Peringatan 100 tahun ILO

Deputi Direktur Jenderal ILO, Greg Vines: ILO serukan pendekatan “berpusat pada manusia” untuk pekerjaan masa depan

Deputi Direktur Jenderal ILO, Greg Vines, menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia untuk pekerjaan masa depan di Forum Pembangunan Indonesia (IDF) di Jakarta

6 Agustus 2019

Content also available in: English
ILO menyerukan agenda yang berpusat pada manusia untuk pekerjaan masa depan yang menempatkan orang dan pekerjaan yang mereka lakukan sebagai pusat perekonomian, kebijakan sosial dan praktik bisnis, demikian Deputi Direktur Jenderal untuk Manajemen dan Reformasi, Greg Vines.

Agenda yang berpusat pada manusia ini merupakan bagian dari laporan Komisi Global ILO tentang Pekerjaan Masa Depan, yang dirilis awal tahun ini. “Agenda ini menyoroti tiga pilar aksi penting yang terfokus pada peningkatan investasi dalam kemampuan masyarakat, institusi kerja serta pekerjaan yang layak dan berkelanjutan,” jelas Vines pada sesi pleno Forum Pembangunan Indonesia (IDF) 2019 yang diadakan di Jakarta dari 22-23 Juli 2019.

Ketenagakerjaan muda masih menjadi tantangan global dan menjadi prioritas dalam kebijakan. Karenanya, ILO terus berupaya baik di tingkat global maupun nasional untuk mengurangi ketidaksesuaian keterampilan di kalangan kaum muda."

Vines berbicara di IDF—Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif, salah satu fórum pembangunan nasional terbesar yang mengundang para pembuat kebijakan, sektor swasta, akademisi, serikat pekerja dan lembaga pelatihan dari tingkat global dan nasional untuk berbagi análisis dan mencari solusi terhadap perubahan dunia kerja.

Vines membahas tantangan dalam pekerjaan bagi kaum muda dan pekerjaan masa depan. Kaum muda masih menghadapi ketidaksesuaian keterampilan yang signifikan, khususnya di lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi dan tingkat pengangguran kaum muda mencapai lima hingga enam kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

"Ketenagakerjaan muda masih menjadi tantangan global dan menjadi prioritas dalam kebijakan. Karenanya, ILO terus berupaya baik di tingkat global maupun nasional untuk mengurangi ketidaksesuaian keterampilan di kalangan kaum muda," ujar Vines.

Dia juga membahas masalah cepatnya perubahan dunia kerja akibat kemajuan teknologi dan revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang terjadi. Namun, ia mengingatkan para peserta sesi pleno bahwa diskusi yang sedang berlangsung tentang otomatisasi dan pekerjaan di masa depan sebagian besar masih berfokus pada risiko, tidak pada peluang.

Otomatisasi juga merupakan cara untuk meningkatkan produktivitas. Ada banyak peluang yang telah dihadirkan oleh teknologi kepada kita. Namun, kita perlu memastikan adanya perjanjian dan peraturan yang tepat untuk melindungi dunia kerja."

“Otomatisasi juga merupakan cara untuk meningkatkan produktivitas. Ada banyak peluang yang telah dihadirkan oleh teknologi kepada kita. Namun, kita perlu memastikan adanya perjanjian dan peraturan yang tepat untuk melindungi dunia kerja,” katanya.

Dia menyimpulkan pleno dengan gagasan bahwa pekerjaan masa depan dapat dan harus merupakan hasil dari tindakan kita sendiri, dari intervensi manusia. “Peluang yang tak terhitung jumlahnya ada di depan, namun kita harus mengubah pola pemikiran dengan melihat pekerjaan masa depan dari perspektif manusia, bukan dari perspektif teknologi. Untuk program saat ini, kita perlu melindungi pekerja menuju masa depan dan untuk masa depan kita perlu mengidentifikasi kekurangan-kekurangan yang ada agar dapat menciptakan ketidaksetaraan dan mengatasi tantangan ketenagakerjaan dengan peraturan yang sesuai.”