Dampak kami, suara mereka
Perjalanan Inspiratif Seorang Perempuan Muda dalam Mempromosikan Inklusivitas dan Perempuan dalam STEM
Kecintaannya pada teknologi dan tekadnya untuk mempromosikan inklusivitas telah mendorong Hastu Wijayasri mendobrak beragam hambatan sebagai seorang perempuan dalam STEM (sains, teknologi, teknik dan matematika) dan sebagai seorang penyandang disabilitas. Dia aktif membagikan perjalanan hidupnya sebagai inspirasi.
20 Februari 2020
Hastu Wijayasri
Dia tidak menyerah ketika orangtuanya yang ‘buta teknologi' tidak mampu membelikan komputer. Ia tetap bertekad belajar komputer. Ketika tahu pamannya memiliki komputer, ia pun pergi ke rumahnya setiap minggu untuk mengenal komputer lebih dekat.Saya suka teknologi sejak masih kecil. Saya sangat terpesona dengan internet dan penasaran bagaimana komputer dan internet bekerja. Saya bahkan tidak tahu waktu itu kalau teknologi bisa menjadi pilihan karier,” kisah Hastu mengingat ketertarikan pertamanya dengan komputer."
Kilas ke depan, dan Hastu yang berusia 22 tahun kini seorang mahasiswi teknik informasi di Universitas Islam Sunan Kalijaga (UIN) Yogyakarta dan telah dikenal sebagai pengembang aplikasi muda di Wonder Koding, komunitas pengembang tuna rungu. Terlepas dari minatnya terhadap teknologi, dia sempat berpikir tidak mungkin menjadi seorang pengembang aplikasi karena gangguan pendengarannya.
Namun, ketika bergabung dengan Klub Mahasiswa Pengembang Google Indonesia, ia mendalami teknologi Android. Bersama dengan mitra kerjanya, ia kemudian mengembangkan aplikasi bernama Sukacare untuk membantu menghubungkan tuna netra dengan dengan sukarelawa yang bisa melihat.
Kerja keras dan dedikasinya membuahkan hasil dengan undangan untuk menghadiri acara Google I/O tahun lalu, sebuah konferensi pengembang tahunan yang diadakan di California, AS, untuk memperkenalkan aplikasinya kepada para pengembang dari seluruh dunia. Ia merupakan orang Indonesia dan pengembang tuli pertama yang diundang ke acara bergengsi ini.Saya harus belajar dan bekerja empat kali lebih keras karena menjadi satu-satunya siswa tuli di klub tersebut. Namun, saya menantang diri untuk terus belajar dan berpikir positif."
“Saya harus belajar dan bekerja empat kali lebih keras karena menjadi satu-satunya siswa tuli di klub tersebut. Namun, saya menantang diri untuk terus belajar dan berpikir positif,” ujarnya dalam bahasa isyarat.
Di masa depan, dia akan terus meningkatkan aplikasi untuk membantu memfasilitasi orang-orang dengan gangguan penglihatan dan bicara. “Saya suka koding. Saya bercita-cita untuk melanjutkan studi dan memulai usaha sendiri di masa depan,” tukasnya sambil tersenyum.
Untuk terus menginspirasi lebih banyak perempuan agar terlibat dalam bidang STEM (sains, teknologi, teknik dan matematika) dan para penyandang disabilitas agar menjadi lebih inklusif, Hastu pun aktif menjadi pembicara dan berbagi perjalanan hidup serta minatnya. Ia telah terlibat dalam berbagai kegiatan ILO terkait dengan pemberdayaan perempuan dalam STEM dan promosi kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas.
“Masyarakat kita masih belum memahami tentang perempuan dalam STEM. Bidang terkait STEM masih dianggap sebagai pekerjaan laki-laki dan tidak cocok dengan dunia perempuan. Untuk itu kita perlu mendidik guru dan orangtua tentang STEM. STEM tidak hanya untuk anak laki-laki, tetapi juga untuk anak perempuan. Kami memiliki pilihan sebagai individu,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia merasa beruntung dengan dukungan penuh dari keluarganya untuk mengejar karier di bidang terkait STEM.
Dia juga menekankan peluang besar yang dibawa kemajuan teknologi bagi kehidupan para penyandang disabilitas, termasuk peluang kerja. “Teknologi memberikan kami lebih banyak peluang dan kesempatan. Kami hanya harus membuka diri untuk semua kemungkinan tersebut,” pungkasnya.Teknologi memberikan kami lebih banyak peluang dan kesempatan. Kami hanya harus membuka diri untuk semua kemungkinan tersebut."
Hastu merupakan salah seorang pembicara bincang-bincang interaktif ILO tentang inklusivitas yang berjudul “Pekerjaan Masa Depan, Tidak Seorangpun Tertinggal” tahun lalu, yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang bagaimana teknologi dapat memberikan peluang lebih besar bagi para penyandang disabilitas. Ia juga menjadi salah seorang pembicara pada diskusi interaktif ILO baru-baru ini pada bulan Februari bertajuk “Perempuan dan Pekerjaan Masa Depan: Aspirasi Perempuan dalam STEM,” yang mempromosikan partisipasi perempuan yang lebih besar dalam bidang terkait STEM.