Upah digital

Dari tunai ke digital: Mitra sosial mendorong digitalisasi pembayaran upah bagi UKM di Indonesia

Pusat Global ILO tentang Upah Digital untuk Pekerjaan Layak telah mendukung para mitranya di Indonesia untuk meningkatkan pembayaran upah secara digital dan bertanggung jawab bagi UKM.

2 April 2026

Content also available in: English
Group photo
© ILO
© ILO

BANDUNG dan SURABAYA, Indonesia (Berita ILO) – Bagi banyak usaha kecil di Indonesia, pembayaran upah secara tunai masih menjadi hal yang umum — namun hal ini mulai berubah. Selama setahun terakhir, Pusat Global ILO tentang Upah Digital untuk Pekerjaan Layak, telah membangun kapasitas berbagai organisasi pemerintah dan mitra sosial di Indonesia untuk mendorong pembayaran upah ke rekening bank atau dompet digital pada usaha kecil dan menengah (UKM), secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Inti dari program pelatihan Digitalisasi Upah yang Bertanggung Jawab (RWD) adalah sebuah inisiatif berbasis sertifikasi yang membekali organisasi mitra dengan pengetahuan, keterampilan dan alat untuk secara efektif mendukung UKM dalam mengadopsi sistem pengupahan secara digital. Program ini mencakup isu-isu penting yang harus diperhatikan oleh UKM selama proses transisi, termasuk cara menyusun sistem penggajian dan cara melibatkan pekerja, serta memberikan panduan yang dapat diterapkan kepada perusahaan.

Kami sepenuhnya mendukung program ILO mengenai upah digital, yang rencananya akan kami sebarluaskan melalui mitra-mitra SPN di sektor tekstil, garmen dan alas kaki. Selain itu, kami juga ingin menjajaki untuk sektor perkebunan kelapa sawit.

Iwan Kusmawan, Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN)

Program ini mengadopsi pendekatan berbasis sertifikasi di mana para pelatih dari organisasi mitra mengikuti Pelatihan bagi Pelatih yang diselenggarakan oleh Pusat Global ILO bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan konsultan lokal, RIWANI Globe dan kemudian para pelatih ini memberikan pelatihan secara mandiri bagi UKM di jaringan mereka masing-masing, sebagai bagian dari persyaratan sertifikasi.

Hasil yang diperoleh sejauh ini cukup memuaskan: Sembilan pelatih dari lima organisasi mitra, termasuk APINDO, Pusat Layanan Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM), Asosiasi Industri Furnitur dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO), Sahabat Ayu (Komunitas Wirausaha Perempuan) dan bank pedesaan BPR Nusamba Cepiring telah bersama-sama menyelenggarakan 22 kegiatan pelatihan, menjangkau 281 usaha di seluruh Indonesia dan menyelesaikan persyaratan sertifikasi mereka.

Five people standing
© ILO
© ILO
Peserta melakukan kerja kelompok di salah satu pelatihan sertifikasi di Indonesia.

Pada Februari 2026, Pusat Global ILO dan RIWANI Globe menyelenggarakan dua pelatihan sertifikasi di Bandung dan Surabaya untuk mengevaluasi pengetahuan teknis dan keterampilan penyampaian materi para pelatih, yang merupakan tahapan penting dalam perluasan program ini.

Pelatihan sertifikasi di Surabaya diselenggarakan bekerja sama dengan APINDO. Yulia Setyarini, seorang pelatih yang mewakili APINDO di Jawa Timur, menyampaikan pandangannya mengenai program pelatihan ini:

Keterlibatan saya dalam pelatihan Digitalisasi Upah yang Bertanggung Jawab ini didorong oleh kebutuhan APINDO untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan UKM di Jawa Timur agar lebih berkelanjutan. Dengan pelatihan ini, kami berharap para pemilik UKM akan mengadopsi pembayaran digital, termasuk pembayaran upah, sehingga meningkatkan kredibilitas mereka.

Sedangkan pelatihan yang diadakan Bandung merupakan langkah maju yang penting, di mana Serikat Pekerja Nasional (SPN) turut mendukung pelaksanaan pelatihan ini dan kembali menegaskan komitmennya terhadap program digitalisasi upah yang bertanggung jawab untuk UKM. Iwan Kusmawan, Ketua SPN, menyatakan dukungan penuh terhadap potensi jangkauan program ini.

“Kami sepenuhnya mendukung program ILO mengenai upah digital, yang rencananya akan kami sebarluaskan melalui mitra-mitra SPN di sektor tekstil, garmen dan alas kaki. Selain itu, kami juga ingin menjajaki untuk sektor perkebunan kelapa sawit. Kami berharap dapat memperkuat kerja sama antara ILO dan SPN guna meningkatkan pemahaman mitra-mitra SPN mengenai topik ini,” ujar Iwan.

Tanggapan peserta dari kedua kegiatan tersebut sangat positif, di mana para calon pelatih mendapat pujian atas penguasaan materi, kualitas penyampaian dan kemampuan mereka dalam menjawab pertanyaan. Kinerja mereka saat ini sedang dievaluasi oleh Pusat Global ILO dan RIWANI Globe menjelang sertifikasi akhir.

Ke depannya, Pusat Global ILO akan melanjutkan pelatihan sertifikasi bagi para calon lainnya yang memenuhi persyaratan, seraya berupaya memperluas program pelatihan Digitalisasi Upah Bertanggung Jawab ini sebagai sarana untuk mengintegrasikan topik ini ke dalam agenda pengembangan kapasitas pemerintah dan mitra sosial, guna mendukung perluasan penerapan upah digital di berbagai wilayah dan sektor di Indonesia. Tujuannya jelas, yaitu menjadikan upah digital bukan sebagai suatu luar biasa, melainkan sebagai sebuah praktik yang umum.