COVID-19: Mempromosikan pengembangan keterampilan
Atasi ketidaksesuaian keterampilan dalam pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia
Webinar ILO menyoroti peluang untuk membahas keterampilan masa depan Indonesia yang dibutuhkan perusahaan di masa depan.
13 Agustus 2020
Kendati sudah ada keterlibatan industri dalam menetapkan standar kompetensi kerja, masih ada ruang untuk perbaikan, demikian dikatakan perwakilan industri, pendidik vokasi dan pakar pengembangan keterampilan dari Indonesia dan Inggris saat webinar, yang diselenggarakan oleh ILO melalui Program Keterampilan untuk Kesejahteraan di Indonesia (SfP-Indonesia).
Para peserta berbagi pandangan umum bahwa, selain memberikan pengetahuan teknis, hasil pembelajaran lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi harus memprioritaskan keterampilan lunak, seperti keterampilan komunikasi, yang dapat meningkatkan kemampuan kerja para lulusan.
Saat digitalisasi, otomatisasi dan robotika mengubah dunia kerja, industri berubah dengan cepat. Banyak peserta percaya bahwa standar kompetensi harus mencerminkan keterampilan masa depan yang dibutuhkan perusahaan di masa depan, dan kursus pembelajaran harus fleksibel dan dapat berkembang.Ambisi proyek ini adalah mengembangkan model berkelanjutan dari pelatihan keterampilan berdasarkan permintaan, yang dapat menjawab kebutuhan industri dan dapat dijadikan tolok ukur terhadap standar kelautan global."
Mary Kent, Kepala Penasihat Teknis SfP-Indonesia
Melibatkan industri untuk meningkatkan transisi dari sekolah ke dunia kerja melalui pembelajaran berbasis kerja, seperti pemagangan, juga dapat membantu mengatasi ketidaksesuaian keterampilan.
Sebagai bagian dari program Keterampilan untuk Kesejahteraan di Asia Tenggara (SfP-SEA) ILO yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas, inklusivitas, efektivitas biaya dan relevansi lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi dan sistem pengembangan keterampilan di kawasan ini, SfP-Indonesia akan bekerja dengan lembaga pemerintah. pendidik, penyelenggara pelatihan, organisasi pengusaha dan serikat pekerja di empat provinsi di Indonesia untuk menangani masalah ini dan masalah lainnya. Program di Indonesia secara khusus akan mendukung pengembangan sektor kelautan, yang terdiri dari berbagai sub-sektor-transportasi laut, operasi dan logistik pelabuhan, pembuatan dan perbaikan kapal serta wisata bahari.
“Ambisi proyek ini adalah mengembangkan model berkelanjutan dari pelatihan keterampilan berdasarkan permintaan, yang dapat menjawab kebutuhan industri dan dapat dijadikan tolok ukur terhadap standar kelautan global,” kata Mary Kent, Kepala Penasihat Teknis SfP-Indonesia.Penyedia program pendidikan tinggi dan pengusaha dari para lulusan perlu bekerja sama secara erat guna memastikan bahwa siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan pengusaha dalam membangun bisnis yang produktif dan inovatif."
Stephen Marston, Wakil Rektor Universitas Gloucestershire
“Sektor kelautan Indonesia memiliki potensi pertumbuhan global yang sangat besar, namun pertumbuhan ini akan bertumpu pada pertumbuhan tenaga kerja terampil dan produktif,” tambahnya.
Program ini akan bekerja sama dengan empat politeknik yang berbeda — Politeknik Negeri Manado, Politeknik Negeri Batam, Politeknik Negeri Maritim Indonesia dan Politeknik Perkapalan Surabaya.
“Mengingat dampak pandemi virus corona pada kehidupan, pekerjaan dan komunitas masyarakat, sangatlah penting untuk mendapatkan dukungan keterampilan dan kualifikasi yang diperlukan guna membangun kembali ekonomi dan masyarakat kita, dan untuk mendorong pembangunan ekonomi, sosial serta budaya,” ujar Stephen Marston, Wakil Rektor Universitas Gloucestershire, yang berbagi pengalaman serupa dari Inggris di webinar tersebut.
“Penyedia program pendidikan tinggi dan pengusaha dari para lulusan perlu bekerja sama secara erat guna memastikan bahwa siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan pengusaha dalam membangun bisnis yang produktif dan inovatif. Program Keterampilan untuk Kesejahteraan ini memberi kami sarana yang hebat untuk berbagi pengalaman dan ide tentang cara terbaik dalam mencapai tujuan penting ini,” tambah Marston.
Banyak peserta juga menyatakan bahwa tidak ada solusi terbaik untuk meningkatkan lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi dan sistem pengembangan keterampilan. Ismet P. Ilyas, Ketua Umum Asosiasi Politeknik & Industri Indonesia (APII), mengatakan pihaknya telah mengembangkan dan mempromosikan beberapa metode Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Industri (IBET), seperti program pemagangan.
Didanai oleh pemerintah Inggris, SfP-SEA dan SfP-Indonesia juga akan berupaya memperluas akses ke TVET, pasar kerja dan peluang kewirausahaan bagi perempuan dan populasi rentan.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:
Surasak GlahanStaf Manajemen Komunikasi dan Informasi
Keterampilan untuk Kesejahteraan dalam Program Asia Tenggara (SfP-SEA)
[email protected]