Berdayakan sekolah luar biasa untuk lindungi siswa dari kekerasan seksual dan HIV/AIDS

ILO mengadakan pelatihan validasi untuk pelatih bagi guru siswa disabilitas untuk mencegah kekerasan seksual dan mempromosikan kesadaran HIV bagi siswa disabilitas, khususnya siswa dengan disabilitas intelektual.

17 Februari 2021

Content also available in: English
Komnas Perempuan mencatat 89 kasus kekerasan yang dialami perempuan dengan disabilitas pada 2019, terdiri dari 64 persen kekerasan seksual, 20 persen kekerasan psikologis, 9 persen kekerasan ekonomi dan 7 persen kekerasan fisik. Kekerasan seksual merupakan kekerasan tertinggi di antara penyandang disabilitas, terutama perempuan dengan disabilitas fisik dan intelektual. Mereka lebih rentan mengalami kekerasan seksual dibandingkan dengan jenis disabilitas lainnya.

Kekerasan seksual di kalangan penyandang disabilitas membuat mereka rentan terhadap HIV/AIDS. Di tingkat provinsi, Center for Improving Qualified Activity in Live of People with Disability (CIQAL), sebuah LSM yang menangani masalah disabilitas, telah mendokumentasikan 102 kasus kekerasan seksual pada perempuan dengan disabilitas di Yogyakarta selama lima tahun terakhir. Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi Yogyakarta mencatat 22 kasus HIV di antara penyandang disabilitas.

Pemerintah Provinsi Yogyakarta telah memasukkan program pemberdayaan disabilitas ke dalam Strategi dan Rencana Aksi 2021-2025. Program ini terfokus pada pendidik sebaya bagi penyandang disabilitas baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah."

Drs. Riswanto, M.Si, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Yogyakarta
Drs. Riswanto, M.Si, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Yogyakarta, menegaskan adanya kebutuhan mendesak untuk segera menindak kasus kekerasan seksual dan HIV di kalangan penyandang disabilitas . “Karenanya, Pemerintah Provinsi Yogyakarta telah memasukkan program pemberdayaan disabilitas ke dalam Strategi dan Rencana Aksi 2021-2025. Program ini terfokus pada pendidik sebaya bagi penyandang disabilitas baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah,” kata Riswanto.

Hingga saat ini terdapat 40 pendidik sebaya yang terlatih. “Program ini akan terus kami kembangkan dan kami pun akan bekerja sama secara luas dengan para pemangku kepentingan mulai dari instansi pemerintah, LSM, komunitas disabilitas dan sebagainya,” ia menambahkan.

Menanggapi komitmen tersebut, ILO telah mengadaptasi modul pelatihan HIV/AIDS bagi penyandang disabilitas. Modul ini terdiri dari topik-topik berikut: Ketahui hak Anda, kesehatan reproduksi dasar, kekerasan dan pelecehan seksual, informasi dasar HIV/AIDS, mitos dan fakta HIV/AIDS, HIV/AIDS dan produktivitas, serta akses ke layanan kekerasan dan HIV/AIDS.

Kenapa kita terfokus kepada guru untuk pelatihan untuk pelatih ini? Karena guru adalah garda terdepan yang dalam kesehariannya bekerja dekat dengan siswa dengan disabilitas, terutama siswa dengan disabilitas intelektual."

Early Dewi Nuriana, Koordinator Program Pencegahan HIV ILO
Adaptasi dilanjutkan dengan pelatihan validasi untuk pelatih bagi guru siswa disabilitas selama tiga hari mulai tanggal 9 hingga 11 Februari. Dihadiri oleh 20 guru dari berbagai SLB, pelatihan untuk pelatih ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV/AIDS dan tindakan pencegahan kekerasan dan pelecehan.

“Kenapa kita terfokus kepada guru untuk pelatihan untuk pelatih ini? Karena guru adalah garda terdepan yang dalam kesehariannya bekerja dekat dengan siswa dengan disabilitas, terutama siswa dengan disabilitas intelektual. Guru memiliki peran penting dalam kehidupan siswa dan mereka dapat memadukan program peningkatan kesadaran dalam sesi belajar-mengajar sehari-hari,” ungkap Early Dewi Nuriana, Koordinator Program Pencegahan HIV ILO.

Topik yang dibahas dalam peningkatan kesadaran meliputi kesehatan reproduksi, kekerasan seksual dan kerentanan HIV di kalangan kaum muda dengan disabilitas. Selain peningkatan kesadaran, guru juga memasukkan sesi tentang keterampilan lunak agar siswa dapat mempelajari apa yang dapat mereka lakukan untuk melindungi diri.

Melalui pelatihan validasi untuk pelatih ini, manual yang sudah diadaptasi akan diintegrasikan dan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah luar biasa di daerah Yogyakarta."

Ir Eddy Wahyudi, M.Pd, Kepala Bagian Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Yogyakarta, Dinas Pemuda dan Olahraga
“Sesi keterampilan lunak ini sama pentingnya dengan sesi informatif. Dengan belajar dan memahami bagaimana menerapkan pengetahuan yang mereka miliki, kami berharap dapat lebih memberdayakan para siswa ini sehingga saat masuk ke dalam komunitas atau dunia kerja sudah mengetahui hak-hak mereka dan dapat melindungi diri dari kekerasan dan pelecehan,” tambah Early.

Berdasarkan tanggapan dan masukan dari para guru yang berpartisipasi, manual yang diadaptasi ini akan disempurnakan dalam hal kurikulum, isi, metodologi, penyampaian pesan serta penggunaan media pendukung yang sesuai bagi penyandang disabilitas intelektual.

“Melalui pelatihan validasi untuk pelatih ini, manual yang sudah diadaptasi akan diintegrasikan dan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah luar biasa di daerah Yogyakarta,” ujar Ir Eddy Wahyudi, M.Pd, Kepala Bagian Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Yogyakarta, Dinas Pemuda dan Olahraga.

Untuk menjangkau semua jenis disabilitas, buku pegangan singkat bagi para siswa direncanakan akan diterbitkan dalam huruf braille.