Pengembangan keterampilan

Wirausaha desa mengembangkan bisnis dengan strategi pemasaran baru

Program kerja sama ILO-Pemerintah Inggris memberikan dukungan pasca pelatihan untuk meningkatkan potensi bisnis para wirausaha dari desa wisata pesisir Indonesia.

15 Juni 2022

Content also available in: English
Para pengunjung berinteraksi dengan penduduk desa saat acara pencocokan bisnis dan pameran. ©Universitas Klabat Melakukan survei pelanggan dan memastikan brosur produk informatif dan menarik adalah beberapa praktik dasar yang digunakan oleh bisnis untuk meningkatkan potensi mereka.

Namun, bagi pengusaha dari empat desa pesisir di provinsi Sulawesi Utara - Marinsow, Pulisan, Tiwoho dan Budo - strategi seperti itu tidak mereka pahami hingga akhir April, ketika mereka berpartisipasi di acara pencocokan bisnis dan pameran yang diselenggarakan sebagai bagian dari the ILO-UK Skills for Prosperity Programme di Indonesia (SfP-Indonesia).

“Saya menjalankan usaha kecil-kecilan yang menjual pakaian dan barang-barang lainnya di pantai selama liburan dan saya tidak tahu bagaimana melakukan survei pasar,” kata salah satu peserta.

“Tetapi [setelah mengikuti acara tersebut] saya jadi tahu bahwa kita bisa meminta nomor kontak pelanggan dan meminta pendapat serta saran mereka tentang produk kami. Sekarang saya ingin melakukan survei untuk mengetahui persis apa yang diinginkan pelanggan,” tambahnya.

Acara ini menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan penting untuk merangsang berbagai inisiatif untuk meningkatkan mata pencarian masyarakat lokal, khususnya di wilayah pesisir, dan pariwisata merupakan sektor strategis yang dapat mendukung berbagai bisnis, khususnya usaha mikro dan kecil."

Mary Kent, Kepala Penasihat Teknis ILO-Sfp Indonesia
Lebih dari 200 orang mengikuti acara yang diadakan pada 28 April 2022 oleh Universitas Klabat yang yang didukung oleh program ILO-SfP Indonesia. Mereka antara lain masyarakat desa, pelajar, investor, pemodal dan perwakilan dari Asosiasi Wisata dan Perjalanan (ASITA), Asosiasi Desa Wisata (ASIDEWI), Asosiasi Operator Wisata (ASTINDO) dan Asosiasi Pemandu Wisata Indonesia (HPI).

Acara ini dirancang untuk membantu komunitas lokal menyadari potensi bisnis mereka, memahami rantai pasokan dan mengeksplorasi beragam perspektif terkait presentasi produk dan bisnis mereka.

Peserta yang merupakan penduduk dari empat desa mengatakan acara ini membantu mereka memposisikan produk mereka dengan kompetitor dan menangkap peluang pasar di daerah mereka, yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan wisata. Acara ini juga membantu mereka memahami rantai nilai bisnis lokal, mulai dari bahan mentah hingga saluran distribusi, memungkinkan mereka memahami seluruh rantai produksi dan pemasaran yang melibatkan bisnis mereka.

Keempat desa tersebut menjadi sasaran percontohan area kerja sama ILO-SfP Indonesia dengan dua institusi pendidikan lokal, Universitas Klabat dan Politeknik Negeri Manado.

Acara ini mengikuti rangkaian pelatihan sebelumnya yang diberikan oleh mahasiswa dan dosen di kedua lembaga tersebut kepada desa tentang pendidikan keuangan, manajemen perusahaan desa dan bisnis ramah lingkungan dan pengembangan produk.

Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Budo, Hanny Loren Singa, mengatakan: “Acara ini membantu kami melihat dan belajar dari produk desa lain. Misalnya, kami belajar bagaimana Desa Tiwoho mendaur ulang sampah plastik dengan mengubahnya menjadi produk yang bernilai”.

Pada acara tersebut, warga desa mendirikan gerai pameran untuk menampilkan berbagai produk seperti kerajinan tangan, produk kuliner, rumah penginapan (homestay), paket wisata, produk makanan dan minuman olahan serta pakaian. Selain itu, pameran ini menampilkan panel diskusi dengan Clair Greenaway, pakar pariwisata dari University of Gloucestershire Inggris; Amrosius Montolalu, seorang pengusaha sukses; Deisy Josep dari Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Kabupaten Minahasa Utara; dan Vocky Poli dari Bank Mandiri.

Diskusi interaktif ini memungkinkan penduduk desa untuk belajar dari sektor swasta, akademisi dan pemerintah. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka sekarang menyadari mampu membuat brosur produk secara lebih informatif dan menarik, misalnya, dengan menambahkan nomor kontak dan gambar produk mereka.

“Mereka punya banyak ide untuk membantu kami meningkatkan bisnis pariwisata kami,” kata seorang peserta.

“Setelah acara, kami mendapat pelatihan selama tiga hari tentang pengembangan paket wisata dari ASITA, yang membantu kami memasarkan rumah penginapan ini dan bisnis lainnya dengan lebih baik. Kami berharap ASITA dapat membantu mendatangkan lebih banyak wisatawan ke desa kami”, tambahnya.

Diana Pangouw, perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu model pengembangan yang inovatif.

“Ini adalah pendekatan yang melibatkan akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media untuk menciptakan ekosistem berbasis kreativitas dan pengetahuan di bidang pariwisata di Kabupaten Minahasa Utara,” ujarnya.

Mary Kent, Kepala Penasihat Teknis ILO-Sfp Indonesia, menegaskan: “Acara ini menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan penting untuk merangsang berbagai inisiatif untuk meningkatkan mata pencarian masyarakat lokal, khususnya di wilayah pesisir, dan pariwisata merupakan sektor strategis yang dapat mendukung berbagai bisnis, khususnya usaha mikro dan kecil”.