Dewan keterampilan sektoral merupakan kunci dalam menyediakan pekerja terampil sesuai kebutuhan industri

Lima rekomendasi utama untuk memperkuat sumber daya manusia Indonesia dan memastikan kesesuaian keterampilan di sektor elektronik dikembangkan para pelaku ketenagakerjaan sektoral utama dengan difasilitasi Proyek Pengembangan Keterampilan dan Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab ILO.

23 Februari 2024

Content also available in: English
Pembentukan dewan keterampilan sektoral di sektor elektronik, memperkuat kolaborasi antara industri dan lembaga pendidikan dan pelatihan teknis dan kejuruan termasuk pemerintah, pelaksanaan program pemagangan, integrasi keterampilanl non teknis ke dalam kurikulum serta koordinasi yang lebih baik antara industri dan lembaga pemerintah di tingkat daerah merupakan lima rekomendasi yang dikembangkan dalam acara dua hari ILO yang membahas pengembangan strategi keterampilan sektoral elektronik.

Pemetaan industri perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan industri, khususnya industri elektronik, dan memperkuat kolaborasi dengan industri yang penting untuk mengakomodasi bonus demografi pada 2030."

Chairul Saleh, Asisten Deputi Bidang Peningkatan Daya Saing Ekonomi Regional Kemenko Perekonomian
Rekomendasi-rekomendasi tersebut dikembangkan melalui serangkaian kerja kelompok yang mencakup berbagai isu mulai dari lingkungan bisnis, tren pasar, analisis SWOT di industri elektronik hingga kesenjangan dalam keterampilan bisnis dan implikasinya terhadap keterampilan, serta ketersediaan penyedia keterampilan dan tantangan sistemik yang ditemukan.

Melalui kerja kelompok, para peserta—mewakili para pelaku utama industri elektronik mulai dari instansi pemerintah, akademisi, perusahaan elektronik, organisasi pekerja dan pengusaha—bersama-sama berbagi pengalaman dan menelaah kondisi serta kontribusi sektor elektronik terhadap implementasi kebijakan bisnis yang bertanggung jawab dan pengembangan keterampilan.

Diadakan di Cikarang, Jawa Barat pada 19-20 Februari, lokakarya ini diselenggarakan oleh Pengembangan Keterampilan dan Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab ILO, yang didanai oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang, bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

TNKV tidak lengkap tanpa dewan keterampilan sektoral yang berperan penting dalam menyediakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan industri, khususnya industri elektronik.."

A. Saufi, Asisten Deputi Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Tinggi Kemenko PMK
Acara ini menyediakan tempat bagi para peserta – yang mewakili perusahaan, anggota serikat pekerja, akademisi dan lembaga pendidikan vokasi serta pemerintah – untuk berbagi pengalaman dan keahlian mereka dan bersama-sama mengidentifikasi cara untuk mengembangkan kolaborasi yang kuat di antara mitra terkait.

Dalam sambutannya, Chairul Saleh, Asisten Deputi Bidang Peningkatan Daya Saing Ekonomi Regional Kemenko Perekonomian, menekankan pentingnya kesesuaian keterampilan. “Pemetaan industri perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan industri, khususnya industri elektronik, dan memperkuat kolaborasi dengan industri yang penting untuk mengakomodasi bonus demografi pada 2030,” ujarnya.

Sementara itu, A. Saufi, Asisten Deputi Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Tinggi Kemenko PMK, menggarisbawahi pentingnya dewan keterampilan sektoral sebagai bagian dari pelaksanaan Tim Koordinasi Nasional Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi (TNKV) berdasarkan Keputusan Menko PMK No. 5 Tahun 2022 tentang Peran dan Fungsi TNKV.

“TNKV tidak lengkap tanpa dewan keterampilan sektoral yang berperan penting dalam menyediakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan industri, khususnya industri elektronik. Dewan keterampilan sektoral adalah jawaban atas kebutuhan kita saat ini dan di masa depan akan kesesuaian keterampilan,” ujarnya.

Dengan menerapkan pembelajaran dari proyek-proyek ILO sebelumnya, pembentukan dewan keterampilan sektoral untuk industri elektronik, menurut Dede Sudono, Koordinator Program Pengembangan Keterampilan dan Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab ILO di Indonesia, akan memanfaatkan metode Keterampilan ILO untuk Perdagangan dan Diversifikasi Ekonomi (STED). STED adalah metodologi tingkat sektor yang membantu pembentukan kebijakan dan strategi pengembangan keterampilan yang membantu negara menjadi lebih kompetitif dalam konteks pasar terbuka dan membangun atau mempertahankan struktur ekonomi yang sehat dan terdiversifikasi.

Ini adalah bagian dari dialog sosial yang menunjukkan kepada kita pentingnya menemukan solusi untuk program peningkatan keterampilan dan keterampilan ulang."

M. Zaki dari departemen HRD Axio Group
Dalam lokakarya tersebut, disampaikan temuan awal penelitian mengenai industri elektronik Indonesia yang dilakukan bersama oleh ILO dan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM-FEB UI). Riset mengungkapkan, terjadi penurunan jumlah pekerja di sektor elektronik secara signifikan dari 3,8 juta pekerja pada 2010 menjadi sekitar enam ratus ribu pekerja pada 2022.

Kami telah mendukung pengembangan sumber daya manusia untuk Panasonic Gobel melalui pusat pelatihan komunitas kami. Hingga saat ini, kami telah melatih sekitar 8.000 tenaga kerja terampil yang mayoritas diserap oleh Panasonic Gobel dan sisanya memiliki kompetensi untuk mencari pekerjaan atau mendirikan usaha di bidang elektronik."

Djoko Wahyudi, Presiden Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel
Penelitian ini juga menemukan bahwa sektor ini didominasi oleh usaha mikro dan kecil, kecuali subsektor komponen dan papan elektronik yang didominasi oleh perusahaan besar. Sebelumnya pada 2010, sektor ini didominasi oleh pekerja laki-laki dengan peningkatan jumlah pekerja perempuan mulai tahun 2018.

M. Zaki dari departemen HRD Axio Group mengatakan bahwa lokakarya ini telah memberinya wawasan dari serikat pekerja. “Ini adalah bagian dari dialog sosial yang menunjukkan kepada kita pentingnya menemukan solusi untuk program peningkatan keterampilan dan keterampilan ulang.”

Hal senada juga disampaikan Djoko Wahyudi, Presiden Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel. Ia menyoroti peran penting serikat pekerja dalam mempromosikan kesesuaian keterampilan dan dalam mengembangkan pekerja yang kompeten dan terampil sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kami telah mendukung pengembangan sumber daya manusia untuk Panasonic Gobel melalui pusat pelatihan komunitas kami. Hingga saat ini, kami telah melatih sekitar 8.000 tenaga kerja terampil yang mayoritas diserap oleh Panasonic Gobel dan sisanya memiliki kompetensi untuk mencari pekerjaan atau mendirikan usaha di bidang elektronik,” pungkasnya.