Siaran pers
Dunia usaha Indonesia serukan aksi menentang kekerasan dan pelecehan berbasis gender di tempat kerja
Sejumlah perusahaan Indonesia menandatangani Ikrar Toleransi Nol terhadap Kekerasan dan Pelecehan Berbasis Gender, yang didukung oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Koalisi Bisnis Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE).
11 Desember 2025
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) — Pekerja Indonesia masih rentan terhadap kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. Survei yang dilakukan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pekerja di Indonesia telah mengalami atau menjadi korban bentuk kekerasan atau pelecehan di tempat kerja. Ini menyoroti kebutuhan mendesak bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, saling menghargai dan produktif dengan menetapkan dan menegakkan kebijakan tempat kerja yang menjamin kebebasan dari praktik-praktik tersebut.
Untuk itu, ILO bekerja sama dengan Koalisi Bisnis untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE) menyelenggarakan Leaders’ Gathering dengan tema “Membangun Tempat Kerja yang Terbebas dari Kekerasan dan Pelecehan” di Jakarta pada Kamis, 11 Desember. Diselenggarakan sejalan dengan kampanye global 16 Hari Aksi Melawan Kekerasan Berbasis Gender, acara ini menghadirkan lebih dari 20 perusahaan terkemuka dari berbagai sektor, termasuk manufaktur, elektronik, tekstil dan alas kaki serta kelapa sawit.
Apindo mengajak para pimpinan perusahaan untuk berpartisipasi aktif dan mengambil tindakan nyata. Komitmen dunia usaha untuk menjadikan pencegahan dan penanganan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja sebagai tata kelola dan operasional perusahaan merupakan kekuatan yang mempercepat perubahan.
Myra Hanartani, Kepala Komite Regulasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Salah satu sorotan utama acara tersebut adalah penandatanganan Ikrar Toleransi Nol terhadap Kekerasan dan Pelecehan Berbasis Gender oleh perusahaan-perusahaan peserta, yang menandakan komitmen bersama para pemimpin bisnis untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. Melalui ikrar ini, mereka secara resmi menegaskan dedikasi mereka untuk membangun tempat kerja yang aman dan bermartabat, yang terbebas dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan, termasuk kekerasan berbasis gender.
Pernyataan ini juga mencerminkan dukungan bisnis terhadap penguatan langkah-langkah pencegahan dan tanggapan, promosi budaya kerja yang adil dan inklusif, pembentukan mekanisme pelaporan yang aman dan bebas dari rasa takut serta kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan penerapan yang efektif sesuai dengan konteks perusahaan dan peraturan yang berlaku. Satu hal yang terpenting, ikrar ini sejalan dengan Konvensi ILO No. 190 tentang Kekerasan dan Pelecehan, yang diadopsi pada 2019 dan merupakan perjanjian internasional pertama yang mengakui hak universal untuk dunia kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan.
Myra Hanartani, Kepala Komite Regulasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menegaskan komitmen dunia usaha dalam membangun tempat kerja yang bebas daria kekerasan dan pelecehan. Dengan dukungan ILO, Apindo pun telah menerbitkan Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Tempat Kerja pada 2022 bagi dunia usaha.
“Apindo mengajak para pimpinan perusahaan untuk berpartisipasi aktif dan mengambil tindakan nyata. Komitmen dunia usaha untuk menjadikan pencegahan dan penanganan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja sebagai tata kelola dan operasional perusahaan merupakan kekuatan yang mempercepat perubahan,” ujar Myra. “Komitmen bersama dari dunia usaha mempercepat terwujudnya tempat kerja yang lebih aman dan setara di seluruh Indonesia.”
Penandatanganan ikrar hari ini mencerminkan kepemimpinan dan tekad perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsip ini ke dalam praktik nyata.
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, mengapresiasi peran serta para pemimpin bisnis dalam upaya menciptakan tempat kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan. Dia menegaskan bahwa dukungan ILO diberikan melalui Proyek Keuntungan Perdagangan Bebas dari Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains), yang didanai oleh Pemerintah Kanada, yang berfokus pada penghapusan diskriminasi berbasis gender dan pekerja anak di tiga sektor ekspor utama Indonesia: alas kaki, kelapa sawit dan produksi baterai lithium.
“ILO siap terus mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia dalam mewujudkan Prinsip-prinsip dan Hak-hak Mendasar di Tempat Kerja, dengan fokus khusus pada penghapusan kekerasan dan pelecehan berbasis gender. Penandatanganan ikrar hari ini mencerminkan kepemimpinan dan tekad perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsip ini ke dalam praktik nyata,” kata Simrin. “Komitmen ini melampaui kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan internasional; Ini tentang menciptakan tempat kerja yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.”
Sebagai wadah untuk bertukar praktik baik dalam membangun tempat kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan, terdapat juga sesi diskusi interaktif yang dimoderatori oleh Wita Krisanti, Direktur Eksekutif IBCWE, menampilkan Lusiani Julia, Staf Program ILO untuk Kesetaraan Gender, Sumarjono Saragih, Kepala Pengembangan Sumber Daya Manusia Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), serta Intan Permata Hati, Kepala Kepatuhan dan Keberlanjutan Lingkungan Adis Dimension Footwear.
Dalam diskusi ini, mereka membagikan upaya di tingkat industri untuk mengintegrasikan kebijakan nol toleransi, menekankan pentingnya penyelarasan kebijakan perusahaan dengan standar ketenagakerjaan internasional guna memastikan perubahan yang berkelanjutan, serta menyoroti bagaimana berbagai sektor mengambil langkah proaktif untuk menghapuskan kekerasan berbasis gender di tempat kerja
Tentang ILO
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan badan khusus PBB yang didirikan pada 1919 untuk mempromosikan keadilan sosial, pekerjaan yang layak dan hak asasi manusia serta hak kerja yang diakui secara internasional melalui penetapan standar, pengembangan kebijakan serta penyediaan pendidikan dan penelitian bagi 187 negara anggotanya. ILO secara unik bekerja bersama pemerintah, pengusaha dan pekerja (tripartisme) untuk menciptakan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kondisi kerja, kesetaraan dan perlindungan sosial di seluruh dunia.
Tentang IBCWE
Koalisi Bisnis untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE) merupakan koalisi perusahaan yang berkomitmen untuk mempromosikan pemberdayaan ekonomi perempuan dan kesetaraan gender. Misi kami adalah mendukung perusahaan dalam mengoptimalkan peran mereka dalam meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan dan kesetaraan gender. IBCWE didirikan dengan dukungan dari Pemerintah Australia melalui program Investing in Women.
Acara penandatanganan Ikrar ini disiarkan langsung melalui ILO TV Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Dede Sudono
Koordinator Proyek RealGains ILO di Indonesia
Email: [email protected]
Gita Lingga
Asisten Manajemen Informasi dan Komunikasi ILO
Email: [email protected]
Related content
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
Relevant projects
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)