Three persons

Dampak kami, suara mereka

Praktik kerja yang lebih aman mulai mengakar di perkebunan kopi Indonesia di Lampung

Solusi sederhana, perubahan bertahap dan dukungan lokal membantu para petani kopi di Lampung, Indonesia, bekerja dengan lebih aman melalui program yang didukung oleh ILO dan Nestlé Indonesia.

9 Oktober 2026

Members of the Kembang Kopi Women Farmers Group in Talang Jawa Village, Tanggamus Regency, discuss the occupational safety and health (OSH) checklist. © I Gede Setiyana/ILO
Content also available in: English

TANGGAMUS, Lampung, Indonesia (Berita ILO) - Di berbagai komunitas penghasil kopi di Tanggamus, Lampung, perubahan sederhana mulai membentuk cara kerja yang lebih aman. Para petani kini belajar menyimpan peralatan tajam dan bahan kimia secara lebih aman, menggunakan alat pelindung diri, serta menerapkan berbagai perbaikan praktis di lahan pertanian mereka.

Praktik-praktik tersebut diperkenalkan melalui program pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang didukung oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Nestlé Indonesia melalui proyek Vision Zero Fund (VZF). Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau 161 petani kopi di Kabupaten Tanggamus, membantu mereka menerapkan praktik kerja yang lebih aman dalam kegiatan sehari-hari.

Pelatihan ini diselenggarakan melalui Sekolah Lapangan K3 bagi Petani selama periode lima bulan, mulai dari akhir Desember 2025 hingga pertengahan Mei 2026. Pelatihan tersebut dipandu oleh 10 petani-pelatih lokal yang telah menyelesaikan program Peningkatan Kerja dalam Pembangunan Lingkungan (WIND) dari ILO pada bulan Februari 2025. WIND merupakan pendekatan pelatihan yang praktis, partisipatif, dan berorientasi pada tindakan, yang dirancang untuk membantu petani serta pekerja di pedesaan meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan kondisi kerja mereka melalui solusi sederhana dan berbiaya rendah dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lokal.

Melalui kerja sama dengan para petani-pelatih ICS yang merupakan anggota tepercaya di komunitas mereka, kami dapat menerjemahkan konsep-konsep teknis menjadi pesan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para petani.

Varotama Putra, salah satu ahli agronomi yang mengawasi tim ICS dalam pelaksanaan pelatihan sekaligus memantau penerapan praktik kerja yang lebih aman di tingkat kebun

Para pelatih tersebut juga merupakan bagian dari tim Pelatih Petani untuk Sistem Pengendalian Internal (Internal Control System/ICS) Nestlé di bawah naungan Kelompok Usaha Bersama (KUB). Sebagai anggota komunitas setempat, mereka dipilih dan ditugaskan untuk meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada para petani kopi di wilayah masing-masing.

Varotama Putra, salah satu ahli agronomi yang mengawasi tim ICS dalam pelaksanaan pelatihan sekaligus memantau penerapan praktik kerja yang lebih aman di tingkat kebun, mengakui bahwa memperkenalkan konsep K3 kepada komunitas petani kopi memiliki tantangan tersendiri. Banyak risiko kerja masih dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan sehari-hari di kebun.

“Melalui kerja sama dengan para petani-pelatih ICS yang merupakan anggota tepercaya di komunitas mereka, kami dapat menerjemahkan konsep-konsep teknis menjadi pesan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para petani. Ditambah dengan pengingat rutin dari para petani-pelatih ICS, pendekatan ini membantu membangun kesadaran mengenai bahaya di tempat kerja sekaligus mendorong penerapan praktik yang lebih aman dalam budidaya kopi,” ujar Varotama.

Sebagai bagian dari program, para petani menggunakan daftar periksa K3 untuk menilai kondisi di rumah dan lahan pertanian mereka. Daftar tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari penanganan bahan secara aman, tata graha, pengendalian bahaya dan risiko, hingga kesehatan, kesejahteraan dan pengaturan kerja. Berdasarkan hasil penilaian, peserta kemudian menyusun rencana tindak lanjut untuk berbagai perbaikan yang dapat dilakukan dalam jangka waktu dua minggu, tiga bulan dan enam bulan.

Hands on table
© I Gede Setiyana/ILO
© I Gede Setiyana/ILO
Daftar periksa K3 digunakan para petani untuk menilai kondisi di rumah dan lahan pertanian mereka yang perlu ditingkatkan dengan tindakan praktis untuk memastikan tempat kerja yang aman dan sehat.

Mendukung petani untuk berubah langkah demi langkah

A man
© I Gede Setiyana/ILO
© I Gede Setiyana/ILO
Henky Fernando memfasilitasi sesi pelatihan K3 bagi tiga kelompok tani di Tanggamus, Lampung, Indonesia.

Salah satu petani-pelatih yang menjalankan pendekatan tersebut adalah Henky Fernando. Ia memfasilitasi pelatihan K3 bagi tiga kelompok tani yang mencakup sekitar 50 petani. Namun, perannya tidak berhenti ketika sesi pelatihan selesai. Henky terus mengunjungi para petani untuk memberikan pembinaan dan pendampingan saat mereka mulai menerapkan rencana tindak lanjut yang telah disusun.

Menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya K3 tidak selalu mudah. Pada awalnya, Henky menemukan bahwa sebagian petani belum melihat cara penyimpanan peralatan tajam dan bahan kimia, seperti pestisida, sebagai persoalan keselamatan. Peralatan dan bahan kimia kerap disimpan berdekatan tanpa label yang memadai. Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot, topi dan sarung tangan juga belum menjadi kebiasaan. Sebagian petani, misalnya, masih memilih mengenakan sandal dan bekerja tanpa sarung tangan di kebun.

