Kesetaraan gender
Beban pengasuhan masih menghambat kemajuan karier perempuan Indonesia
Tanggung jawab pengasuhan tetap menjadi hambatan utama kemajuan karier perempuan Indonesia di sektor ekspor, temuan survei ILO–IBCWE.
9 Maret 2026
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Tanggung jawab pengasuhan dan keluarga masih menjadi hambatan utama yang menghalangi perempuan untuk maju dalam karier mereka, demikian survei bersama yang dilakukan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE). Temuan ini menyoroti perlunya kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga serta sistem promosi yang transparan untuk mengatasi ketimpangan gender yang masih terjadi.
Survei ini dilakukan ILO melalui proyek Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains), yang didanai oleh Pemerintah Kanada. Inisiatif ini mendukung upaya untuk memastikan bahwa manfaat perdagangan internasional dapat diraih tanpa diskriminasi gender dan pekerja anak, khususnya di sektor-sektor berorientasi ekspor.
Jika perempuan di sektor-sektor ekspor utama seperti alas kaki, kelapa sawit dan produksi baterai litium terhambat oleh ketimpangan beban pengasuhan dan keterbatasan akses karier, ini berdampak langsung pada produktivitas, daya saing dan keberlanjutan rantai pasok global.
Dede Sudono, Koordinator Proyek RealGains ILO di Indonesia
Survei yang dilakukan antara Oktober hingga November 2025 ini menjangkau 493 responden dari berbagai industri dan empat tingkat manajemen: manajemen puncak, senior, menengah dan lini.
Di antara responden manajemen puncak, 42,1 persen mengidentifikasi tanggung jawab pengasuhan sebagai hambatan utama kemajuan karier perempuan. Demikian pula, 47,1 persen responden manajemen senior menyebut beban pengasuhan sebagai hambatan utama, diikuti oleh terbatasnya akses terhadap pendampingan (coaching) dan bimbingan (mentoring).
Pada tingkat manajemen menengah, 52,6 persen responden menempatkan terbatasnya akses terhadap peluang promosi sebagai hambatan paling signifikan, dengan tanggung jawab pengasuhan disebut oleh 40,4 persen responden. Responden manajemen lini mengidentifikasi terbatasnya akses terhadap pendampingan dan bimbingan sebagai tantangan utama (48,3 persen), diikuti oleh terbatasnya peluang promosi (44,4 persen) dan terbatasnya akses terhadap pelatihan (41,7 persen).
Kendati banyak perusahaan melaporkan telah memiliki jalur pengembangan karier, hampir setengah responden (48 persen) menyatakan bahwa jalur tersebut tidak jelas atau tidak dikomunikasikan dengan baik. Selain itu, sepertiga responden (29 persen) melaporkan pernah mengalami diskriminasi di tempat kerja, dengan komentar seksis sebagai bentuk yang paling umum.
Survei ini dilengkapi dengan wawancara mendalam terhadap 48 pekerja — 43 perempuan dan lima laki-laki — dari sektor alas kaki, kelapa sawit dan produksi baterai litium. Mereka mengidentifikasi bias gender, norma budaya yang mengakar, paparan terhadap kekerasan di tempat kerja serta faktor-faktor terkait keluarga sebagai hambatan utama yang membatasi kemajuan karier perempuan.
Responden juga menyoroti sejumlah faktor pendukung pengembangan karier perempuan, termasuk kebijakan perusahaan yang mendukung, komitmen dari pimpinan senior dan atasan, program pendampingan dan women champion serta penguatan peran serikat pekerja.
Kami telah membangun program women champion sebagai bagian dari inisiatif ‘perepmpuan untuk perempuan’, di mana para perempuan yang menjadi panutan memberikan bimbingan dan pendampingan.
Trisia Indrayani, Manajer Pengembangan HRM Pan Brothers
Perwakilan dari PT Pan Brothers Tbk, produsen garmen terbesar di Indonesia dan PT Astra Agro Lestari Tbk, perusahaan kelapa sawit terbesar kedua di Indonesia, memberikan komentar atas temuan tersebut. Keduanya menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan dan keluarga masih menjadi tantangan signifikan bagi pekerja di sektor manufaktur dan kelapa sawit. Selain memperkenalkan kebijakan tempat kerja ramah keluarga, kedua perusahaan juga telah menerapkan inisiatif pemberdayaan dan kepemimpinan perempuan.
“Kami telah membangun program women champion sebagai bagian dari inisiatif ‘perepmpuan untuk perempuan’, di mana para perempuan yang menjadi panutan memberikan bimbingan dan pendampingan, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pelecehan seksual untuk membantu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif,” ujar Trisia Indrayani, Manajer Pengembangan HRM Pan Brothers.
Astra Agro Lestari telah memperkuat regulasi perusahaan yang ramah keluarga dengan memperluas akses terhadap fasilitas penitipan anak gratis serta mendorong pekerja perempuan menjadi agen perubahan dalam mengatasi pelecehan dan kekerasan di tempat kerja. “Kami melihat meningkatnya minat perempuan untuk bekerja di sektor kelapa sawit. Dari 181 mandor, 70 di antaranya adalah perempuan. Kami juga mendorong keterlibatan laki-laki yang lebih besar dalam komite gender kami,” ungkap Susila Darma Wati, Wakil Presiden Bidang Keberlanjutan Astra Agro Lestari.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender di tempat kerja bukan hanya sebuah keharusan sosial, tetapi juga ekonomi,” ujar Dede Sudono, Koordinator Proyek RealGains ILO di Indonesia. “Jika perempuan di sektor-sektor ekspor utama seperti alas kaki, kelapa sawit dan produksi baterai litium terhambat oleh ketimpangan beban pengasuhan dan keterbatasan akses karier, ini berdampak langsung pada produktivitas, daya saing dan keberlanjutan rantai pasok global. Mempromosikan kebijakan ramah keluarga serta tempat kerja yang aman dan inklusif menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa manfaat perdagangan dapat dibagi secara lebih adil.”
Survei bersama ILO–IBCWE menegaskan pentingnya kebijakan tempat kerja yang komprehensif, komitmen kepemimpinan dan budaya organisasi yang inklusif dalam memajukan kesetaraan gender dan mendukung perkembangan karier perempuan.
Kami melihat meningkatnya minat perempuan untuk bekerja di sektor kelapa sawit. Dari 181 mandor, 70 di antaranya adalah perempuan. Kami juga mendorong keterlibatan laki-laki yang lebih besar dalam komite gender kami.
Susila Darma Wati, Wakil Presiden Bidang Keberlanjutan Astra Agro Lestari
Related content
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
Relevant projects
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)