroti layanan yang dapat diberikan oleh program ini sebagai upaya meningkatkan dialog sosial, kerja sama bipartit dan kepatuhan kerja di tingkat pabrik. Beberapa layanan yang dibahas adalah peta jalan menuju pabrik berkinerja tinggi dan peran penasihat perusahaan mini guna membantu meningkatkan kepatuhan pabrik.“Melalui layanan pembinaan dan pelatihan, Better Work akan membantu pabrik-pabrik membuat peta jalan mereka sendiri untuk menuju Pabrik Berkinerja Tinggi,” kata Kesava. Dia juga menambahkan bahwa melalui kerangka diferensiasi, Better Work memberikan layanan kepada masing-masing pabrik berdasarkan kebutuhan dan kinerjanya.
Penasihat perusahaan mini adalah pekerja pabrik yang dilatih oleh program ILO-BWI dan ditunjuk untuk menjadi penasihat kepatuhan kerja internal. Menghargai semakin besarnya keterlibatan pabrik sebagai bagian dari merek dan pemasok internasional dalam proses kepatuhan kerja, Dedi Wahyudi, Manager HSE dan Kepatuhan di sebuah perusahaan pakaian mengatakan bahwa “Sangat penting untuk menemukan dan menciptakan para penasihat di tingkat pabrik ini untuk meningkatkan kepatuhan di dalam pabrik dengan menerapkan, antara lain, pemantauan internal yang baik.”Melalui layanan pembinaan dan pelatihan, Better Work akan membantu pabrik-pabrik membuat peta jalan mereka sendiri untuk menuju Pabrik Berkinerja Tinggi."
Kesava Murali, Spesialis Teknis untuk Layanan Inti Program ILO-BWI
Diakhiri dengan komitmen dari merek dan pemasok global untuk membangun kerjasama yang lebih erat dengan program ILO-BWI tentang bimbingan bersama, pelatihan bersama dan pengembangan kapasitas untuk mendukung peningkatan pabrik dalam rantai pasokan mereka sehingga akhirnya menjadi pabrik berkinerja tinggi.
“Better Work adalah tentang mempertemukan pelaku utama untuk perubahan di sektor garmen. Kami memobilisasi merek global, ritel, pemerintah, pemilik pabrik dan pekerja tidak hanya untuk meningkatkan kondisi kerja tetapi juga untuk mendorong daya saing,” Maria João Vasquez, Manajer Program ILO-BWI, menyimpulkan.Better Work adalah tentang mempertemukan pelaku utama untuk perubahan di sektor garmen. Kami memobilisasi merek global, ritel, pemerintah, pemilik pabrik dan pekerja tidak hanya untuk meningkatkan kondisi kerja tetapi juga untuk mendorong daya saing."
Maria João Vasquez, Manajer Program ILO-BWI
Better Work Indonesia merupakan bagian dari program Better Work global, kemitraan antara Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan International Finance Corporation (IFC). Better Work Indonesia saat ini telah memberikan manfaat kepada lebih dari 350.000 pekerja (81 persennya perempuan), meningkatkan kondisi kerja di 212 pabrik, dengan keterlibatan 32 merek dan ritel.