Yang terpenting adalah para petani dapat mengidentifikasi risiko di lingkungan kerja mereka sendiri dan menemukan solusi praktis yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kristina Kurths, Manajer Proyek ILO Vision Zero Fund Indonesia

Alih-alih mengharapkan semua kebiasaan tersebut berubah sekaligus, Henky memilih pendekatan personal dan mendorong petani melakukan perbaikan secara bertahap. Melalui kunjungan rutin, ia memantau perkembangan rencana tindak lanjut sekaligus membantu petani menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang mereka miliki.

“Pendampingan dan pembinaan secara langsung merupakan kunci untuk membantu petani melakukan perbaikan dan merasakan sendiri manfaatnya,” ujarnya. “Seperti menerbangkan layang-layang, kita tidak bisa memaksa petani untuk berubah seketika. Perubahan harus terjadi secara bertahap.”

“Yang terpenting adalah para petani dapat mengidentifikasi risiko di lingkungan kerja mereka sendiri dan menemukan solusi praktis yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Perbaikan kecil dan berbiaya rendah ini dapat memberikan dampak nyata dalam menjadikan pekerjaan sehari-hari lebih aman dan sehat,” ujar Kristina Kurths, Manajer Proyek ILO Vision Zero Fund Indonesia.

Salah satu kelompok yang dilatih dan didampingi Henky adalah Kelompok Wanita Tani Kembang Kopi di Desa Talang Jawa, Kabupaten Tanggamus. Dipimpin oleh petani kopi Erni Widianingsih, kelompok tersebut beranggotakan 18 perempuan.

Henky melihat perkembangan yang menggembirakan di antara para anggotanya. Setelah mengikuti dua sesi pelatihan yang dilanjutkan dengan pendampingan, sebagian besar anggota mulai menerapkan berbagai perbaikan K3 di rumah maupun lahan pertanian mereka. Meski demikian, beberapa anggota masih membutuhkan waktu untuk menjalankan rencana tindak lanjut karena harus membagi waktu dengan tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan.

“Saya sangat senang melihat kemajuan yang telah mereka capai,” ujar Henky. “Melalui pembinaan dan pendampingan langsung, kita dapat melihat apa yang sudah berjalan dengan baik, apa yang masih perlu diperbaiki, serta bagaimana kita dapat mendukung mereka. Saya sangat mengapresiasi komitmen mereka untuk melakukan perubahan.”

Perbaikan kecil yang membawa perubahan

A person
© I Gede Setiyana/ILO
© I Gede Setiyana/ILO
Iis Sartika, petani kopi perempuan di Tanggamus, Lampung, Indonesia.

Salah satu anggota Kembang Kopi yang mulai menerapkan pengetahuan dari pelatihan adalah Iis Sartika (35). Dengan dukungan suaminya, ia melakukan sejumlah perubahan sederhana untuk membuat rumah dan kebun mereka lebih aman. Setelah memahami pentingnya menyimpan peralatan tajam dengan aman, Iis dan suaminya membuat kotak kayu bertutup untuk menyimpan parang dan peralatan pertanian tajam lainnya. Kotak tersebut ditempatkan di lokasi yang tidak mudah dijangkau sehingga membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih aman bagi kedua anak mereka.

Perubahan juga dilakukan pada peralatan sederhana yang biasa digunakan untuk mengeringkan biji kopi. Sebelumnya, gagang alat yang terlalu pendek membuat Iis dan suaminya harus berulang kali membungkuk ketika menebar dan membalik biji kopi. Suaminya kemudian memperpanjang gagang tersebut agar sesuai dengan tinggi badan mereka sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan posisi tubuh yang lebih nyaman.

Dulu, saat menggunakan alat yang pendek, tubuh saya selalu terasa pegal setelah mengeringkan kopi. Sekarang, karena alatnya sudah disesuaikan dengan tinggi badan saya, saya tidak lagi merasa terlalu lelah atau pegal setelah bekerja.

Iis Sartika, petani kopi perempuan

Di kebun kopi seluas 0,5 hektare yang mereka kelola sendiri, pasangan tersebut juga melakukan sejumlah perbaikan sederhana lainnya. Mereka membuat tempat cuci tangan dari ember bertutup dengan lubang kecil sebagai saluran air. Tempat berteduh di kebun pun dibenahi, dari bangunan sementara beratap plastik menjadi tempat yang lebih layak sehingga mereka dapat beristirahat dengan lebih nyaman di sela-sela pekerjaan.

Bagi Iis, berbagai perubahan tersebut semula terasa seperti pekerjaan besar. “Saat mengikuti pelatihan, saya merasa ada begitu banyak hal yang harus dilakukan dan diperbaiki. Saya sempat bertanya-tanya apakah semua itu dapat dilakukan. Saya juga banyak bertanya tentang K3 karena sebelumnya saya belum pernah mendengarnya,” kenangnya.

Namun, dengan menjalankan daftar periksa secara bertahap dan memprioritaskan perbaikan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka, Iis dan suaminya menemukan bahwa menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman tidak selalu membutuhkan perubahan yang rumit ataupun biaya besar.

Related content

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
a coffee farmer harvesting coffee beans in Vietnam

Vision Zero Fund

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia

Relevant projects

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
a coffee farmer harvesting coffee beans in Vietnam

Vision Zero Fund

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia