Terampil dan sukses lewat pemagangan
Ini adalah kisah empat orang peserta pemagangan yang kini telah menjadi lebih terampil dan kompeten, serta berhasil meniti karier dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
12 April 2023
Langit pagi masih temaram saat Akhmad Riyadi, 28 tahun, bersiap untuk berangkat bekerja. Sebagai staf purchasing PT Panasonic Manufacturing Indonesia— perusahaan manufaktur elektronik ternama di Indonesia, ia terbiasa untuk berangkat pagi-pagi dari kediaman miliknya agar tiba tepat waktu.
Sepuluh tahun lalu, saat baru saja lulus dari sekolah menengah kejuruan di salah satu desa di wilayah Indramayu, Jawa Barat, ia mendengar adanya program pemagangan dan, tanpa ragu, ia mengambil kesempatan itu dan mendaftarkan diri.Sebelum saya ikut program pemagangan, kondisi perekonomian keluarga saya sulit. Tapi setelah program pemagangan ini, saya dapat membantu orang tua dan menafkahi istri dan anak dengan lebih baik."
Akhmad Riyadi, Staf Purchasing PT Panasonic Manufacturing Indonesia
“Waktu itu, Panasonic mencari peserta pemagangan sampai ke kota-kota kecil di seluruh Indonesia, termasuk kota saya. Saya langsung ikut daftar karena ingin mencoba hal baru dan juga ingin meningkatkan keterampilan, kemampuan, kompetensi dan masa depan yang lebih baik,” kisahnya.
Tidak sia-sia, ketekunannya menjadikan Akhmad salah seorang pemagang yang mengikuti program pemagangan lanjutan ke Jepang selama dua tahun. Kini ia telah diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan sebagai staf purchasing.
Keinginan menggapai masa depan yang lebih baik juga mendorong Anastafia Putri, 27 tahun, meninggalkan kota kelahirannya di Gorontalo, Sulawesi Utara. Saat mendengar informasi pemagangan di PT Panasonic Manufacturing Indonesia dari dinas ketenagakerjaan setempat, ia memilih merantau ke Jakarta.
“Saat saya datang dari Gorontalo tahun 2017, sifat saya masih kekanak-kanakan dan belum bisa mandiri karena tidak pernah berpisah dengan orang tua. Namun sekarang saya sudah belajar untuk mandiri dan mengurus diri sendiri,” ujar Anastafia tersenyum.Saya senang dapat lebih mengembangkan apa yang sudah ada pada diri saya, mulai dari keterampilan teknis ataupun keterampilan bersosialisasi. Banyak hal yang saya dapatkan, terutama tentang pajak."
Anastafia Putri, Staf Bagian Keuangan Divisi Pajak, PT Panasonic Manufacturing Indonesia
Melihat kinerja dan latar belakang pendidikannya sebagai sarjana akutansi, ia pun ditempatkan di bagian keuangan sejak 2018 dan setahun kemudian diangkat sebagai pegawai tetap di bagian divisi pajak.
“Saya senang dapat lebih mengembangkan apa yang sudah ada pada diri saya, mulai dari keterampilan teknis ataupun keterampilan bersosialisasi. Banyak hal yang saya dapatkan, terutama tentang pajak,” tambahnya.
Kisah yang sama juga dirasakan Elegia Pertiwi, 25 tahun. Berbekal ijazah sekolah kejuruan akutansi dari Garut, Jawa Barat, Elegia berupaya meningkatkan keterampilan dengan merantau mengikuti program pemagangan di Abuba Steak, rantai restoran ikonik di Indonesia selama tiga dasawarsa, pada 2018. Setelah bekerja selama dua tahun di restoran, Elegia mencoba mengikuti tes untuk menjadi staf personalia.
“Saat proses seleksi, ada empat pekerja lain yang mengikut tes dan bahkan ada pekerja yang jauh lebih berpengalaman dan tingkatnya jauh lebih tinggi. Saya kaget saat saya terpilih. Selama pemagangan, saya memang belajar pola kinerja dan data administrasi restoran sehingga saat saya pindah ke SDM saya sudah paham bagaimana pola administrasi dan pengelolaan pekerja di restoran,” ungkap Elegia.Selama pemagangan, saya memang belajar pola kinerja dan data administrasi restoran sehingga saat saya pindah ke SDM saya sudah paham bagaimana pola administrasi dan pengelolaan pekerja di restoran."
