Direktur Jenderal ILO mengatakan pembuat kebijakan harus pertimbangkan kebutuhan keluarga pekerja dan tempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai fokus dari upaya pemulihan ekonomi

Direktur Jenderal Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO), Juan Somavia, mengingatkan bahwa “awan gelap” kembali memayungi di Asia, kendati pertumbuhan dan investasi kembali tumbuh dan mengalir. Perekonomian Asia menjadi lebih terbuka dibandingkan sebelumnya meski dengan risiko perekonomian global akan terperosok ke dalam resesi kedua, keterbukaan ini membawa implikasi positif dan negatif.

4 Desember 2011

Content also available in: English العربية

Kyoto (Berita ILO): Direktur Jenderal Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO), Juan Somavia, mengingatkan bahwa “awan gelap” kembali memayungi di Asia, kendati pertumbuhan dan investasi kembali tumbuh dan mengalir. Perekonomian Asia menjadi lebih terbuka dibandingkan sebelumnya meski dengan risiko perekonomian global akan terperosok ke dalam resesi kedua, keterbukaan ini membawa implikasi positif dan negatif.

Somavia memberikan pidato pembukaan pada Pertemuan Regional ILO se-Asia dan Pasifik (APRM) ke-15 yang diselenggarakan di Kyoto hari ini.

“Model pertumbuhan global yang berkembang selama tiga dasawarsa belakangan ini mungkin telah meningkatkan perekonomian sejumlah negara, namun pertumbuhan tersebut terbukti timpang, tidak adil dan tidak berkesinambungan. Pertumbuhan tersebut telah menciptakan ketimpangan, tantangan lingkungan baru dan defisit besar dalam pekerjaan yang layak. Apabila tidak disikapi dengan baik akan mengancam baik kohesi sosial, stabilitas politik serta pembangunan jangka panjang”, Somavia mengingatkan. “Dunia dan Asia membutuhkan visi pertumbuhan dan pembangunan baru yang dapat membuka jalan ke era keadilan sosial baru”.

Direktur Jenderal mengingatkan bahwa akan menjadi “kesalahan besar” untuk salah mengartikan momen-momen kritis yang kita lalui sebagai krisis kepercayaan pasar keuangan di Eurozone. “Sebaliknya, ada peningkatan kepercayaan di banyak tempat bahwa kerangka kerja tatakelola pemerintah multilateral kita dan bahkan banyak sistem politik nasional tidak sejalan dengan kekuatan para pelaku keuangan. Karenanya mendesak untuk mempertahankan dan memperoleh kembali kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam menyusun kebijakan-kebijakan masyarakat yang menguntungkan keluarga pekerja dan komunitas mereka serta dunia usaha dan wirausahawan dari ekonomi ril”.

Aksi yang sedang marak di “dunia Arab”, protes massa, demonstrasi, kerusuhan serta berbagai pernyataan kemarahan dan bahaya kini sedang berlangsung.

Somavia mengatakan bahwa para kaum perempuan dan laki-laki muda banyak memimpin protes sejenis yang mengekpresikan rasa frustasi dan marah terhadap pengucilan ekonomi dan kurangnya peluang. “Hal dipadu dengan perubahan rezim dan aspirasi demokratis. Lainnya adalah reaksi terhadap tindakan keras yang mempengaruhi banyak mereka yang rentan yang tidak bertanggung jawab terhadap krisis, atau karena terus meningkatnya permasalahan ketimpangan dan dan ketidakadilan sosial. Namun, di semua tempat terdapat kebutuhan akan kesempatan yang adil terhadap pekerjaan yang layak.”

“Pembuat kebijakan global perlu saling mendekatkan diri pada kebutuhan keluarga pekerja dan menanggulangi krisis ketenagakerjaan global hingga ke tingkat akar. Penting untuk meletakkan kebijakan dan tindakan global yang mendorong investasi dalam ekonomi ril dengan perusahaan-perusahaan produktif yang melahirkan pekerjaan yang layak, menyerap informalitas dan secara signifikan mengurangi ruang bagi operasi keuangan yang tidak produktif”.

Direktur Jenderal mengatakan bahwa reformasi industri layanan keuangan global memainkan peran penting dengan apa yang disebut dengan “perbankan yang membosankan” – mengarah pada inovasi, investasi produktif, perdagangan dan konsumsi. Somavia juga menggarisbawahi tantangan-tantangan kebijakan yang akan dibahas para delegasi APRM selama konferensi, juga dengan langkah-langkah yang diperlukan untuk membentuk model pertumbuhan yangn lebih efisien secara sosial dan ekonomi.

Tantangan pertama adalah pembangunan yang lebih efisien, berkeadilan dan memiliki polla pertumbuhan yang padat karya. Kedua, pembangunan dan penguatan landasan perlindungan sosial khususnya melindungi kaum yang paling rentan dan miskin. Negara-negara harus membuka potensi usaha kecil dan menengah. Pengembangan pekerjaan ramah lingkungan (green jobs) serta transisi yang adil ke arah perekonomian rendah karbon juga menjadi kunci. Pemerintah pun perlu membentuk pasar kerja yang lebih inklusif dan adil sejalan dengan standar-standar ketenagakerjaan internasional dan hak-hak di tempat kerja, dengan dialog sosial sebagai pusat. Akhirnya, kaum muda harus memiliki akses terhadap peluang pekerjaan yang layak.

Direktur Jenderal mengutip peribahasa Jepang yang mengatakan, ‘Visi tanpa aksi hanyalah mimpi di siang hari; aksi tanpa visi adalah malapetaka’. “Saya percaya bahwa ekonomi tanpa panduan moral melahirkan terlalu banyak malapetaka,” kata dia, seraya menambahkan mengapa visi pekerjaan yang layak menjadi penting. “Masih banyak yang harus dilakukan namun visi tersebut harus menjadi dasar dalam pembuatan kebijakan. Hal tersebut menentukan aksi dalam beragam cara. Kita harus gigih,” disimpulkan Somavia.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Sophy Fisher
Staf Informasi Regional – Asia and the Pacific
Email


Farah Dakhlallah
Staf Jangkauan Regional dan Advokasi – Negara Arab
Email


Marcia Poole
Direktur Departemen Komunikasi ILO
Email

Tel: +41 79 593 1530