Four people standing

Hari Kartini

Refleksi anak muda Indonesia tentang ibu bekerja

Anak muda Indonesia berbagi bagaimana sosok ibu bekerja membentuk hidup, ambisi dan pandangan mereka tentang kesetaraan.

21 April 2026

Indonesian youth. 4/2026 © Ariel Prananda/ILO
Content also available in: English

JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Dalam memperingati Hari Kartini, ILO berbincang dengan sejumlah anak muda untuk mendengar refleksi mereka tentang sosok ibu bekerja. Meski telah banyak kemajuan, masih banyak perempuan yang menghadapi keraguan dan perasaan bersalah ketika berusaha menyeimbangkan ambisi profesional dengan tanggung jawab keluarga. Perbincangan ini merupakan bagian dari Proyek Mewujudkan Manfaat Perdagangan Tanpa Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains) ILO dengan dukungan Pemerintah Kanada, yang mendorong kesetaraan hak dan pembagian tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki.

Ibu bekerja bukanlah sesuatu yang perlu dibenarkan, melainkan dirayakan.

Dede Sudono, Koordinator Proyek ILO RealGains

Survei terbaru RealGains, yang dilakukan bersama Koalisi Bisnis Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan (IBCWE), menunjukkan bahwa tanggung jawab pengasuhan dan keluarga masih menjadi hambatan utama bagi perempuan untuk berkembang dalam karier. Temuan ini menegaskan perlunya kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga serta sistem promosi yang lebih transparan untuk menutup kesenjangan gender yang masih ada.

“Dengan mendengarkan suara kaum muda dan melihat bagaimana mereka dengan bangga berbicara tentang ibu mereka, kita diingatkan bahwa tidak ada ruang bagi rasa bersalah dalam partisipasi perempuan di dunia kerja. Yang dilihat anak-anak adalah kekuatan dan inspirasi. Ibu bekerja bukanlah sesuatu yang perlu dibenarkan, melainkan dirayakan,” ujar Dede Sudono, Koordinator Proyek ILO RealGains.

Kenisha Muthia Andjani: Tumbuh dengan teladan

A woman standing
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Kenisha Muthia Andjani, a 19-year-old university student in Indonesia. 4/2026

Di usia 19 tahun, Kenisha Muthia Andjani—akrab disapa Kenny—tidak perlu jauh mencari sumber inspirasi. Ia menemukannya di rumah, dari sosok ibunya yang bekerja sebagai Asisten Eksekutif Direktur di sebuah lembaga internasional. Kenny mengagumi bagaimana ibunya mampu menyeimbangkan tuntutan karier dengan tetap hadir bagi keluarga, dan ia berharap dapat mengikuti jejak yang sama.

Ibu bekerja itu inspiratif. Ibu saya adalah inspirasi terbesar saya. Ia mengajarkan saya untuk mandiri

Meski memiliki jadwal yang padat, menurut Kenny, sang ibu selalu meluangkan waktu untuk ketiga anaknya. “Setiap malam, beliau menanyakan kami ingin sarapan apa. Terkadang beliau juga mengajak kami dalam perjalanan dinas dan memastikan kami menghabiskan waktu bersama di akhir pekan,” ungkap Kenny, yang kini menempuh studi global dan kewirausahaan sosial.

Bagi Kenny, momen-momen kecil namun penuh makna itu meninggalkan kesan mendalam. “Ibu bekerja itu inspiratif. Ibu saya adalah inspirasi terbesar saya. Ia mengajarkan saya untuk mandiri,” katanya. “Saya ingin seperti ibu di masa depan, membangun karier di lembaga internasional.”

Raditya Abbydharma: Ketika kesetaraan terasa alami

A man standing
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Raditya Abbydharma, a 21-year-old university student in Indonesia. 4/2026

Bagi Raditya Abbydharma, mahasiswa berusia 21 tahun, memiliki ibu yang bekerja adalah hal yang sepenuhnya wajar. Ibunya berprofesi sebagai staf program di sebuah lembaga internasional dan ia melihat kenyataan serupa dalam kehidupan banyak temannya—ibu mereka bekerja di kantor atau menjalankan usaha sendiri.

