Kepemimpinan perempuan
Sehari bersama ILO, inspirasi seumur hidup bagi seorang perempuan muda Indonesia
Dalam satu hari yang tak terlupakan, seorang perempuan muda Indonesia berkesempatan merasakan langsung keseharian seorang Direktur ILO, sekaligus belajar tentang kepemimpinan, keadilan sosial dan kekuatan perempuan dalam membawa perubahan.
10 Agustus 2026
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Pagi itu, waktu belum menunjukkan pukul 09.00 ketika Cut Afra, mahasiswi magister Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia berusia 25 tahun, tiba di Kantor ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste di Menara Thamrin, Jakarta. Mengenakan blus batik, blazer putih gading, dan celana panjang hitam, Cut tampak percaya diri sekaligus bersemangat saat melangkah masuk untuk memulai apa yang ia sebut sebagai salah satu hari terpenting dalam hidupnya.
“Pagi tadi, ketika bangun, saya sampai berkali-kali mencubit diri sendiri,” ujarnya sambil tersenyum. “Rasanya tidak percaya hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sudah lama sekali saya menantikan hari ini dan tidak pernah membayangkan akan mendapat kesempatan seperti ini.”
Cut terpilih mengikuti “CEO for a Day: Women Shaping Tomorrow”, sebuah program pendampingan bagi anak muda yang mempertemukan perempuan muda Indonesia dengan para CEO perempuan, pemimpin bisnis dan pimpinan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Diselenggarakan bersama oleh PBB di Indonesia, AmCham Indonesia Women Network dan Indonesia Global Compact Network (IGCN), program ini bertujuan menginspirasi lahirnya generasi penerus pemimpin perempuan. Pada 30 Juli, Cut berkesempatan mengikuti keseharian Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, selama satu hari.
Cut pertama kali mengetahui program tersebut melalui situs PBB Indonesia. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mendaftarkan diri dan mengirimkan video singkat yang memperkenalkan diri, minat serta impiannya di masa depan. Dalam video tersebut, ia berbicara tentang pentingnya pendidikan dan kesetaraan gender, sekaligus menceritakan pengalamannya menjadi relawan untuk membantu masyarakat terdampak banjir besar yang baru-baru ini terjadi di kampung halamannya, Aceh.
Saya tidak pernah membayangkan bisa mendapat kesempatan menjadi bagian dari ILO, meski hanya untuk satu hari.
Bagi Cut, menjadi seorang pemimpin sudah lama menjadi impian. Sebagai satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara, ia tumbuh dengan menyaksikan perjalanan karier sang ibu di dunia perbankan, mulai dari teller hingga menduduki posisi Kepala Regional untuk Sumatera bagian utara. Perjalanan ibunya membuat Cut percaya bahwa perempuan mampu memimpin dan membawa perubahan.
Sejak remaja, Cut pun aktif mengambil berbagai peran kepemimpinan. Ia pernah menjadi ketua pramuka saat duduk di bangku SMP, ketua OSIS ketika SMA, hingga kemudian menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa di Universitas Telkom, Bandung.
Dari lebih dari 100 pendaftar, Cut terpilih untuk mengikuti program tersebut. “Saya senang sekali ketika tahu saya terpilih,” kenangnya. “Saya tidak pernah membayangkan bisa mendapat kesempatan menjadi bagian dari ILO, meski hanya untuk satu hari.”
Kesempatan sekali seumur hidup
Hari Cut dimulai dengan pertemuan empat mata bersama Simrin Singh. Kesempatan ini memberinya ruang untuk belajar langsung dari salah satu pemimpin perempuan di lingkungan PBB. Setelah itu, Cut mengikuti sejumlah pertemuan yang membahas beragam isu, mulai dari perlindungan sosial bagi pekerja platform setelah diadopsinya Konvensi ILO No. 193 tentang Pekerjaan Layak dalam Ekonomi Platform, standar ketenagakerjaan internasional, hingga proyek ILO yang mendukung akses pembiayaan dan digitalisasi bagi usaha kecil.
Bagi Cut, setiap pertemuan membuka perspektif baru. “Saya belajar banyak tentang perlindungan sosial dan berbagai tantangan yang dihadapi pekerja platform,” ungkapnya. “Saya juga semakin memahami tripartisme, dialog sosial dan bagaimana semua itu dapat membantu menciptakan solusi yang bermanfaat bagi semua pihak.”
Bertemu dengan beliau [Simrin] membuat saya sadar bahwa menjadi pemimpin yang kuat bukan hanya soal mengambil keputusan, tetapi juga tentang peduli kepada orang-orang yang bekerja bersama kita.
Saat makan siang, Cut kembali mendapat kesempatan berbincang dengan Simrin dan rekan-rekan ILO dalam suasana yang lebih santai. Mereka berbicara tentang migrasi tenaga kerja, kesetaraan gender, pekerja anak, inklusi keuangan serta berbagai proyek yang dijalankan ILO di Indonesia.
Hari itu ditutup di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, tempat Cut mendampingi Simrin menghadiri acara penutupan Model United Nations (MUN). Mendengarkan Simrin berbicara tentang kekuatan generasi muda dalam membentuk masa depan yang lebih baik meninggalkan kesan mendalam bagi Cut.
Mengubah inspirasi menjadi aksi
Namun, bagi Cut, pelajaran paling berharga hari itu bukan hanya tentang bagaimana Simrin memimpin, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekelilingnya.
“Hal yang paling membuat saya terkesan adalah bagaimana beliau sangat menghargai timnya,” ujar Cut. “Beliau membuat setiap orang merasa dihargai dan menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung. Melihat itu benar-benar menginspirasi saya.”
Cut juga mengagumi gaya kepemimpinan Simrin. “Beliau percaya diri dan profesional, tetapi juga ramah dan mudah diajak berdiskusi,” katanya. “Bertemu dengan beliau membuat saya sadar bahwa menjadi pemimpin yang kuat bukan hanya soal mengambil keputusan, tetapi juga tentang peduli kepada orang-orang yang bekerja bersama kita.”
Lalu, apa yang ingin dilakukan Cut setelah pengalaman ini? “Saya ingin melihat lebih banyak daerah di Indonesia dan memahami bagaimana masyarakat hidup di berbagai komunitas,” ujarnya. “Semakin banyak saya belajar tentang kondisi dan kehidupan mereka, semakin besar pula peluang bagi saya untuk berkontribusi dan menghadirkan solusi yang benar-benar bermanfaat.”
Di luar kesibukan akademis dan kepemimpinannya, Cut menikmati waktu santai dengan bermain musik. Memainkan gitar atau piano memberinya kesempatan untuk beristirahat sejenak, berefleksi dan mengisi kembali energi.
Bagi Cut, CEO for a Day bukan hanya tentang melihat langsung keseharian seorang pemimpin. Lebih dari itu, pengalaman tersebut memberinya perspektif baru tentang arti kepemimpinan sekaligus keberanian untuk terus mengejar impiannya. Ia pun semakin yakin bahwa perempuan muda memiliki kemampuan untuk memimpin dan menghadirkan perubahan bagi masyarakat.
Saya ingin melihat lebih banyak daerah di Indonesia dan memahami bagaimana masyarakat hidup di berbagai komunitas. Semakin banyak saya belajar tentang kondisi dan kehidupan mereka, semakin besar pula peluang bagi saya untuk berkontribusi dan menghadirkan solusi yang benar-benar bermanfaat.