Elegia Pertiwi, Staf SDM Abuba Steak
Sebagai staf personalia, Elegia kini telah diangkat menjadi pekerja tetap pada 2020 dan bertanggung jawab mengurus berbagai pekerjaan administrasi pegawai dari data absensi, penggajian hingga jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan.
Program pemagangan pun membuat Putri Nabila, 22 tahun, menjadi seorang Manajer Toko di PT Kopi Kenangan, salah satu rantai usaha kedai kopi dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Tertarik untuk mendapat keterampilan dan pengalaman baru, lulusan sekolah menengah kejuruan ini tanpa ragu mendaftarkan diri mengikuti program pemagangan pada 2019.
“Setelah lulus pemagangan, saya ikut tes buddy trainer di Kopi Kenangan. Saya berhasil dan dinyatakan lulus. Setahun kemudian pada 2020, saya ikut tes lagi untuk menjadi penyelia dan pada Oktober 2021, saya ikut tes sebagai manajer toko dan dinyatakan lulus. Kini saya memegang toko sendiri,” ujar Putri.
Namun keberhasilan Akhmad, Anastafia, Elegia dan Putri bukanlah tanpa tantangan. Putri misalnya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kopi serta berbagai jenis dan karakteristiknya, sementara Anastafia merasa kaget saat harus masuk ke bagian perakitan kipas angin.
“Saya sempat bingung karena tidak punya pengalaman bekerja, apalagi saat itu saya juga baru pertama kali keluar dari kota kelahiran saya,” ungkap Elegia.Saya mendorong para pemagang muda lainnya untuk selalu bersemangat."
Putri Nabila, Manajer Toko PT Kopi Kenangan
Namun tantangan-tantangan tersebut membuat mereka semakin bertekad untuk melangkah maju. Tidak hanya terus berupaya meningkatkan diri seperti Elegia yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di bidang manajemen, bahkan mendorong para pemagang muda lainnya untuk selalu bersemangat seperti yang dilakukan Putri dengan memotivasi para peserta pemagangan untuk selalu bersemangat dalam mengembangkan keterampilan mereka.
Selain pengembangan karier, program pemagangan ini pun meningkatkan perekonomian dan kehidupan keluarga mereka seperti yang dirasakan Akhmad. “Sebelum saya ikut program pemagangan, kondisi perekonomian keluarga saya sulit. Tapi setelah program pemagangan ini, saya dapat membantu orang tua dan menafkahi istri dan anak dengan lebih baik.”
Senada, Putri mengatakan kini ibunya tidak perlu lagi bekerja dan Anastafia dapat membantu menyekolahkan kedua adiknya. Sementara Elegia dapat melanjutkan pendidikan ke universitas dengan biaya sendiri.
“Penting bagi kaum muda untuk mendapatkan kesempatan dan pengalaman bekerja secara langsung untuk memastikan transisi yang mulus dari dunia sekolah ke dunia kerja. Pengalaman bekerja secara langsung ini di antaranya melalui praktik kerja maupun pemagangan industri yang memastikan pelatihan vokasi dilakukan di industri dengan kompetensi yang selaras dengan standar nasional dan kebutuhan perusahaan,” ujar Tauvik Muhamad, Koordinator ILO untuk Pengembangan Keterampilan.Penting bagi kaum muda untuk mendapatkan kesempatan dan pengalaman bekerja secara langsung untuk memastikan transisi yang mulus dari dunia sekolah ke dunia kerja."
Tauvik Muhamad, Koordinator ILO untuk Pengembangan Keterampilan
Elegia mengajak kaum muda mengikuti program pemagangan demi pengembangan diri yang lebih baik. Sementara Putri mengajak kaum muda mengikuti jejaknya agar lebih terampil dan berpengetahuan untuk masa depan yang lebih menjanjikan. “Ayo ikut program pemagangan. Kamu akan menjadi lebih terampil dan kompeten dengan masa depan yang lebih baik didepanmu,” pungkas Akhmad.
Related content
Diluncurkan, tiga film pendek tentang manfaat program pemagangan bagi bisnis dan kaum muda