Dampak kami, suara mereka
Seorang pelajar Indonesia memperingatkan komunitasnya tentang risiko kerja paksa di laut
Pelatihan komunikasi program 8.7 Accelerator Lab ILO telah menginspirasi seorang mahasiswa komunikasi berusia 20 tahun untuk mengampanyekan hak-hak kerja awak kapal perikanan di komunitas perikanan untuk mematahkan mitos lama tentang bekerja di laut.
28 Juni 2023
“Menjadi awak kapal perikanan adalah profesi utama di desa saya. Ayah tiri saya adalah mantan awak kapal perikanan seperti kebanyakan orang di lingkungan saya. Anak muda laki-laki terbiasa memilih bekerja di laut daripada sekolah,” cerita Annisa. “Juga biasa terjadi teman-teman saya tiba-tiba menghilang, dan kami kemudian mendengar mereka telah pergi bekerja di laut.”
Persyaratan yang mudah dan tidak memerlukan keterampilan, menurut Annisa, telah memikat pemuda di desanya untuk menjadi awak kapal perikanan. “Iming-iming penghasilan tinggi juga membuat mereka mudah tergiur untuk menjadi awak kapal perikanan migran tanpa memahami hak-hak kerja atau kehidupan nyata yang sulit di laut,” tambahnya.Tidak ada lagi mitos dan hanya fakta. Saya berharap masyarakat menjadi lebih sadar akan hak-hak mereka dan pentingnya awak kapal perikanan memahami hak-hak kerja."
Annisa Zulfalia Az Zahra, mahasiswa komunikasi berusia 20 tahun dari Universitas Diponegoro (Undip)
Dia kerap menyaksikan tetangganya kembali dengan cedera, gangguan mental atau bahkan tidak pernah kembali. “Penduduk desa tidak pernah benar-benar menganggap serius masalah ini. Saya ingat ketika ibu saya memberi tahu bahwa ini karena roh jahat laut atau sawan laut. Dia bilang,’Biarkan saja. Mereka yang berhasil kembali akan sembuh seiring berjalannya waktu dan tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap mereka yang nyawanya terenggut oleh laut’,” kata Annisa, mengutip ibunya.
Alhasil, para keluarga awak kapal perikanan hanya bisa pasrah menerima kejadian tersebut sebagai takdir mereka. Tak satu pun dari keluarga tersebut yang pernah mempertanyakan pihak berwenang, perusahaan atau agen perekrutan tentang apa yang terjadi pada anggota keluarga mereka. Dia mengenang: "Sayangnya, kami hanya menganggap kemalangan ini sebagai hal yang biasa."
Mematahkan mitos lama
Keyakinan dan pola pikir Annisa berubah ketika dia mengikuti serangkaian pelatihan komunikasi yang diadakan oleh 8.7 Accelerator Lab Multi Partner Fund ILO terkait risiko kerja paksa yang dihadapi para awak kapal perikanan di laut. Dia merupakan salah seorang dari 45 mahasiswa komunikasi dari tiga universitas terpilih yang terletak di daerah pesisir. Selain universitasnya, dua universitas lain yang ikut berpartisipasi adalah Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang di Jawa Timur dan Universitas Islam Bandung (Unisba) di Jawa Barat.Difasilitasi oleh dua jurnalis senior dari dua media terkemuka Indonesia—Mongabay-Indonesia dan Tempo Media Group, para siswa melakukan latihan praktik dengan mewawancarai awak kapal perikanan dan melakukan kunjungan lapangan ke pelabuhan perikanan, agen perekrutan dan otoritas lokal di Jawa Tengah.Saya tercengang dan mulai bertanya-tanya bagaimana jika kejadian malang yang sering saya saksikan di kampung halaman saya adalah karena kondisi kerja paksa yang dialami di laut. Mitos tentang roh jahat laut membuat masyarakat menerima kondisi ini sebagai takdir dan akibatnya tidak ada yang bertanggung jawab untuk mengatasi bencana ini."
“Ketika saya mengetahui tentang nasib para awak kapal perikanan selama sesi wawancara dan tentang mekanisme rekrutmen selama kunjungan ke agen perekrutan, saya menjadi sangat ingin tahu tentang kondisi kerja dan kehidupan para awak kapal perikanan di laut,” katanya.
Selama program pelatihan, dia menghubungi ayah tirinya untuk memastikan apa yang telah dia pelajari dan dengar. Dia mengirim obrolan panjang, menegaskan kembali fakta yang baru dia pelajari. Balasan yang dia terima untuk pertanyaannya: "Ya, itu benar" atau "Ya, itulah yang terjadi."