Perempuan memiliki hak untuk mengejar karier yang mereka pilih. Ibu saya memiliki aktivitas di luar rumah, sama seperti saya yang juga memiliki aktivitas di kampus dan bersama teman.

Baginya, hal ini mencerminkan pentingnya kesempatan yang setara. “Perempuan memiliki hak untuk mengejar karier yang mereka pilih,” ungkapnya. “Ibu saya memiliki aktivitas di luar rumah, sama seperti saya yang juga memiliki aktivitas di kampus dan bersama teman.”

Keyakinan tersebut turut membentuk pandangannya tentang masa depan. “Hal yang sama berlaku untuk pasangan saya kelak. Ia harus memiliki kesempatan untuk membangun karier yang diinginkannya,” tambahnya.

Amiera Shifakinanthi: Belajar tentang kekuatan dan disiplin

A woman standing
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Amiera Shifakinanthi, a 16-year-old high school student in Indonesia. 4/2026

Bagi Amiera Shifakinanthi, siswi SMA berusia 16 tahun, ibunya adalah sosok dengan banyak talenta: konsultan sumber daya manusia, pengajar bahasa, penerjemah, sekaligus guru tari dan koreografer. Namun, yang paling berkesan bagi Amiera bukanlah banyaknya peran yang dijalani, melainkan bagaimana ibunya mengelola semuanya dengan penuh dedikasi.

“Ibu saya sangat menginspirasi,” ujar Amiera. “Meski sibuk, beliau selalu hadir dalam hidup saya—di pementasan, kegiatan sekolah dan momen-momen penting.”

“Sebagai ibu, ia sangat perhatian. Tapi sebagai guru, ia pun sangat disiplin. Saya benar-benar mengagumi itu dan ingin menjadi seperti ibu dengan cara saya sendiri.

Ibunya juga menjadi sumber dukungan kuat yang mendorong impian Amiera untuk belajar teknologi lingkungan di Jepang. Ia mengagumi bagaimana sang ibu mampu menyeimbangkan berbagai peran, termasuk saat mengajar tari.

“Sebagai ibu, ia sangat perhatian. Tapi sebagai guru, ia pun sangat disiplin,” tukasnya. “Saya benar-benar mengagumi itu dan ingin menjadi seperti ibu dengan cara saya sendiri.”

Fabian Prapriatna: Rasa terima kasih yang tulus

A man standing
© ILO
© ILO
Fabian Prapriatna, a 21-year-old university student in Indonesia. 4/2026

Bagi Fabian Prapriatna, mahasiswa berusia 21 tahun, satu kata paling tepat untuk menggambarkan sosok ibunya adalah inspiratif. Sang ibu, yang bekerja sebagai asisten operasional di sebuah lembaga internasional, telah menunjukkan bahwa menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan keluarga bukanlah perkara mudah, namun sangat bermakna.

“Saya sangat menghargai ibu saya, juga semua ibu yang bekerja. Saya berterima kasih atas perjuangan mereka,” ujarnya.

“Setiap orang memiliki hak dan tanggung jawab yang sama. Karena itu, kelak saya akan mendukung pasangan saya untuk mengejar kariernya.

Meski memiliki jadwal yang padat, ibunya selalu meluangkan waktu untuk Fabian dan saudaranya—sebuah perhatian yang tidak pernah ia pandang sebelah mata. Teladan itu membentuk pandangannya tentang pentingnya kesetaraan dalam hubungan.

“Setiap orang memiliki hak dan tanggung jawab yang sama,” katanya. “Karena itu, kelak saya akan mendukung pasangan saya untuk mengejar kariernya.”

Related content

Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
a woman worker pushed a pickup truck that will be uploaded with palm oil fruits

Proyek

Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)

Relevant projects

Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
a woman worker pushed a pickup truck that will be uploaded with palm oil fruits

Proyek

Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)