“Saya tercengang dan mulai bertanya-tanya bagaimana jika kejadian malang yang sering saya saksikan di kampung halaman saya adalah karena kondisi kerja paksa yang dialami di laut. Mitos tentang roh jahat laut membuat masyarakat menerima kondisi ini sebagai takdir dan akibatnya tidak ada yang bertanggung jawab untuk mengatasi bencana ini,” katanya.
Annisa pun sempat berbincang dengan ayah tirinya yang berkisah untuk pertama kalinya bahwa setelah berlayar dari Pelabuhan Benoa, Bali ke Papua Barat selama enam bulan, ia memutuskan untuk beralih profesi. Dia tidak tahan dengan jam kerja yang panjang, kondisi kerja yang berat dan terpisah dari keluarganya. Selain itu, awak kapal perikanan yang hilang di laut menjadi hal biasa dan agen perekrutan tanpa izin juga merupakan hal biasa.
Semakin dia belajar tentang indikator kerja paksa dan hak-hak kerja awak kapal perikanan, semakin dia bertekad untuk meningkatkan kesadaran tentang kerja paksa di laut dan menghapus mitos tersebut. Sebagai mahasiswa jurnalistik yang bercita-cita menjadi reporter atau presenter TV, ia menyebarkan informasi melalui artikel dan pesan media sosial tentang nasib nelayan Indonesia.
Mengampanyekan hak kerja awak kapal perikanan
Artikel investigasi mendalam yang ia tulis bersama empat teman sekelas jurnalistik tentang perjalanan panjang awak kapal perikanan Indonesia memperjuangkan hak-hak kerja, misalnya, telah diterbitkan di Mongabay-Indonesia, sebuah portal berita tentang lingkungan Indonesia, pada Agustus 2022. Artikel tersebut menyoroti perjuangan para nelayan, risiko yang mereka hadapi, termasuk risiko kerja paksa, kebijakan yang tumpang tindih dan harapan untuk kondisi kerja yang lebih baik.Setiap kali dia kembali ke kampung halaman selama liburan sekolah, dia berbagi ilmu dengan masyarakat sekitar. Dia juga menjaga hubungan baik dengan para awak kapal perikanan dan asosiasi mereka yang dia temui selama pelatihan dan mengunggah pesan di akun media sosialnya.
Dia juga ingin meningkatkan kesadaran tentang hak-hak keluarga awak kapal perikanan untuk mendapatkan penjelasan yang transparan dan kompensasi yang layak. “Tidak ada lagi mitos dan hanya fakta. Saya berharap masyarakat menjadi lebih sadar akan hak-hak mereka dan pentingnya nelayan memahami hak-hak kerja,” pungkasnya.Melalui program pelatihan komunikasi, kami akan memiliki sekumpulan talenta dengan pemahaman yang baik mengenai isu ini. Para siswa ini adalah penulis, presenter berita, advokat dan pemimpin organisasi media masa depan. Karenanya kami berharap mereka dapat mengadvokasi perubahan melalui pekerjaan mereka dan terus mendorong isu penting ini."
Muhamad Nour, Koordinator Nasional Program 8.7 Accelerator Lab ILO di Indonesia
Muhamad Nour, Koordinator Nasional Program 8.7 Accelerator Lab ILO di Indonesia, menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dan universitas, terutama dari fakultas komunikasi, merupakan bagian dari strategi program untuk meningkatkan kesadaran tentang penghapusan kerja paksa di laut dan perlindungan hak kerja para awak kapal perikanan.
“Melalui program pelatihan komunikasi, kami akan memiliki sekumpulan talenta dengan pemahaman yang baik mengenai isu ini. Para siswa ini adalah penulis, presenter berita, advokat dan pemimpin organisasi media masa depan. Karenanya kami berharap mereka dapat mengadvokasi perubahan melalui pekerjaan mereka dan terus mendorong isu penting ini,” ujarnya.
8.7 Accelerator Lab adalah inisiatif dari Cabang Prinsip-prinsip dan Hak-hak Mendasar di Tempat Kerja (FUNDAMENTALS) ILO. Program ini dirancang untuk mempercepat kemajuan menuju pemberantasan kerja paksa dan penghapusan pekerja anak dengan mengoptimalkan efektivitas intervensi kerja sama pembangunan dengan merangkul enam faktor percepatan yang menjadi program inti.